Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rusia Kecam Pembunuhan Putra Mendiang Pemimpin Libya Muammar Khadafi

bendera Rusia (pexels.com/Сергей Велов)
bendera Rusia (pexels.com/Сергей Велов)
Intinya sih...
  • Saif al-Islam tewas ditembak di rumahnya di Zintan, Libya barat pada Selasa (3/2/2026).
  • Diduga dibunuh oleh pihak yang iri pada popularitasnya dan ada kemungkinan aktor asing terlibat.
  • Dianggap sebagai penerus ayahnya, Saif al-Islam ditangkap pada 2011 dan dibebaskan pada 2017 sebelum tinggal di Zintan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Rusia mengecam keras pembunuhan Saif al-Islam Khadafi (Gaddafi), putra kedua mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi pekan ini. Pihaknya menyerukan penyelidikan secara menyeluruh dan transparan untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku.

“Kami mengecam keras kejahatan ini. Sangat penting bahwa penyelidikan menyeluruh dan transparan dilakukan tanpa penundaan, dan mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, pada Rabu (4/2/2026).

Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan teman-teman almarhum.

1. Saif al-Islam tewas ditembak

Saif al-Islam Gaddafi
Saif al-Islam Gaddafi (محمد حسان, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Saif al-Islam dibunuh di rumahnya di kota barat Zintan, Libya barat, pada Selasa (3/2/2026). Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa pria berusia 53 tahun itu meninggal akibat luka tembak.

Tim politik Saif al-Islam mengatakan, empat pria bertopeng menyerbu rumahnya dan mematikan kamera pengawas sebelum kemudian membunuhnya. Ia bahkan disebut sempat terlibat pertarungan langsung dengan para pelaku.

Belum jelas siapa dalang di balik serangan tersebut. Namun, Khaled al-Mishri, mantan kepala Dewan Tinggi Negara yang berbasis di Tripoli, telah menuntut penyelidikan segera dan transparan atas kematiannya, dilansir dari The Guardian.

2. Saif al-Islam diduga dibunuh oleh pihak yang iri pada popularitasnya

mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi
mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi (Ricardo Stuckert/PR, CC BY 3.0 BR <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0/br/deed.en>, via Wikimedia Commons)

Dilansir dari Anadolu, Moussa Ibrahim, mantan juru bicara pemerintah Muammar Gaddafi, mengatakan bahwa Saif al-Islam dibunuh dengan penuh pengkhianatan. Ia mengaku sempat berbicara dengan putra mendiang pemimpin Libya itu 2 hari sebelum kematiannya, dan satu-satunya kekhawatiran pria tersebut adalah stabilitas Libya dan keselamatan rakyatnya.

Menurut jurnalis dan penulis Libya, Abdulkader Assad, Saif al-Islam kemungkinan dibunuh oleh warga setempat yang merasa popularitasnya mengancam pengaruh politik mereka.

“Bisa juga ada aktor asing yang menyingkirkannya karena masa lalunya yang kontroversial,” ujar Abdulkader, dikutip dari BBC.

3. Saif al-Islam dianggap sebagai penerus ayahnya

bendera Libya (pixabay.com/jorono)
bendera Libya (pixabay.com/jorono)

Meskipun tidak memegang jabatan formal di pemerintahan, Saif al-Islam secara luas dipandang sebagai orang nomor dua setelah ayahnya, yang memerintah Libya sejak 1969 sebelum akhirnya digulingkan dan dibunuh dalam pemberontakan pada 2011.

Saif al-Islam ditangkap oleh milisi di Zintan pada akhir 2011 ketika mencoba melarikan diri ke negara tetangga, Niger. Ia menghabiskan 6 tahun di penjara sebelum akhirnya dibebaskan pada 2017 sebagai bagian dari kesepakatan amnesti. Sejak itu, ia tetap tinggal di Zintan.

Para analis memperingatkan bahwa kematian Saif al-Islam berisiko memicu kebangkitan faksi-faksi pro-Gaddafi di Libya.

Saif al-Islam telah lama dipandang sebagai tokoh paling berpengaruh dan ditakuti di negara tersebut setelah ayahnya, yang memerintah Libya dari tahun 1969 hingga digulingkan dan dibunuh dalam pemberontakan pada tahun 2011.

Meski tidak memegang jabatan resmi di pemerintahan, Gaddafi secara luas dipandang sebagai orang kedua setelah ayahnya sejak 2000 hingga pemberontakan 2011 yang mengakhiri 42 tahun kekuasaan Muammar Gaddafi dan berujung pada kematiannya di tangan pasukan oposisi.

Saif al-Islam ditangkap oleh sebuah milisi di Zintan pada akhir 2011 saat ia berusaha melarikan diri ke negara tetangga, Niger, setelah jatuhnya Tripoli. Setelah menghabiskan enam tahun dalam penahanan, ia dibebaskan pada 2017 berdasarkan undang-undang amnesti dan tetap tinggal di Zintan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Pejabat Intelijen Ditembak di Moskow, Rusia Tuding Ukraina Pelakunya

06 Feb 2026, 20:36 WIBNews