Suhu Global Diprediksi Melonjak, WMO Soroti Bahaya Krisis Iklim

- WMO memperingatkan peluang tinggi bahwa suhu global 2026–2030 akan melampaui rekor panas 2024, dengan risiko besar terjadinya cuaca ekstrem akibat kenaikan suhu di atas ambang 1,5°C.
- NOAA memprediksi kemungkinan besar kemunculan El Niño super pada 2026–2027 yang dapat mempercepat lonjakan suhu global dan mengubah pola cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia.
- Pakar menegaskan perlunya percepatan transisi energi terbarukan untuk mengejar target Perjanjian Paris, karena krisis iklim terus memburuk dan ketergantungan pada bahan bakar fosil makin berisiko.
Jakarta, IDN Times – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memperingatkan bumi hampir dipastikan menghadapi periode terpanas dalam sejarah menjelang akhir dekade ini. Peningkatan krisis iklim disebut menjadi faktor utama yang terus mendorong kenaikan suhu global.
WMO menyebut peluang sebesar 86 persen bahwa salah satu tahun dalam rentang 2026-2030 akan melampaui rekor panas tahun 2024 sejak pencatatan global dimulai. Selain itu, terdapat kemungkinan 75 persen bahwa rata-rata suhu dunia selama lima tahun mendatang akan menembus ambang 1,5 derajat Celsius di atas level pra-industri.
Ambang batas tersebut dinilai sangat krusial karena kenaikan suhu yang terus berulang dapat memicu cuaca ekstrem dengan dampak lebih merusak. Gelombang panas mematikan, badai besar, kekeringan berkepanjangan, hingga banjir bandang menjadi risiko yang diperkirakan meningkat apabila batas itu terlampaui secara rutin.
Hampir 200 negara sebenarnya telah menyepakati Perjanjian Paris yang mulai berlaku pada November 2016 guna membatasi kenaikan suhu global. Dalam perjanjian itu, pengukuran target dilakukan berdasarkan rata-rata suhu selama 20 tahun sehingga lonjakan panas dalam satu tahun belum otomatis dianggap sebagai kegagalan permanen target iklim global.
1. NOAA memproyeksikan ancaman El Niño super

ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Oleksandr P) Laporan The Guardian menyebut kenaikan suhu bumi dalam beberapa tahun mendatang berpotensi dipercepat oleh kemunculan kembali fenomena El Niño. Pola cuaca tersebut diperkirakan dapat memecahkan rekor suhu global baru paling cepat pada 2027.
Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (AS) atau NOAA memperkirakan peluang terjadinya El Niño mencapai 96 persen dalam periode Desember 2026 hingga Februari 2027. Dari angka tersebut, terdapat risiko 35 persen bahwa fenomena itu berkembang menjadi El Niño super dengan kekuatan sangat tinggi.
Leon Hermanson, penulis utama laporan WMO yang disusun bersama Kantor Meteorologi Inggris (Met Office), menjelaskan siklus alam tersebut bekerja dengan melepaskan energi panas yang selama ini tersimpan di Samudra Pasifik ke atmosfer. Pada saat bersamaan, peningkatan emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil ikut memerangkap lebih banyak panas di bumi.
Dampak gabungan kedua faktor itu diperkirakan akan terasa di sejumlah wilayah dunia. Kawasan Arktik diproyeksikan memanas lebih dari tiga setengah kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global dengan suhu musim dingin lima tahun mendatang berada 2,8 Celcius di atas rata-rata 1991–2020, sementara Sahel, Eropa Utara, Alaska, dan Siberia diperkirakan mengalami peningkatan curah hujan ketika hutan hujan Amazon justru menjadi lebih kering.
2. Gelombang panas ekstrem melanda Eropa Barat

ilustrasi bendera Uni Eropa (pexels.com/Dušan Cvetanović) Pemberitaan Al Jazeera menyebut ancaman krisis iklim kini tak lagi sekadar proyeksi jangka panjang karena dampaknya telah dirasakan di berbagai wilayah dunia. Eropa Barat baru-baru ini mengalami gelombang panas ekstrem yang datang jauh lebih cepat dibandingkan pola musim normal.
Inggris mencatat suhu udara melampaui 35 Celcius pada Mei dan memecahkan rekor hari Mei terpanas selama dua hari berturut-turut. Suhu setinggi itu biasanya muncul pada pertengahan musim panas, bukan ketika musim semi masih berlangsung.
Fenomena tersebut memicu respons dari Kepala Iklim PBB, Simon Stiell. Ia menyebut data ilmiah menunjukkan perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat gelombang panas menjadi semakin sering sekaligus lebih ekstrem.
“Ilmunya jelas bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia membuat gelombang panas ini lebih sering dan ekstrem,” katanya, dikutip Al Jazeera.
3. Pakar menyoroti percepatan transisi energi global

ilustrasi matahari (pexels.com/Pixabay) Michael Jacobs, profesor dari Universitas Sheffield, menilai dunia perlu bergerak jauh lebih cepat untuk mengejar target Perjanjian Paris. Kepada Al Jazeera, Jacobs mengatakan laporan terbaru itu kembali menunjukkan bahwa perubahan iklim terus memburuk meski isu tersebut kerap diabaikan dalam lanskap politik.
Menurut Jacobs, perlambatan kenaikan suhu global hanya dapat dilakukan melalui transisi cepat menuju energi terbarukan dan sistem elektrifikasi. Ia juga menyoroti kondisi geopolitik, termasuk perang di Iran, yang memperlihatkan ketidakstabilan harga dan pasokan energi fosil di tingkat global.
Jacobs mengatakan perang di Iran menunjukkan betapa tak stabilnya harga dan pasokan bahan bakar fosil saat ini sehingga dunia perlu mempercepat, bukan meninggalkan, komitmen Perjanjian Paris.
Penilaian berbagai lembaga dan pakar menunjukkan target menjaga kenaikan suhu di bawah 1,5 Celcius semakin sulit dicapai, meski setiap upaya pengurangan emisi tetap dinilai penting untuk menekan kerusakan global. Dalam penilaian yang sama, target pembatasan kenaikan suhu hingga 2 Celcius masih dianggap realistis apabila tindakan darurat dilakukan secara global, sementara data pemodelan saat ini memperkirakan krisis iklim telah menyebabkan setidaknya satu kematian setiap menit di seluruh dunia.






















