Polisi Austria Temukan Racun Tikus pada Makanan Siap Saji Bayi

- Polisi Austria menemukan racun tikus dalam makanan bayi merek HiPP, memicu penarikan besar-besaran oleh jaringan ritel SPAR di lebih dari 1.500 toko di seluruh Austria.
- Penyelidikan lintas negara dilakukan setelah laboratorium memastikan adanya racun bromadiolone pada stoples makanan bayi, dengan dugaan sabotase dan pemerasan terhadap perusahaan makanan besar.
- Racun bromadiolone dapat menyebabkan pendarahan organ vital pada bayi; pemerintah mengimbau orang tua memeriksa segel produk dan segera melapor jika menemukan tanda kerusakan atau gejala mencurigakan.
Jakarta, IDN Times - Polisi Austria mengonfirmasi temuan racun tikus pada makanan bayi merek HiPP pada Sabtu (18/4/2026). Temuan ini bermula dari laporan konsumen yang mencurigai produk yang dibelinya.
Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya zat berbahaya dalam makanan tersebut. Sebagai langkah pencegahan, produsen dan jaringan ritel SPAR segera menarik produk ini dari ribuan supermarket di Austria akhir pekan lalu. Polisi kini menyelidiki kasus tersebut sebagai dugaan tindak sabotase dan pemerasan internasional.
1. Penarikan produk makanan bayi HiPP dari toko
Jaringan ritel SPAR Austria menarik seluruh makanan bayi HiPP dari rak toko untuk merespons temuan zat berbahaya tersebut. Pihak HiPP mengumumkan kemungkinan masuknya zat berbahaya ke dalam produk akibat tindakan pihak luar. Penarikan ini secara khusus menyasar kemasan stoples kaca 190 gram untuk bayi usia lima bulan di lebih dari 1.500 toko SPAR, EUROSPAR, INTERSPAR, dan Maximarkt di seluruh Austria.
SPAR bekerja sama dengan kepolisian dan produsen untuk memastikan produk terkait ditarik dari peredaran. Pembeli diimbau untuk tidak memberikan makanan tersebut kepada bayi dan mengembalikannya ke toko terdekat guna mendapatkan pengembalian dana penuh. Keselamatan pelanggan menjadi prioritas utama dalam langkah ini.
"Penarikan ini adalah langkah pencegahan di 1.500 gerai kami di Austria, dan tidak berdampak pada cabang di luar negeri," kata juru bicara SPAR, dilansir Business Today.
Perwakilan manajemen HiPP menjelaskan bahwa insiden ini diduga kuat merupakan tindak pidana dari pihak luar, bukan kelalaian pabrik. Mereka memastikan setiap produk yang keluar dari fasilitas produksi selalu melewati kontrol kualitas yang sesuai dengan standar pangan bayi.
"Sejauh yang kami tahu, masalah ini murni karena campur tangan pihak luar yang menargetkan jalur distribusi SPAR di Austria," kata perwakilan manajemen HiPP, dilansir The Guardian.
Selain di Austria, jaringan toko di Republik Ceko dan Slowakia juga turut menarik produk HiPP sebagai langkah antisipasi. Kepolisian dan perusahaan saat ini sedang memeriksa catatan distribusi untuk melacak waktu dan lokasi terjadinya sabotase.
"Proses produksi dan kualitas di pabrik kami aman. Kejadian ini tidak berkaitan dengan masalah produksi internal kami," kata juru bicara HiPP.
2. Polisi Burgenland temukan racun tikus di stoples makanan bayi
Polisi di wilayah Burgenland memimpin penyelidikan usai menerima laporan warga yang menemukan kejanggalan pada stoples makanan bayi. Petugas menyita stoples 190 gram yang isinya diduga telah dimodifikasi di distrik Eisenstadt-Umgebung. Hasil uji laboratorium memastikan bahwa makanan bayi tersebut positif mengandung racun tikus.
"Sampel dari stoples makanan bayi rasa wortel dan kentang ukuran 190 gram yang dilaporkan pelanggan sudah diuji, dan hasilnya positif mengandung racun tikus," kata Kepolisian Burgenland, dilansir Channel News Asia.
Investigasi ini melibatkan kepolisian dari Austria, Jerman, Republik Ceko, dan Slowakia. Polisi menduga kasus ini adalah bagian dari skema pemerasan terhadap perusahaan makanan berskala besar. Beberapa stoples yang disita di negara tetangga juga tengah diperiksa lebih lanjut di laboratorium.
Polisi tengah memeriksa rekaman CCTV di gerai-gerai SPAR untuk melacak individu yang menempelkan label palsu atau menukar stoples di rak. Polisi juga membuka layanan pengaduan bagi masyarakat yang melihat aktivitas mencurigakan. Sejauh ini, belum ada laporan mengenai bayi yang sakit atau meninggal dunia akibat mengonsumsi produk tersebut. Pengamanan di pusat-pusat distribusi pangan terus diperketat dengan menggandeng lembaga perlindungan pangan AGES.
3. Bahaya racun tikus jenis bromadiolone yang ada di makanan bayi
Racun tikus yang ditemukan dalam sampel makanan bayi tersebut diketahui berjenis bromadiolone. Zat ini menghambat proses pembekuan darah dan berisiko memicu pendarahan organ vital pada bayi. Efek racun ini umumnya baru terlihat dua hingga lima hari setelah tertelan. Orang tua diimbau waspada jika anak mengalami gejala seperti gusi berdarah, mimisan, memar tanpa sebab, wajah pucat, lemas, atau terdapat darah pada tinja.
Pemerintah dan kepolisian meminta konsumen mengenali ciri-ciri fisik stoples yang telah dirusak. Tanda utamanya adalah keberadaan stiker putih dengan lingkaran merah di bagian bawah stoples. Konsumen juga diimbau untuk selalu memeriksa segel tutup stoples. Produk yang sudah tidak aman biasanya memiliki tutup yang rusak, longgar, atau tidak berbunyi "klik" saat pertama kali dibuka. Selain itu, isi produk berpotensi mengeluarkan bau tidak sedap atau menyerupai makanan basi.
Jika warga tidak sengaja menyentuh stoples tersebut, mereka diinstruksikan untuk segera mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal selama 30 detik. Jika anak telanjur mengonsumsinya, segera bawa ke fasilitas kesehatan beserta stoples tersebut sebagai bukti medis. Kondisi keracunan ini dapat ditangani secara medis, salah satunya melalui pemberian vitamin K dosis tinggi. Stoples yang dicurigai sebaiknya tidak dibuang ke tempat sampah, melainkan diserahkan kepada pihak kepolisian sebagai barang bukti.


















