Pemukim Israel Bakar Dua Masjid dan Permukiman usai Bentrokan Maut

- Bentrokan di Desa Tell menewaskan empat warga Palestina dan dua tentara Israel, lalu memicu pembakaran dua masjid, rumah, mobil, serta lahan pertanian oleh pemukim Israel di beberapa desa Tepi Barat.
- IDF mengonfirmasi grafiti dan bekas pembakaran, mengerahkan pasukan serta penyelidikan; operasi akhir pekan menangkap lebih dari 130 orang, sementara Netanyahu menjanjikan tindakan keras.
- Otoritas Palestina menilai kekerasan ini sistematis di wilayah pendudukan, ketika perluasan permukiman berlanjut; PBB mencatat 1.114 warga Palestina tewas di Tepi Barat sejak perang Gaza dimulai.
Jakarta, IDN Times – Bentrokan yang menewaskan enam orang di Tepi Barat yang diduduki memicu gelombang aksi pembakaran oleh pemukim Israel terhadap dua masjid, mobil, dan lahan pertanian milik warga Palestina pada Minggu (26/7/2027). Kepala Dewan Desa Qusra di dekat Nablus, Abdel Azim Wadi, mengatakan para pemukim membakar sebuah masjid yang hampir rampung dibangun dan telah siap digunakan untuk beribadah.
Bangunan tersebut juga dicorat-coret slogan berbahasa Ibrani yang menyerukan pembalasan dendam. Militer Israel, Pasukan Pertahanan Israel (IDF), membenarkan adanya grafiti serta bekas pembakaran di lokasi dan menyampaikan bahwa pasukan telah dikerahkan, sementara kepolisian akan menyelidiki kasus itu serta mengumpulkan barang bukti.
IDF turut menyatakan pasukan keamanan mengecam keras perusakan terhadap tempat ibadah dan akan bertindak tegas untuk menjaga keamanan serta ketertiban umum. Di sisi lain, bentrokan bermula di Desa Tell, sebelah barat daya Nablus, saat sekelompok pemukim Israel, yang sebagian membawa senjata, memasuki desa dan mendapat perlawanan dari warga setempat.
1. Serangan meluas ke sejumlah desa di Tepi Barat

Menurut temuan IDF, baku tembak terjadi dari kedua belah pihak, sedangkan otoritas Palestina menyebut kelompok pemukim sebagai pihak yang memicu kekerasan. Insiden tersebut menewaskan empat warga Palestina dan dua tentara Israel, termasuk seorang prajurit yang sebelumnya bertugas sebagai agen keamanan di lokasi.
Aksi penyerangan juga terjadi di Desa Kour setelah seorang anggota dewan desa melaporkan tiga pemukim Israel membakar masjid sebelum api berhasil dipadamkan oleh para jamaah. Grafiti berbahasa Ibrani ditemukan di dinding bangunan, sementara pemukim Israel juga menyerang para pekerja Palestina di fasilitas pemotongan batu dekat Ramallah.
IDF menggelar penggerebekan sepanjang akhir pekan dan menangkap lebih dari 130 orang dalam operasi yang disebut sebagai langkah kontra-terorisme. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu juga berjanji mengambil tindakan keras, termasuk membongkar rumah dua warga Palestina yang diduga terlibat dalam bentrokan di Tell.
Di Desa Sarra yang berbatasan dengan Tell dan berhadapan dengan pos terdepan Havat Gilad, Hanan Turabi menceritakan kerumunan pemukim berlari menuruni lereng menuju rumahnya. Bangunan miliknya menjadi satu dari enam rumah yang dibakar, sementara belasan rumah lainnya menjadi sasaran lemparan batu.
“Mereka datang dari mana-mana. Kami mencoba melarikan diri tetapi mereka mengikuti kami dan melempari batu,” kata Turabi kepada BBC. Ia menambahkan harus memilih antara keselamatan keluarganya atau rumah yang sedang terbakar.
Ketika warga berkumpul untuk memblokade desa, tentara Israel menembakkan gas air mata berulang kali guna memukul mundur warga Palestina setelah kelompok pemukim memilih mundur.
2. Otoritas Palestina menyoroti pola kekerasan di wilayah pendudukan

Dilansir DW, otoritas Palestina menggambarkan rangkaian kejadian itu sebagai bagian dari sistematisasi kekerasan di seluruh wilayah pendudukan. Sementara itu, IDF menyatakan pihaknya berupaya mencegah kejahatan nasionalis, istilah yang mereka gunakan untuk menyebut serangan oleh pemukim ekstremis.
Meski para pemimpin Israel secara terbuka mengecam kekerasan, pemerintah tetap mengawasi pertumbuhan pesat pos terdepan pemukiman liar. Pascabentrokan di Tell, Netanyahu menyampaikan rencana mempercepat pendirian serta legalisasi pos pertanian di Tepi Barat yang ditandai dengan kemunculan pos terdepan baru di dekat Sarra.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat sebanyak 1.114 warga Palestina tewas di Tepi Barat sejak perang Gaza dimulai, sebagian besar akibat operasi militer Israel dan sedikitnya 35 orang dalam serangan pemukim. Pada periode yang sama, 41 warga Israel yang terdiri atas warga sipil dan personel keamanan tewas dalam serangan Palestina maupun operasi militer.
Data Otoritas Palestina menyebut sedikitnya 1.097 warga Palestina tewas akibat serangan pemukim dan pasukan keamanan sejak 7 Oktober 2023. Sementara itu, catatan pihak Israel menunjukkan jumlah korban tewas di pihak mereka mencapai 48 orang.
3. Eskalasi konflik memperluas ketegangan di Tepi Barat

Eskalasi kekerasan di Tepi Barat meningkat tajam setelah serangan yang dipimpin Hamas, organisasi yang ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Israel dan Jerman, terhadap Israel memicu konflik di Gaza. Sejak menduduki wilayah itu dalam perang 1967, Israel membangun ratusan permukiman yang dihuni lebih dari 500 ribu orang di Tepi Barat dari total sekitar 700 ribu warga Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Wilayah tersebut juga menjadi tempat tinggal sekitar 3,3 juta warga Palestina. Hukum internasional menilai permukiman itu ilegal, sedangkan kabinet Netanyahu menolak kenegaraan Palestina dan terus mempercepat perluasan permukiman dengan alasan hak historis.
Anggota kabinet sayap kanan, Bezalel Smotrich, secara terbuka menyerukan aneksasi terhadap wilayah pendudukan. Menanggapi perkembangan tersebut, Paus Leo XIV menyampaikan keprihatinan mendalam serta menyerukan dialog dan negosiasi untuk mencapai solusi politik yang adil, sekaligus mengecam tindakan yang merusak status quo dan penghormatan terhadap situs suci keagamaan.




















