Populasi Rusa Capai Rekor, Taman Nara Jepang Soroti Dampak Ekosistem

- Populasi rusa liar di Taman Nara mencapai rekor 1.687 ekor, hasil sensus menunjukkan peningkatan signifikan sejak 1953 dengan mayoritas betina dan anak rusa.
- Pemberian makanan tidak resmi oleh wisatawan mempercepat reproduksi rusa, sementara sampah plastik dari turis menyebabkan kematian satwa akibat tertelan benda berbahaya.
- Kepadatan populasi membuat rusa bermigrasi ke luar taman, menimbulkan gangguan di permukiman warga serta kerusakan pada kebun dan tanaman pertanian sekitar.
Jakarta, IDN Times - Yayasan Pelestarian Rusa Nara mengumumkan populasi rusa liar di Taman Nara, Jepang, mencapai rekor tertinggi sebanyak 1.687 ekor pada Kamis (16/7/2026). Jumlah satwa yang dilindungi ini meningkat pesat akibat tingginya angka kelahiran.
Pertumbuhan populasi yang cepat tersebut mulai menarik perhatian serius dari otoritas setempat. Kondisi ini dinilai dapat mengganggu keseimbangan ekosistem serta meningkatkan interaksi negatif antara rusa dan warga di sekitar taman.
1. Hasil sensus populasi rusa

Sensus visual selama dua hari yang melibatkan sekitar 40 relawan menunjukkan populasi rusa menyentuh angka tertinggi sejak perhitungan dimulai pada 1953. Saat ini, jumlah tersebut terdiri dari 411 rusa jantan, 990 rusa betina, dan 286 anak rusa.
Total satwa tersebut bertambah sebanyak 222 ekor dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, tercatat ada 198 ekor rusa yang mati dalam setahun terakhir hingga akhir Juni 2026, dengan kecelakaan lalu lintas sebagai penyebab utamanya.
"Anak rusa sering kali berlari mendadak ke jalan karena mengikuti induknya," kata Sekretaris Jenderal Yayasan Pelestarian Rusa Nara, Nobuyuki Yamazaki, dikutip dari The Standard.
2. Dampak pemberian makanan oleh wisatawan

Pihak pengelola menjelaskan bahwa lonjakan populasi ini sangat dipengaruhi oleh pemberian makanan tidak resmi oleh pengunjung. Padahal, wisatawan hanya diizinkan memberi biskuit khusus tanpa gula yang dijual di lokasi.
Banyak turis melanggar aturan dengan memberikan sayuran segar hingga sisa makanan rumah tangga. Asupan nutrisi tambahan ini memicu peningkatan tingkat kehamilan rusa betina secara drastis.
"Konsumsi biskuit rusa yang meningkat terus-menerus membuat reproduksi satwa ini menjadi lebih aktif," ujar Nobuyuki Yamazaki.
Selain mengubah pola reproduksi, kebiasaan membuang sampah sembarangan juga mengancam keselamatan satwa. Banyak kasus menemukan rusa mati akibat tidak sengaja menelan kantong plastik atau kemasan makanan yang dibuang turis.
3. Gangguan rusa di luar kawasan taman

Kepadatan di dalam taman memaksa kawanan rusa bermigrasi untuk mencari wilayah baru. Satwa liar ini kini semakin sering terlihat berkeliaran di jalan raya, permukiman padat penduduk, hingga stasiun kereta api.
Kondisi tersebut memicu keluhan warga karena rusa mulai merusak kebun pribadi dan memakan tanaman pertanian seperti ubi jalar, edamame, serta daun kesemek. Jaring pelindung yang dipasang warga bahkan sering kali tidak mampu menghalau hewan tersebut.
"Saat rusa betina keluar dari taman, mereka berkumpul dengan rusa jantan di luar dan membentuk kelompok baru," ungkap Wakil Ketua Yayasan Pelestarian Rusa Nara, Yasuhiro Nakanishi.






















