Pada hari yang sama, serangan drone dilaporkan menghantam pom bensin di El Obeid, Ibu Kota Negara Bagian Kordofan Utara. Pada Jumat (5/6/2026), serangan serupa juga terjadi di sebuah desa di Kordofan Utara. Namun, hingga saat ini, belum diketahui siapa dalang di balik semua serangan drone tersebut.
Drone Hantam Pasar di Sudan, 11 Orang Tewas

- Serangan drone menghantam pasar di Abu Zaeima, Kordofan Utara, menewaskan 11 orang dan melukai puluhan lainnya, dengan pelaku serangan belum diketahui.
- Serangan tersebut terjadi di tengah perang saudara antara SAF dan RSF yang telah berlangsung sejak 2023 akibat perebutan kekuasaan di Sudan.
- Perang berkepanjangan menyebabkan krisis pangan parah di Sudan karena lahan pertanian rusak dan jutaan warga hanya mampu makan sekali sehari.
Jakarta, IDN Times - Serangan drone dilaporkan menghantam sebuah pasar di Abu Zaeima, kota kecil yang ada di Negara Bagian Kordofan Utara, Sudan, pada Sabtu (6/6/2026). Menurut keterangan organisasi hak asasi manusia (HAM) Emergency Lawyers, serangan tersebut menewaskan 11 orang, sedangkan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
1. Serangan drone terjadi di tengah pertikaian SAF dan RSF

Menurut Emergency Lawyers, serangan drone di Kordofan telah meningkat sepanjang Januari hingga April. Serangan tersebut sering terjadi di Kordofan Utara dan Kordofan Barat. Sudah hampir 70 orang dilaporkan tewas imbas serangan drone di kedua negara bagian tersebut.
Serangan drone di Kordofan Utara dan Kordofan Barat merupakan bagian dari perang saudara Sudan yang terjadi antara angkatan bersenjata Sudan (SAF) dan pasukan paramiliter Sudan Rapid Support Force (RSF). Keduanya dikabarkan sudah terlibat aksi saling serang selama berminggu-minggu di kedua negara bagian tersebut.
2. Perang saudara Sudan sudah berlangsung sejak 2023

Perang saudara di Sudan yang terjadi antara SAF dan RSF sebetulnya sudah berlangsung sejak 2023. Peristiwa ini pertama kali pecah di Negara Bagian Darfur karena perebutan kekuasaan antara SAF dan RSF. Saat itu, SAF mendesak RSF untuk bergabung dengan mereka agar menjadi kekuatan militer yang utuh. Namun, RSF menolak dan bersikukuh ingin mengambil alih kekuasaan di Sudan. Imbasnya, perang saudara antara kedua pihak tidak bisa dielakan.
Dilansir BBC, perang saudara ini akhirnya menjadi konflik yang mengkhawatirkan di seluruh negeri. Sebab, RSF jadi kerap melakukan serangan brutal kepada warga-warga Sudan yang dianggap pro-pemerintah secara membabi buta, terutama yang tinggal di Darfur. Selain itu, RSF juga kerap memperkosa, merampas, dan menghancurkan rumah-rumah mereka.
3. Perang saudara membuat Sudan mengalami krisis pangan

Selain menimbulkan banyak korban, perang saudara juga membuat Sudan mengalami krisis pangan. Bahkan, berdasarkan investigas organisasi kemanusiaan yang terdiri dari Action Against Hunger, CARE International, International Rescue Committee, Mercy Corps, dan Norwegian Refugee Council, krisis pangan di Sudan imbas perang saudara kini makin akut. Saking parahnya, jutaan orang di sana hanya bisa makan sekali dalam sehari.
Perang saudara ini membuat banyak lahan pertanian di Sudan hancur. Sebab, kelompok pemberontak yang berasal dari RSF kerap membasmi lahan pertanian yang ada di sana. Selain itu, perang saudara juga memaksa banyak warga Sudan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Ketika mengungsi, mereka meninggalkan lahan pertanian yang seharusnya bisa menjadi sumber pangan bagi warga.


















