Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Trump Klaim Iran Bersedia Serahkan Seluruh Stok Uranium

Trump Klaim Iran Bersedia Serahkan Seluruh Stok Uranium
Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Donald Trump mengklaim Iran siap menyerahkan seluruh stok uranium yang diperkaya demi kesepakatan damai, meski Teheran belum memberikan konfirmasi resmi atas pernyataan tersebut.
  • Negosiasi AS-Iran terhambat pada durasi penangguhan program pengayaan uranium, dengan AS menuntut 20 tahun sementara Iran hanya bersedia lima tahun.
  • Putaran kedua negosiasi akan digelar di Pakistan setelah pembicaraan pertama gagal mencapai kesepakatan, sementara batas waktu gencatan senjata semakin dekat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan negaranya akan segera mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Trump mengklaimTeheran telah bersedia menyerahkan seluruh stok uranium yang diperkaya untuk mengakhiri konflik.

Iran diyakini masih memiliki stok uranium yang terkubur di bawah fasilitas nuklir Fordow dan Natanz. Negosiasi antara kedua negara kini berpacu dengan waktu menjelang berakhirnya masa gencatan senjata pada Selasa (22/4/2026).

1. Iran belum mengonfirmasi klaim Trump

Ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)
Ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Trump di Gedung Putih. Ia meyakini negosiasi yang sedang berlangsung berjalan sangat sukses dan positif.

"Mereka telah setuju untuk mengembalikan debu nuklir kepada kita," ujar Trump, dilansir NDTV.

Perwakilan Iran untuk PBB belum memberikan konfirmasi resmi mengenai klaim Trump tersebut. Sebelumnya, Teheran bersikeras bahwa program nuklir mereka hanya untuk kepentingan energi sipil.

Menurut Teheran, hak untuk memperkaya uranium merupakan poin perundingan yang tidak bisa diganggu gugat. Namun, para pejabat Iran menyatakan pihaknya masih terbuka untuk menegosiasikan tingkat pengayaan bahan radioaktif tersebut.

2. AS-Iran negosiasi durasi penangguhan program nuklir

fasilitas nuklir Iran di Busheh
fasilitas nuklir Iran di Bushehr (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Perbedaan pendapat mengenai durasi penangguhan program pengayaan uranium menjadi titik buntu utama dalam perundingan di Islamabad. Kedua belah pihak dilaporkan sempat saling menolak proposal jangka waktu yang diajukan.

Delegasi AS mendesak Iran untuk menghentikan seluruh aktivitas pengayaannya selama 20 tahun. Namun, perwakilan Iran menolak usulan tersebut dan hanya bersedia memberikan komitmen selama lima tahun.

Selama ini, AS menjadikan stok uranium Iran sebagai salah satu justifikasi serangan. Badan pengawas atom PBB (IAEA) memperkirakan negara tersebut menyimpan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat 60 persen. Jika pengayaan dilanjutkan, stok tersebut bisa digunakan untuk membuat lebih dari sepuluh hulu ledak nuklir.

3. Negosiasi putaran kedua akan kembali digelar di Pakistan

ilustrasi bendera Pakistan.
ilustrasi bendera Pakistan. (unsplash.com/emaliikhokhar)

Putaran pertama negosiasi maraton yang dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance pada akhir pekan lalu telah berakhir tanpa kesepakatan. Gedung Putih kini tengah mempersiapkan pembicaraan putaran kedua yang kemungkinan akan kembali digelar di Pakistan.

"Bagi Iran, mengatakan bahwa mereka tidak akan memiliki senjata nuklir itu satu hal. Namun, bagi kami, membangun mekanisme yang kuat untuk memastikan hal itu benar-benar tidak terjadi adalah hal yang berbeda," ujar Vance, dilansir Al Jazeera.

Situasi diprediksi akan memanas apabila perundingan ini kandas di tengah jalan. Trump mengancam akan melanjutkan serangan jika kesepakatan gagal dicapai sebelum batas waktu gencatan senjata berakhir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
Fahreza Murnanda
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More