Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Prancis-Jerman Akhiri Ambisi Jet Tempur Masa Depan Eropa

Prancis-Jerman Akhiri Ambisi Jet Tempur Masa Depan Eropa
ilustrasi pangkalan militer (pexels.com/Nikolai Ulltang)
Intinya Sih
  • Prancis dan Jerman resmi menghentikan proyek jet tempur generasi baru FCAS senilai 100 miliar euro, menandai kemunduran besar dalam upaya integrasi pertahanan Eropa.
  • Perselisihan antara Dassault Aviation dan Airbus soal kendali teknologi serta perbedaan kebutuhan militer menjadi penyebab utama gagalnya kolaborasi kedua negara.
  • Kedua pemerintah berencana menyusun kerangka kerja sama baru yang lebih realistis untuk memperkuat sistem pertahanan Eropa di tengah ketegangan geopolitik kawasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Upaya memperkuat kerja sama pertahanan Eropa menghadapi kemunduran setelah Prancis dan Jerman pada Senin (8/6/2026) resmi menghentikan proyek pengembangan jet tempur generasi berikutnya. Keputusan tersebut menjadi pukulan bagi agenda integrasi militer yang selama ini didorong kedua negara.

Program Future Combat Air System (FCAS) diperkenalkan pada 2017 oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan eks Kanselir Jerman Angela Merkel. Rancangan itu ditujukan untuk menghadirkan pesawat tempur baru sekitar 2040 sebagai pengganti armada Rafale milik Prancis serta Eurofighter Typhoon yang digunakan Jerman dan Spanyol. Proyek bernilai 100 miliar euro (setara Rp2.093 triliun) tersebut juga mencakup pengembangan drone dan sistem combat data cloud dengan tingkat keamanan tinggi.

1. Macron-Merz menilai kerja sama sulit dilanjutkan

Presiden Prancis, Emmanuel Macron (Пресс-служба Президента Российской Федерации, This file is licensed under the Creative Commons Attribution 4.0 International license, via Wikimedia Commons)
Presiden Prancis, Emmanuel Macron (Пресс-служба Президента Российской Федерации, This file is licensed under the Creative Commons Attribution 4.0 International license, via Wikimedia Commons)

Keputusan penghentian proyek diambil setelah Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz menyimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan yang terlibat tak mampu menyatukan kepentingan masing-masing. Mengutip kantor berita Agence France-Presse (AFP), seorang pejabat Jerman menyatakan kedua pemimpin akhirnya menerima kondisi tersebut.

Macron dan Merz menyampaikan penyesalan atas kegagalan para mitra industri mempertahankan kolaborasi. Pejabat Istana Élysée mengonfirmasi bahwa keduanya telah membahas FCAS secara mendalam karena proyek itu dipandang penting bagi masa depan pertahanan Eropa. Meski demikian, Prancis disebut tetap akan mendorong perusahaan dan militernya untuk melanjutkan proyek-proyek Eropa lain yang dinilai ambisius demi kepentingan keamanan nasional.

2. Perselisihan industri memicu perbedaan kebutuhan

ilustrasi jet tempur (pexels.com/pexels.com/Emrah Aslantepe)
ilustrasi jet tempur (pexels.com/pexels.com/Emrah Aslantepe)

Mandeknya FCAS telah lama dibayangi konflik di antara perusahaan yang terlibat. Dilansir The Guardian, Dassault Aviation dari Prancis menuntut kendali penuh atas pengembangan pesawat guna menjaga hak kekayaan intelektualnya dan menolak mekanisme pengelolaan bersama. Sebaliknya, Airbus yang mewakili kepentingan Jerman dan Spanyol menginginkan kemitraan yang lebih seimbang beserta transfer teknologi dalam skala besar.

Selain persoalan korporasi, Prancis dan Jerman juga berbeda pandangan mengenai spesifikasi pesawat yang akan dikembangkan. Perbedaan itu mencakup kemampuan membawa senjata nuklir serta kapasitas operasi dari kapal induk.

Merz sebelumnya mempertanyakan apakah jet tempur generasi keenam berawak masih menjadi pilihan paling tepat bagi Angkatan Udara Jerman. Ia juga menilai kebutuhan militer negara-negara Uni Eropa tak selalu sama. Komitmen publik kedua pemimpin dan upaya mediasi yang dilakukan perwakilan masing-masing negara pada Maret tak mampu menyatukan perbedaan tersebut.

3. Eropa menyusun kerangka kerja sama baru

ilustrasi bendera Uni Eropa (pexels.com/Dušan Cvetanović)
ilustrasi bendera Uni Eropa (pexels.com/Dušan Cvetanović)

Penghentian proyek FCAS terjadi ketika negara-negara Eropa sedang berupaya memperkuat integrasi pertahanan mereka. Langkah itu didorong oleh perang Rusia di Ukraina yang telah memasuki tahun kelima serta ketidakpastian terkait komitmen keamanan jangka panjang Amerika Serikat.

Meski pengembangan jet tempur dihentikan, sejumlah komponen utama FCAS diperkirakan tetap berlanjut. Sumber pemerintah Jerman menyebut elemen-elemen tersebut justru menjadi inti program karena berfungsi menghubungkan pesawat, drone, dan berbagai aset militer lain dalam satu sistem terintegrasi. Kementerian Pertahanan Prancis dan Jerman kini berencana menyiapkan kerangka kerja sama baru yang berfokus pada proyek-proyek yang dinilai lebih realistis dan relevan.

Ketua Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan di Senat Prancis, Cedric Perrin, menilai Macron merupakan pihak yang selama ini masih memercayai kelangsungan FCAS.

“Semakin cepat keputusan diambil, semakin sedikit waktu yang terbuang untuk bergerak ke tahap berikutnya,” kata Perrin kepada AFP, dikutip France 24.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More