Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Penyamaran Ganti Bendera Gagal, Kapal Tanker Rusia Disita AS

Penyamaran Ganti Bendera Gagal, Kapal Tanker Rusia Disita AS
ilustrasi kapal (pexels.com/Alexander Bobrov)
Intinya Sih

  • Operasi penyitaan kapal tanker Rusia dilakukan oleh AS di Atlantik Utara

  • Pejabat AS menjelaskan operasi dan kebijakan sanksi terhadap Venezuela

  • Rusia memprotes penyitaan kapal oleh AS, sementara negara lain memberikan respons berbeda

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) menyita kapal tanker minyak berbendera Rusia bernama Marinera di kawasan Atlantik Utara setelah operasi pengejaran panjang di laut lepas. Aksi ini berlangsung usai pemantauan berminggu-minggu terhadap pergerakan kapal tersebut. Penyitaan dilakukan pada Rabu (7/1/2026) dini hari saat kapal yang sebelumnya bernama Bella 1 mencoba menghindari blokade AS terhadap Venezuela dengan mengganti nama serta bendera sejak sebulan lalu. Selain Marinera, otoritas AS juga mengamankan kapal tanker M/T Sophia yang telah masuk daftar sanksi karena aktivitas terlarang di Laut Karibia.

Dilansir NBC News, penyitaan Marinera dilakukan berdasarkan surat perintah pengadilan federal AS. Kapal tersebut terus dibuntuti oleh USCGC Munro, armada pemotong milik Penjaga Pantai AS (US Coast Guard). Komando Eropa AS kemudian mengonfirmasi operasi itu sebagai respons atas pelanggaran sanksi, dengan dukungan pengawasan udara dan bantuan logistik laut dari Inggris melalui aset Angkatan Laut Kerajaan serta Angkatan Udara Kerajaan (RAF).

1. Pejabat AS menjelaskan operasi dan kebijakan sanksi

ilustrasi bendera Amerika Serikat
ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem menyebut operasi ini sebagai dua penyandaran yang aman dan efektif dalam rentang waktu beberapa jam serta menjadi penyandaran berurutan yang terkoordinasi rapi terhadap dua kapal tanker “ghost fleet”. Ia menjelaskan awak USCGC Munro mengejar Marinera melintasi laut terbuka dan menghadapi badai berbahaya meski kapal tersebut berusaha mengelabui dengan mengganti bendera serta mengecat ulang nama di lambungnya. Noem juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi awak kapal yang dinilainya sebagai tindakan heroik.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menerangkan Marinera diperlakukan sebagai kapal tanpa kewarganegaraan karena mengibarkan bendera palsu. Konsekuensinya, awak kapal dapat dibawa ke AS untuk menjalani proses hukum apabila diperlukan. Leavitt menegaskan Presiden Donald Trump tetap berkomitmen menegakkan embargo terhadap seluruh kapal armada bayangan yang terlibat perdagangan terkena sanksi, meski hubungan pribadinya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin disebut terbuka, jujur, dan baik.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa penyitaan kapal tanker tersebut merupakan bagian dari strategi penstabilan Venezuela.

"Mereka memahami bahwa satu-satunya cara mereka dapat memindahkan minyak dan menghasilkan pendapatan dan tidak mengalami keruntuhan ekonomi adalah jika mereka bekerja sama dan bekerja sama dengan AS," katanya kepada wartawan, dikutip dari BBC.

Rubio juga memaparkan rencana pemerintahan AS yang mencakup tahap penstabilan, pemulihan, hingga transisi.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth melalui unggahan di X menegaskan blokade terhadap minyak Venezuela yang terkena sanksi dan dinilai terlarang tetap diberlakukan sepenuhnya di seluruh dunia. Kebijakan ini diambil setelah pasukan khusus AS berhasil menangkap presiden Venezuela Nicolás Maduro. Langkah tersebut ditujukan untuk membatasi ekspor minyak mentah dari negara itu. Trump sendiri menyebut Venezuela akan menyerahkan antara 30-50 juta barel minyak kepada AS.

Analis pasar minyak Emmanuel Belostrino dari Kpler mengungkap citra satelit dan laporan pelabuhan menunjukkan M/T Sophia membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah jenis Merey yang dimuat dari Terminal Minyak Jose di Venezuela. Komando Selatan AS melaporkan kapal armada bayangan tanpa kewarganegaraan itu ditangkap tanpa hambatan di perairan internasional Laut Karibia. Saat ini, Penjaga Pantai AS mengawal kapal tersebut menuju wilayah AS untuk penanganan lanjutan.

2. Rusia memprotes penyitaan kapal oleh AS

ilustrasi bendera Rusia
ilustrasi bendera Rusia (unsplash.com/Egor Filin)

Pemerintah Rusia melalui Kremlin menuding AS melanggar hukum maritim internasional dengan menyita Marinera. Rusia menyatakan kapal tersebut telah mengantongi izin sementara untuk berlayar di bawah bendera Rusia sejak akhir Desember.

Kementerian Transportasi Rusia menegaskan laut lepas tunduk pada prinsip kebebasan navigasi dan tak ada negara yang berhak menggunakan kekuatan terhadap kapal yang terdaftar sah di bawah yurisdiksi negara lain. Pada saat yang sama, Kementerian Luar Negeri Rusia menuntut agar warga negaranya yang berada di kapal tersebut diperlakukan secara manusiawi dan segera dipulangkan.

3. Perubahan bendera kapal dan respons negara lain

ilusrasi kapal berlayar
ilusrasi kapal berlayar (pexels.com/Tom Fisk)

Dalam beberapa waktu terakhir, setidaknya tiga kapal tanker lain yang masuk daftar sanksi dan beroperasi di sekitar perairan Venezuela juga mengganti bendera menjadi Rusia, berdasarkan data Russian Maritime Register of Shipping. Kapal-kapal itu meliputi Malak yang kini bernama Sintez, Dianchi yang berubah menjadi Expander, serta Veronica yang berganti nama menjadi Galileo. Sebelumnya, ketiganya tercatat berlayar dengan bendera Komoro dan Guyana.

China, sebagai pembeli utama minyak Venezuela, menyampaikan kecaman atas langkah AS dan menilai tindakan tersebut membahayakan keamanan energi global. Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan penyitaan Marinera telah sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional dan menjadi bagian dari upaya bersama di tingkat global untuk menekan pelanggaran sanksi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More