Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pidato di UNGA, Trump Kembali Ancam Lenyapkan Iran

4 min read
Pidato di UNGA, Trump Kembali Ancam Lenyapkan Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpidato di General Assembly Hall PBB di New York, Amerika Serikat (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Donald Trump mengancam Iran dalam pidato UNGA, sembari menyebut kesepakatan masih dapat memungkinkan negara itu membangun kembali.

  • Trump mengklaim operasi militer AS menghancurkan program nuklir Iran dan menyoroti pengembangan rudal serta drone.

  • Utusan AS dan pejabat Iran bertemu sekitar tiga jam di sela Sidang Umum PBB melalui mediator.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, jalur mana yang perlu ditempuh AS dan Iran?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) di New York, Selasa (22/9/2026). Trump mengatakan Tehran harus memilih antara mencapai kesepakatan atau menghadapi kemungkinan kehancuran lebih lanjut.

Trump menyebut dirinya berada di persimpangan dalam menentukan langkah berikutnya terhadap Iran. Ia mengatakan masih membuka peluang bagi kesepakatan yang memungkinkan Iran membangun kembali negaranya, tetapi pada saat yang sama mengancam akan melenyapkan Republik Islam tersebut jika tidak ada penyelesaian.

“Saya punya keputusan besar yang harus dibuat. Apakah akan ada kesepakatan dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih besar dari sebelumnya, mungkin menjadi salah satu negara terbesar di Timur Tengah atau bahkan dunia. Atau apakah saya melenyapkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang serta negara lagi?” ujar Trump, dalam pidatonya di General Debate UNGA.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika perang AS dan Iran telah berlangsung hampir tujuh bulan. Dalam pidatonya, Trump sekaligus membela keputusan Washington untuk memulai operasi militer terhadap Iran dan menegaskan bahwa dirinya tidak ingin membiarkan ancaman berkembang lebih jauh.

  1. 1. Trump klaim program nuklir Iran telah dihancurkan

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah menyampaikan pidato virtual di SU PBB (Dokumentasi United Nations)
    Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah menyampaikan pidato virtual di SU PBB (Dokumentasi United Nations)

    Trump kembali mengatakan operasi militer AS pada Juni tahun lalu telah menghancurkan program nuklir Iran. Ia menyebut fasilitas nuklir Iran yang berada di bawah pegunungan telah dihantam dan dilenyapkan oleh militer AS.

    “Militer AS melenyapkan program nuklir mereka di bawah gunung-gunung yang tertutup reruntuhan,” kata Trump.

    Namun, Trump mengatakan Iran kemudian terus mengembangkan rudal dan drone. Menurut dia, persenjataan tersebut mengancam keamanan personel militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah serta negara-negara lain di wilayah tersebut.

    Trump menjadikan ancaman nuklir Iran sebagai salah satu alasan utama untuk mempertahankan kebijakan militernya terhadap Tehran. Dalam pidatonya, ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak tertarik membiarkan bahaya berkembang dan baru menghadapinya di kemudian hari.

    “Saya tidak tertarik meninggalkan bahaya untuk berkembang di kemudian hari,” ujar Trump.

    Trump juga mengatakan Iran harus sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz dan kembali ke meja perundingan untuk mencari penyelesaian yang dapat mengakhiri konflik.

  2. 2. Trump soroti Hamas dan penindakan protes di Iran

    Donald Trump
    Donald Trump (commons.wikimedia.org/Ali Shaker)

    Dalam pidatonya, Trump turut menyoroti dukungan Iran terhadap Hamas. Ia menyebut kelompok tersebut sebagai teroris yang didanai Iran dan mengaitkannya dengan serangan 7 Oktober 2023 terhadap Israel.

    Trump mengatakan serangan tersebut menewaskan sekitar 1.200 warga sipil, termasuk puluhan warga Amerika. Ia juga menuduh pemimpin tertinggi Iran merayakan serangan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk pengabdian kepada kemanusiaan.

    Selain Hamas, Trump menyinggung penindakan pemerintah Iran terhadap demonstrasi yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Ia mengklaim pemerintah Iran telah membantai lebih dari 72 ribu warganya karena melakukan aksi protes.

    Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah estimasi yang tersedia. Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS, misalnya, memperkirakan sekitar 7.000 orang tewas selama demonstrasi dan lebih dari 50 ribu warga Iran ditangkap karena melakukan protes.

    Trump menggambarkan pemerintah Iran sebagai rezim yang bertindak keras bukan karena kuat, melainkan karena lemah dan terdesak. Sebagian besar delegasi Iran kemudian meninggalkan ruang sidang ketika Trump menyampaikan kritik terhadap Republik Islam.

  3. 3. Trump dan Iran masih buka jalur diplomasi

    Donald Trump sedang berpidato.
    potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Michael Vadon)

    Meski menyampaikan ancaman keras dalam pidatonya, Trump juga mengatakan jalur diplomasi dengan Iran masih terbuka, seperti dikutip dari NBC News. Pada hari yang sama, ia mengungkapkan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner bertemu dengan pejabat Iran selama sekitar tiga jam di sela-sela Sidang Umum PBB.

    Trump menyebut pertemuan tersebut “sangat baik”, meski mengatakan pejabat Iran yang hadir bukan berasal dari tingkat pemerintahan tertinggi. Witkoff kemudian mengatakan pembicaraan berlangsung melalui mediator yang berpindah antara delegasi AS dan Iran.

    “Kami berharap upaya ini akan terbukti konstruktif dan menjanjikan,” tulis Witkoff melalui X.

    Pertemuan tersebut menjadi perkembangan diplomatik setelah komunikasi AS-Iran disebut mengalami kebuntuan selama berbulan-bulan. Sebelumnya, negosiator kedua negara juga melakukan pembicaraan tidak langsung dengan bantuan Qatar dan Pakistan.

    Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Trump terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian selama berada di New York. Menurut Rubio, pertemuan dengan pihak lain tidak berarti kedua negara akan menyepakati seluruh hal, tetapi komunikasi diperlukan untuk mencari penyelesaian.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More