Trump Klaim Iran Bersedia Serahkan Seluruh Stok Uranium

- Donald Trump mengklaim Iran siap menyerahkan seluruh stok uranium yang diperkaya demi kesepakatan damai, meski Teheran belum memberikan konfirmasi resmi atas pernyataan tersebut.
- Negosiasi AS-Iran terhambat pada durasi penangguhan program pengayaan uranium, dengan AS menuntut 20 tahun sementara Iran hanya bersedia lima tahun.
- Putaran kedua negosiasi akan digelar di Pakistan setelah pembicaraan pertama gagal mencapai kesepakatan, sementara batas waktu gencatan senjata semakin dekat.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan negaranya akan segera mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Trump mengklaimTeheran telah bersedia menyerahkan seluruh stok uranium yang diperkaya untuk mengakhiri konflik.
Iran diyakini masih memiliki stok uranium yang terkubur di bawah fasilitas nuklir Fordow dan Natanz. Negosiasi antara kedua negara kini berpacu dengan waktu menjelang berakhirnya masa gencatan senjata pada Selasa (22/4/2026).
1. Iran belum mengonfirmasi klaim Trump

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Trump di Gedung Putih. Ia meyakini negosiasi yang sedang berlangsung berjalan sangat sukses dan positif.
"Mereka telah setuju untuk mengembalikan debu nuklir kepada kita," ujar Trump, dilansir NDTV.
Perwakilan Iran untuk PBB belum memberikan konfirmasi resmi mengenai klaim Trump tersebut. Sebelumnya, Teheran bersikeras bahwa program nuklir mereka hanya untuk kepentingan energi sipil.
Menurut Teheran, hak untuk memperkaya uranium merupakan poin perundingan yang tidak bisa diganggu gugat. Namun, para pejabat Iran menyatakan pihaknya masih terbuka untuk menegosiasikan tingkat pengayaan bahan radioaktif tersebut.
2. AS-Iran negosiasi durasi penangguhan program nuklir

Perbedaan pendapat mengenai durasi penangguhan program pengayaan uranium menjadi titik buntu utama dalam perundingan di Islamabad. Kedua belah pihak dilaporkan sempat saling menolak proposal jangka waktu yang diajukan.
Delegasi AS mendesak Iran untuk menghentikan seluruh aktivitas pengayaannya selama 20 tahun. Namun, perwakilan Iran menolak usulan tersebut dan hanya bersedia memberikan komitmen selama lima tahun.
Selama ini, AS menjadikan stok uranium Iran sebagai salah satu justifikasi serangan. Badan pengawas atom PBB (IAEA) memperkirakan negara tersebut menyimpan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat 60 persen. Jika pengayaan dilanjutkan, stok tersebut bisa digunakan untuk membuat lebih dari sepuluh hulu ledak nuklir.
3. Negosiasi putaran kedua akan kembali digelar di Pakistan

Putaran pertama negosiasi maraton yang dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance pada akhir pekan lalu telah berakhir tanpa kesepakatan. Gedung Putih kini tengah mempersiapkan pembicaraan putaran kedua yang kemungkinan akan kembali digelar di Pakistan.
"Bagi Iran, mengatakan bahwa mereka tidak akan memiliki senjata nuklir itu satu hal. Namun, bagi kami, membangun mekanisme yang kuat untuk memastikan hal itu benar-benar tidak terjadi adalah hal yang berbeda," ujar Vance, dilansir Al Jazeera.
Situasi diprediksi akan memanas apabila perundingan ini kandas di tengah jalan. Trump mengancam akan melanjutkan serangan jika kesepakatan gagal dicapai sebelum batas waktu gencatan senjata berakhir.


















