Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Seoul Punya Masalah Baru: Trotoar Tak Lagi Nyaman untuk Pejalan Kaki
ilustrasi Seoul, Korea Selatan, pejalan kaki (pexels.com/Theodore Nguyen)
  • Trotoar Seoul semakin padat oleh pejalan kaki, pelari, sepeda, skuter listrik, dan motor pengantar, sehingga aktivitas berjalan membutuhkan kewaspadaan ekstra di kawasan ramai maupun permukiman.
  • Anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan orang tua dengan stroller menghadapi risiko lebih besar, termasuk dari kendaraan melintas serta skuter listrik yang diparkir sembarangan.
  • Keterbatasan jalur mobilitas dan parkir skuter mendorong penggunaan trotoar; Seoul melakukan penertiban dan merencanakan fasilitas khusus, tetapi pemerataan infrastruktur masih menjadi tantangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Berjalan kaki di Seoul mungkin terlihat seperti aktivitas sederhana, tapi pengalaman di trotoar kota tersebut kini gak selalu senyaman dulu. Di sejumlah kawasan ramai, kamu harus lebih sering melihat ke kiri, kanan, bahkan belakang untuk memastikan gak ada kendaraan yang melintas secara tiba-tiba. Sepeda, skuter listrik, motor pengantar barang, hingga pelari kini sama-sama menggunakan ruang yang seharusnya menjadi area nyaman bagi pejalan kaki.

Kondisi ini mungkin terasa seperti gangguan kecil bagi sebagian orang, tapi bisa menjadi risiko serius bagi anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, atau orangtua yang membawa stroller. Masalahnya pun bukan berarti Seoul harus menghilangkan moda transportasi baru, melainkan bagaimana berbagai pengguna jalan bisa berbagi ruang tanpa mengorbankan keselamatan pejalan kaki.

1. Trotoar Seoul makin ramai oleh berbagai pengguna

ilustrasi Seoul, Korea Selatan, pejalan kaki (pexels.com/Theodore Nguyen)

Kalau kamu berjalan di kawasan padat seperti Gwanghwamun, trotoar bisa dipenuhi pekerja kantoran, wisatawan, pelajar, dan warga lokal dalam waktu bersamaan. Di tengah keramaian tersebut, sepeda bisa muncul dari samping, sementara skuter listrik melaju mencari celah di antara pejalan kaki. Situasi serupa juga terlihat di Gangnam-daero yang memiliki trotoar luas, tapi tetap membuat pejalan kaki harus lebih waspada. Pengalaman tersebut membuat aktivitas berjalan kaki yang seharusnya santai berubah menjadi kegiatan yang membutuhkan perhatian ekstra.

Masalahnya gak cuma terjadi di jalan utama. Motor pengantar barang juga dilaporkan naik ke trotoar di gang permukiman, sedangkan jumlah pelari yang menggunakan trotoar pada pagi dan sore hari turut menambah kepadatan. Akhirnya, satu ruang harus digunakan oleh orang yang berjalan, berlari, bersepeda, dan mengendarai kendaraan mobilitas dengan kecepatan berbeda. Bagi kamu yang sedang berjalan santai, kendaraan atau pelari yang muncul dari belakang tentu bisa membuat kaget. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar jumlah orang, tapi juga bagaimana ruang tersebut digunakan bersama.

2. Kelompok rentan paling terdampak

ilustrasi penyandang disabilitas, kursi roda (pexels.com/Jakub Pabis)

Bagi orang yang sehat dan memiliki respons cepat, kendaraan yang melintas di trotoar mungkin hanya terasa mengganggu. Namun, situasinya bisa berbeda bagi anak kecil yang tiba-tiba berubah arah, lansia yang sulit mendengar kendaraan dari belakang, atau orangtua yang mendorong stroller. Mereka gak selalu punya cukup waktu atau ruang untuk menghindari sepeda maupun skuter yang datang mendekat. Karena itu, trotoar yang terasa sedikit merepotkan bagi sebagian orang bisa berubah menjadi persoalan keselamatan bagi kelompok rentan.

Masalah serupa juga muncul ketika skuter listrik ditinggalkan sembarangan. Menurut penelitian dalam jurnal Transport Policy, skuter yang diparkir secara tidak tertib dapat menghambat pergerakan pejalan kaki, terutama kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa persoalan ini semakin terasa di Seoul karena kepadatan kota dan kondisi jalan yang relatif sempit dapat memperparah gangguan pada trotoar.

3. Infrastruktur belum sepenuhnya mengikuti perubahan

ilustrasi Seoul, Korea Selatan, pejalan kaki (pexels.com/Theodore Nguyen)

Seoul memang gak perlu memilih antara mendukung sepeda, skuter listrik, dan menjaga keselamatan pejalan kaki. Sepeda bisa menjadi pilihan transportasi yang lebih ramah lingkungan untuk perjalanan tertentu, sementara skuter listrik dapat membantu perjalanan jarak pendek dari stasiun menuju tujuan akhir. Layanan pengantaran dengan kendaraan roda dua juga sudah menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat perkotaan. Masalah muncul ketika keterbatasan ruang membuat sebagian pengguna kendaraan merasa trotoar menjadi pilihan yang lebih mudah.

Salah satu persoalannya adalah jalur khusus untuk kendaraan mobilitas belum selalu tersedia secara berkesinambungan. Ketika jalur sepeda tiba-tiba berakhir atau pengguna kendaraan harus berbagi jalan dengan kendaraan yang lebih besar, trotoar bisa terlihat sebagai alternatif yang lebih aman bagi mereka. Namun, berpindah ke trotoar sebenarnya gak menghilangkan risiko, melainkan memindahkan risiko tersebut kepada pejalan kaki. Pemerintah Seoul sendiri menilai perlu adanya jaringan jalur sepeda yang lebih luas serta fasilitas transportasi yang bisa membuat berbagai pengguna jalan bergerak dengan lebih aman.

4. Parkir skuter sembarangan bikin trotoar makin sulit

ilustrasi Seoul, Korea Selatan, parkir, skuter, motor, sepeda (pexels.com/Alexander London)

Selain kendaraan yang sedang melaju, skuter yang ditinggalkan sembarangan juga menjadi persoalan tersendiri. Menurut penelitian dalam jurnal Transport Policy, Seoul masih mengalami kekurangan area parkir khusus skuter listrik dan persebarannya gak merata antarwilayah. Penelitian tersebut menemukan bahwa hanya 100 dari 426 wilayah administratif yang dianalisis memiliki fasilitas parkir skuter pada data Oktober 2022. Artinya, lebih dari tiga perempat wilayah yang diteliti belum memiliki area parkir tersebut.

Pemerintah Metropolitan Seoul sebenarnya sudah mencoba mengatasi masalah tersebut melalui penertiban dan penyediaan area parkir khusus. Dalam laporan pemerintah kota, pengaduan terkait parkir ilegal skuter turun sekitar 35 persen pada minggu terakhir periode evaluasi dibandingkan minggu pertama setelah penertiban dimulai. Pemerintah juga mencatat bahwa kasus penarikan skuter paling banyak terjadi di sekitar stasiun subway, disusul kawasan dengan fasilitas komersial dan bisnis. Langkah ini menunjukkan bahwa persoalan parkir bukan sekadar keluhan warga, tapi sudah menjadi bagian dari kebijakan transportasi kota.

5. Seoul perlu ruang yang lebih jelas untuk setiap pengguna

ilustrasi Seoul, Korea Selatan (pexels.com/Nuhyil Ahammed)

Penertiban tentu bisa membantu, tapi belum tentu menyelesaikan akar masalah jika ketersediaan tempat parkir masih terbatas. Penelitian dalam jurnal Transport Policy menunjukkan adanya ketimpangan antara kebutuhan parkir skuter dan jumlah fasilitas yang tersedia di berbagai kawasan Seoul. Studi tersebut juga menilai bahwa kerja sama antara pemerintah dan berbagai pihak menjadi faktor penting untuk membuat sistem parkir skuter berjalan lebih efektif. Jadi, solusinya bukan hanya meminta pengguna lebih tertib, tapi juga memastikan tersedia infrastruktur yang mendukung perilaku tersebut.

Pemerintah Seoul sendiri telah menyatakan rencana untuk membuat area parkir khusus personal mobility, terutama di lokasi dengan penggunaan skuter yang tinggi. Area tersebut direncanakan dengan mempertimbangkan beberapa faktor, termasuk lokasi stasiun subway, halte bus, titik penggunaan sepeda publik, dan jumlah kasus penarikan kendaraan. Di sisi lain, operator penyewaan juga perlu memastikan pengguna gak bisa begitu saja mengakhiri perjalanan dengan meninggalkan skuter di tengah trotoar. Kalau setiap moda transportasi punya ruang yang jelas, kamu sebagai pejalan kaki gak perlu terus-menerus menebak dari arah mana kendaraan akan muncul.

Seoul sebenarnya gak harus meninggalkan sepeda, skuter listrik, atau berbagai moda transportasi baru hanya demi membuat trotoar kembali nyaman. Semua moda tersebut punya manfaat untuk perjalanan masyarakat, terutama ketika digunakan untuk jarak pendek atau menghubungkan perjalanan dengan transportasi umum. Tantangannya adalah memastikan perkembangan moda transportasi tersebut diikuti infrastruktur dan aturan yang mampu melindungi pejalan kaki. Dengan begitu, kenyamanan pengguna kendaraan gak perlu diperoleh dengan mengorbankan orang yang hanya ingin berjalan kaki.

Trotoar seharusnya menjadi ruang tempat kamu bisa berjalan tanpa harus terus menoleh ke belakang. Anak-anak perlu bisa berjalan tanpa sibuk menghindari roda, sementara lansia dan pengguna kursi roda seharusnya gak dipaksa mencari jalan alternatif karena trotoar terhalang kendaraan. Pemerintah Seoul sudah melakukan penertiban dan mulai memikirkan area parkir khusus, tapi pemerataan infrastruktur masih menjadi tantangan. Kalau ruang untuk setiap pengguna dibuat lebih jelas, trotoar Seoul punya peluang untuk kembali menjadi tempat berjalan yang aman dan nyaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article