Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

RI Pantau Ketat Situasi Yaman Selatan, Dorong Penyelesaian Damai

Kementerian Luar Negeri RI. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Kementerian Luar Negeri RI. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Intinya sih...
  • Pemerintah Indonesia memantau perkembangan di Yaman selatan dengan hati-hati untuk mencegah eskalasi konflik yang dapat merusak stabilitas kawasan.
  • Indonesia mendukung dialog politik inklusif dan komprehensif sebagai langkah penting dalam mencari solusi damai dan adil terkait situasi di Yaman selatan.
  • Konferensi komprehensif di Riyadh yang diprakarsai oleh Kerajaan Arab Saudi diharapkan dapat menjadi wadah dialog politik yang inklusif dan komprehensif untuk membangun kepercayaan dan meredakan ketegangan di Yaman selatan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Indonesia menyatakan, terus mengikuti secara saksama perkembangan terkini di Republik Yaman, khususnya dinamika yang berlangsung di wilayah Yaman selatan. Indonesia menilai, situasi tersebut perlu disikapi dengan kehati-hatian guna mencegah eskalasi konflik yang dapat memperburuk stabilitas kawasan.

Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri RI menegaskan pentingnya keterlibatan semua pihak secara konstruktif dalam menyikapi perbedaan yang ada.

“Indonesia mengikuti dengan saksama perkembangan terkini di Republik Yaman, khususnya dinamika di Yaman selatan, seraya mendorong semua pihak terkait untuk berpartisipasi secara konstruktif, menahan diri, dan mengedepankan dialog politik yang inklusif dan komprehensif dalam menyelesaikan perbedaan,” demikian pernyataan Kemlu RI di akun X resmi mereka, Rabu (7/1/2026).

Indonesia menekankan, dialog politik yang inklusif dan menyeluruh merupakan langkah krusial untuk mencari solusi yang adil dan damai. Pemerintah Indonesia berpandangan, jika pendekatan tersebut dapat membuka ruang bagi seluruh faksi di Yaman selatan untuk menyampaikan aspirasi dan kepentingannya secara setara.

Sejalan dengan hal tersebut, Indonesia menyambut baik peran Kerajaan Arab Saudi dalam mendorong proses dialog di Yaman selatan. Pemerintah RI menilai, inisiatif tersebut sebagai upaya penting dalam menciptakan jalur komunikasi yang lebih konstruktif antar pihak yang bertikai.

“Dalam rangka mencari solusi yang adil dan damai terkait Yaman selatan, Indonesia menyambut baik upaya Kerajaan Arab Saudi untuk memfasilitasi penyelenggaraan konferensi komprehensif di Riyadh yang akan mempertemukan seluruh faksi yang ada di Yaman selatan,” lanjut pernyataan Kemlu RI.

Indonesia berharap konferensi yang direncanakan berlangsung di Riyadh tersebut, dapat menjadi wadah dialog politik yang inklusif dan komprehensif. Pemerintah Indonesia menilai, pertemuan seluruh faksi di Yaman selatan sebagai langkah penting untuk membangun kepercayaan dan meredakan ketegangan yang ada.

Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendukung upaya penyelesaian konflik di Yaman melalui jalur damai dan dialog politik. Dalam pernyataan itu disampaikan, Indonesia juga mendorong semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan kepentingan perdamaian serta stabilitas bagi masa depan Yaman.

Sebelumnya, empat warga sipil tewas dalam serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi di selatan Yaman, di tengah memanasnya ketegangan politik dan militer antara pemerintah dan kelompok separatis Southern Transitional Council (STC).

STC yang didukung Uni Emirat Arab dalam beberapa pekan terakhir terus memperluas pengaruhnya di wilayah selatan Yaman. Kelompok ini berupaya menghidupkan kembali negara Yaman Selatan yang pernah berdiri sebelum penyatuan Yaman pada 1990.

Ketegangan meningkat setelah STC mengambil alih kendali atas Provinsi Hadhramaut dan Al-Mahrah pada Desember lalu, menyusul bentrokan dengan pasukan pemerintah. Pemerintahan Yaman saat ini dijalankan oleh Dewan Kepemimpinan Presiden yang terdiri dari berbagai faksi, termasuk unsur STC, dan terutama dipersatukan oleh penentangan terhadap kelompok Houthi yang didukung Iran.

Konflik Yaman sendiri telah berlangsung sejak 2014, ketika kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan memaksa pemerintah keluar dari wilayah tersebut. Selain perang melawan Houthi, rivalitas antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait masa depan wilayah selatan Yaman juga kerap memicu ketegangan dan kekerasan sporadis di lapangan.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More

Gibran Tinjau Sekolah Pascabanjir Balangan Kalimantan Selatan

08 Jan 2026, 23:35 WIBNews