Timur Tengah Kembali Memanas, AS Gempur Iran Dua Hari Beruntun

- Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan militer dua hari berturut-turut, mengancam gencatan senjata yang disepakati sejak April 2026.
- Militer AS menargetkan sistem pengawasan, komunikasi, dan pertahanan udara Iran sebagai respons atas agresi militer berkelanjutan dari pihak Teheran.
- Presiden Donald Trump menyatakan serangan akan berhenti sementara namun bisa dilanjutkan jika Iran tidak segera menandatangani kesepakatan, serta menegaskan Israel tidak terlibat langsung.
Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer pada Kamis (11/6/2026). Ini merupakan serangan lanjutan yang terjadi dalam dua hari berturut-turut.
Serangan tersebut menjadi ancaman paling serius terhadap gencata senjata yang telah disepakati pada April 2026. Dunia khawatir serangan yang dilakukan oleh kedua pihak bakal memupuskan harapan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah yang telah berlangsung sejak Februari 2026.
Dikutip dari harian Singapura, The Straits Times, militer AS membeberkan serangan militer terbaru menyasar kemampuan pengawasan militer, sistem komunikasi dan titik-titik pertahanan udara di wilayah Iran. Militer Negeri Paman Sam berdalih serangan itu dilakukan untuk merespons agresi militer Iran yang terus berlanjut.
Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump pada Rabu malam, 10 Juni 2026 sempat berbincang dengan reporter FoX News, Trey Yingst. Trump mengatakan pemboman yang dilakukan oleh AS akan berhenti sejenak. Tetapi, serangan militer akan kembali berlanjut bila pemimpin Iran tidak segera meneken kesepakatan dengan Iran secepatnya.
"Presiden Trump menjelaskan serangan malam ini sebagai serangan yang kejam dan keras. Mereka tidak tahu bencana macam apa yang telah menyerang mereka," demikian cuit Yingst di akun media sosialnya dan dikutip pada hari ini.
Ia juga mengutip pernyataan Trump lainnya bahwa serangan militer AS ke Iran tidak melibatkan Israel. Tetapi, ia sempat memberikan informasi singkat kepada Israel sebelum serangan militer itu terjadi.
Sebelumnya, berdasarkan laporan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Jumat, 5 Juni 2026, Iran menembakkan tujuh rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain. Enam rudal berhasil dicegat pasukan AS, sedangkan satu rudal lainnya meleset dari target.
Sebelum itu, CENTCOM juga menghancurkan empat drone serang Iran di Selat Hormuz yang diduga mengarah ke jalur pelayaran internasional.

















