Saran JK Jika Prabowo Mau Jadi Mediator AS-Iran: Ada Pendekatan Tertutup Dulu

- Jusuf Kalla menilai langkah Indonesia menawarkan diri sebagai mediator konflik AS-Iran sebaiknya dilakukan secara tertutup, dengan pendekatan langsung ke kedua negara sebelum diumumkan ke publik.
- Menurut JK, pemerintah perlu lebih dulu mendekati Amerika Serikat sebagai pihak yang memulai serangan terhadap Iran jika ingin berperan efektif sebagai penengah dalam konflik tersebut.
- Menlu Sugiono menyampaikan bahwa Indonesia menyesalkan gagalnya perundingan nuklir Iran-AS dan menegaskan kesiapan Presiden Prabowo untuk menjadi mediator demi meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) menanggapi soal sikap pemerintah Indonesia yang berupaya menawarkan diri menjadi mediator untuk menghentikan perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Menurut JK, seharusnya Indonesia melakukan pendekatan ke AS dan Iran secara tertutup, bukan dengan langsung mengumumkan diri ke publik.
"Mesti kita mendekati, tapi perlu ada pendekatan yang tertutup dulu. Tidak langsung kita umumkan. Jadi mesti ada pendekatan ke Amerika, ada pendekatan ke Iran, mau nggak," kata dia dalam acara Ngobrol Seru by IDN Times bersama Pemimpin Redaksi IDN Times, Uni Lubis, di rumah pribadi JK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).
1. Sambangi AS sebagai negara yang menyerang

JK mengatakan, apabila ingin jadi penengah, harusnya pemerintah Indonesia mendatangi AS lebih dulu untuk menjalin komunikasi. Mengingat AS merupakan negara yang sejak awal memulai konfrontasi dengan melakukan penyerangan terhadap Iran.
"Kalau ingin jadi penengah, mestinya kita pergi ke negara yang menyerang. Bukan yang diserang," ucapnya.
2. AS ingin menguasai Iran, berunding hanya alasan

Lebih lanjut, JK memandang, AS sebenarnya tidak berniat untuk melakukan perundingan dengan Iran. Sebab Negara Paman Sam itu diyakini sejak awal hanya ingin menguasai Iran.
"Walaupun saya katakan Amerika itu memang tujuannya ingin menguasai Iran kok. Berunding itu hanya alasan aja," jelas JK.
3. Indonesia sesalkan gagalnya perundingan Iran-AS

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono, mengungkapkan telah berkomunikasi langsung dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyusul pecahnya konflik antara Iran dan Israel-AS.
Dalam percakapan tersebut, Indonesia menyampaikan penyesalan atas gagalnya perundingan terkait pengembangan teknologi nuklir Iran yang berujung pada eskalasi militer.
"Saya juga telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran kemarin. Beliau menelepon saya kemudian menjelaskan posisi Iran. Tentu saja, kami menyampaikan juga sikap Indonesia, kita menyesalkan perundingan yang terjadi kemudian gagal yang berakibat pada terjadinya eskalasi," ujar Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Sugiono menegaskan, Indonesia konsisten menghormati kedaulatan setiap negara. Dalam komunikasi dengan Menlu Iran, ia juga menyampaikan kesiapan Presiden Prabowo Subianto berperan sebagai mediator perdamaian.
"Kita juga menegaskan kembali ke meja rundingan dan juga yang pasti, kami juga menyampaikan keinginan dari Bapak Presiden untuk menjadi mediator dalam upaya mendinginkan dan menurunkan eskalasi di wilayah tersebut. Dan ini merupakan pandangan-pandangan yang juga beliau terima," ucap dia.
Indonesia mendorong penyelesaian konflik Iran dan AS melalui jalur diplomasi. Pemerintah berharap kedua pihak kembali ke meja perundingan guna mencegah eskalasi lebih luas di Timur Tengah.
Saat ditanya terkait pernyataan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, yang menyebut tidak ada lagi negosiasi dengan AS, Sugiono tak mempermasalahkan. Menurutnya, apabila Iran dan AS ingin berunding, Presiden Prabowo bersedia menjadi mediator.
"Ya, seperti yang disampaikan bahwa jika kedua belah pihak berkeinginan ya Bapak Presiden bersedia untuk menjadi mediator. Tetapi kalau misalnya ada pandangan seperti itu ya kita kembalikan kepada mereka," kata Sugiono.















