Survei: 60 Persen Warga AS Punya Sentimen Negatif soal Israel

- Survei Pew Research Center menunjukkan 60 persen warga AS kini punya sentimen negatif terhadap Israel, meningkat tajam dari 20 persen pada 2022 setelah keterlibatan Israel dalam serangan ke Iran.
- Sebanyak 80 persen politisi Demokrat dan 40 persen politisi Republik di AS memiliki pandangan buruk terhadap Israel, meski sebagian besar politisi Republik masih mempertahankan sikap pro-Israel.
- Sentimen negatif warga AS terhadap Israel meningkat sejak serangan brutal ke Palestina pada Oktober 2023, dengan banyak warga kini lebih bersimpati kepada rakyat Palestina.
Jakarta, IDN Times - Sebuah survei yang dirilis pada Kamis (9/4/2026), menunjukkan bahwa sebesar 60 persen warga Amerika Serikat punya sentimen negatif soal Israel. Jumlah ini naik dari yang semula 20 persen pada 2022 karena Israel turut membantu AS menyerang Iran.
Survei tersebut dilakukan oleh Pew Research Center sejak Maret 2026 lalu. Dalam melakukan survei, lembaga tersebut menyebarkan pertanyaan ke 3.500 warga AS. Hasilnya, 6 dari 10 warga AS punya pandangan negatif soal Israel.
Hasil ini menunjukkan bahwa semakin banyak warga AS yang punya sentimen anti-Israel. Sentimen ini sudah ada di tengah warga AS sejak dahulu karena Israel berupaya menganeksasi sebagian besar wilayah Palestina.
1. Politisi AS juga punya sentimen negatif soal Israel

Hasil survei yang dirilis sebelumnya menunjukkan hasil yang lebih spesifik. Survei tersebut menunjukkan, para politisi AS juga punya sentimen negatif terhadap Israel. Apalagi, setelah mereka menyerang Iran.
Tercatat, sebanyak 80 persen politisi AS dari Partai Demokrat punya pandangan buruk soal Israel. Sementara itu, sebanyak 40 persen politisi AS dari Partai Republik juga punya pandangan serupa.
Sebanyak 60 persen politisi AS dari Partai Republik masih punya pandangan positif soal Israel. Sebab, mereka memang sudah mempunyai pandangan pro-Israel sejak lama.
2. AS sudah mendukung Israel sejak 1948

Sebagai informasi, AS dan Israel memang punya hubungan yang sangat dekat dengan Israel. Sebab, AS merupakan negara pertama di dunia yang mengakui Israel sebagai negara berdaulat pada 1948. Kala itu, AS masih dipimpin oleh Presiden Harry Truman.
Sejak saat itu, AS makin gencar mendukung Israel untuk menganeksasi wilayah Palestina. Sebab, AS menganggap Israel berhak mengambil alih wilayahnya yang diambil alih oleh Palestina.
Dukungan penuh dari Washington ini sering kali menjadi tameng bagi Israel dalam menghadapi kecaman dunia internasional terkait serangan di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Bagi AS, Israel dipandang sebagai satu-satunya sekutu demokratis yang paling stabil dan dapat diandalkan di kawasan Timur Tengah untuk membendung pengaruh negara-negara yang dianggap sebagai ancaman, seperti Iran.
3. Sentimen negatif warga AS soal Israel mulai meningkat pada 2023

Meski AS punya hubungan dekat dengan Israel, warga AS kini mulai menunjukkan ketidaksukaannya terhadap negara tersebut. Apalagi, saat Israel mulai membombardir Palestina secara brutal pada Oktober 2023 silam. Sejak saat itu, sentimen negatif warga AS terhadap Israel mulai meningkat.
Masih menurut survei Pew Research Center, sebagian besar warga AS kini juga punya rasa simpati dan empati yang lebih besar terhadap warga Palestina. Mereka ingin warga di sana terlepas dari ancaman Israel. Di sisi lain, sebagian besar warga AS lainnya kini menunjukkan rasa tidak peduli terhadap warga Israel.


















