Trump: Blokade AS Akan Dicabut Jika Kesepakatan dengan Iran Tercapai

- Donald Trump menegaskan blokade terhadap pelabuhan Iran tidak akan dicabut sampai tercapai kesepakatan, sementara blokade tersebut telah melumpuhkan lalu lintas di Selat Hormuz dan menaikkan harga minyak dunia.
- Iran menolak berunding dengan AS selama tekanan ekonomi dan militer masih berlangsung, menuding Washington menggunakan negosiasi sebagai alat untuk memaksa penyerahan.
- Pakistan bersiap menjadi tuan rumah perundingan damai di Islamabad dan optimis dapat meyakinkan Iran untuk hadir meski situasi regional masih tegang.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Senin (20/4/2026), mengatakan bahwa AS tak akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sampai tercapainya kesepakatan dengan Teheran.
“BLOKADE tersebut, yang tidak akan kami cabut sampai ada ‘KESEPAKATAN’, benar-benar menghancurkan Iran. Mereka kehilangan 500 juta dolar AS per hari, jumlah yang tidak dapat dipertahankan, bahkan dalam jangka pendek," tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social.
Pernyataan presiden AS itu disampaikan menjelang berakhirnya gencatan senjata antara AS dan Iran pada Rabu (22/4/2026). Iran sebelumnya menyatakan tidak akan mengirimkan delegasi untuk hadir dalam putaran kedua perundingan damai di ibu kota Pakistan, Islamabad.
1. Lalu lintas di Selat Hormuz lumpuh akibat blokade AS dan Iran

AS mulai menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pekan lalu sebagai respons atas penutupan Selat Hormuz oleh Teheran sejak perang AS-Israel di negara itu meletus pada 28 Februari 2026. Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), pasukan AS sejauh ini telah memerintahkan 27 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran.
Pada Minggu (19/4/2026), AS juga untuk pertama kalinya mencegat dan menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran setelah kapal itu mencoba menembus blokade. Teheran menyebut tindakan itu pelanggaran terhadap gencatan senjata dan aksi pembajakan.
Iran sempat membuka Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026), tapi kembali menutupnya pada Sabtu (18/4/2026) lantaran AS tidak mengakhiri blokadenya. Laporan menyebutkan bahwa kapal tanker di kawasan tersebut diserang oleh Garda Revolusi Iran pada Sabtu, sementara kapal kontainer lainnya terkena hantaman proyektil yang belum diketahui dari mana asalnya.
Lalu lintas di Selat Hormuz pun kembali lumpuh akibat blokade AS dan Iran. Hanya tiga kapal tanker yang melintas pada Senin, turun drastis dibandingkan 18 kapal pada Sabtu. Sementara itu, harga minyak mentah Brent tercatat menembus lebih dari 95 dolar (sekitar Rp1,6 juta) per barel pada Senin, dilansir dari Euro News.
2. Iran tolak berunding dengan AS selama masih berada di bawah tekanan

Dilansir The Guardian, Wakil Presiden AS, JD Vance, diperkirakan akan terbang ke Islamabad pada Selasa (21/4/2026) jika Iran setuju melanjutkan perundingan. Vance, yang memimpin delegasi AS, akan didampingi oleh utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantu presiden, Jared Kushner.
Di sisi lain, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan Teheran masih kesulitan untuk mempercayai Washington. Ia menilai sikap para pejabat AS yang tidak konsisten mencerminkan upaya untuk menekan Iran agar menyerah.
“Rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan,” ujarnya.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang sebelumnya memimpin delegasi Iran dalam perundingan di Pakistan, juga menegaskan bahwa Iran tidak bersedia berunding dengan AS selama masih berada di bawah ancaman. Dalam unggahan terbarunya di X, ia menuding Trump berupaya mengubah meja perundingan menjadi ajang untuk memaksa penyerahan atau sebagai dalih untuk kembali melanjutkan perang.
3. Pakistan optimis Iran akan ikut dalam perundingan tersebut

Pakistan sendiri telah mempersiapkan kemungkinan perundingan sejak Minggu, dengan meningkatkan pengamanan dan menghentikan layanan transportasi umum di ibu kota. Dewan listrik Islamabad juga memastikan pemadaman listrik akan dihentikan sementara selama proses negosiasi berlangsung.
Seorang pejabat senior pemerintah mengatakan bahwa Pakistan yakin bisa membuat Iran menghadiri perundingan tersebut.
Kepala Koresponden Internasional BBC, Lyse Doucet, juga mengatakan bahwa meskipun situasinya masih tidak dapat diprediksi, peluang perundingan untuk terlaksana jauh lebih besar.
“Ada satu aturan dalam diplomasi, yaitu Anda tidak ingin menjadi pihak yang disalahkan atas kegagalan suatu proses. Jika JD Vance benar-benar berada di Islamabad, akan sangat sulit bagi pihak Iran untuk tidak hadir," ujarnya.


















