"Satu-satunya hal yang penting, ketika saya berbicara tentang Iran, mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Saya tidak memikirkan situasi keuangan warga Amerika," kata Trump sebelum meninggalkan Gedung Putih untuk terbang ke China pada Selasa (12/5/2026), seperti dilansir Jerusalem Post.
Trump: Misi Utama Saya adalah Menyetop Program Nuklir Iran!

- Donald Trump menegaskan fokus utamanya adalah menghentikan program senjata nuklir Iran, bukan memperbaiki kondisi ekonomi Amerika Serikat.
- Gedung Putih menyatakan kebijakan Trump terhadap Iran bertujuan menjaga keamanan warga AS dari ancaman senjata nuklir meski menuai kritik publik.
- Trump mendapat tekanan dari Partai Republik dan protes warga akibat kenaikan harga bensin yang dipicu ketegangan dengan Iran serta blokade Selat Hormuz.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut penghentian program senjata nuklir Iran lebih penting dari pada memirkan masalah ekonomi AS. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan, satu-satunya misi yang ingin ia capai saat ini adalah membuat Iran menghentikan program senjatanya nuklirnya, bukan memperbaiki masalah ekonomi di AS.
"Saya tidak memikirkan siapa pun. Saya hanya memikirkan satu hal, yakni kita tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Itu saja. Itulah satu-satunya hal yang memotivasi saya," lanjutnya.
1. Warga AS banyak mengkritik kebijakan geopolitik Trump

Pernyataan Trump tadi ditengarai merupakan respons terhadap kritik warga AS soal kepemimpinannya. Sebab, belakangan, warga AS banyak yang mengkritik Trump soal kebijakan-kebijakan geopolitik yang ia ambil. Warga AS menilai, Trump harus mengambil kebijakan geopolitik yang tidak berdampak buruk terhadap warga AS, terutama dalam hal ekonomi.
Menanggapi kritik tersebut, Gedung Putih mengatakan, Trump sejauh ini sudah mengambil kebijakan geopolitik yang sesuai dengan kepentingan warga AS. Contohnya saja seperti upaya penghentian program senjata nuklir Iran. Langkah tersebut diambil untuk mengamankan dunia, termasuk warga AS, dari ancaman senjata nuklir Iran.
"Tanggung jawab utama (Donald) Trump adalah (untuk menjaga) keselamatan dan keamanan warga Amerika (Serikat). Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan jika tindakan tidak diambil, mereka akan memilikinya. (Hal itu) yang mengancam semua warga Amerika," ujar Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung.
2. Trump mendapat tekanan dari Partai Republik soal kondisi ekonomi AS

Saat ini, Trump juga sedang mendapat tekanan dari partai pendukungnya, Partai Republik soal kondisi ekonomi AS. Partai Republik mulai khawatir kondisi ekonomi AS makin memburuk jika Trump terus memikirkan perang dengan Iran.
Saat ini, harga bensin di AS juga semakin naik. Kenaikan ini disebabkan blokade Selat Hormuz yang kini dilakukan AS dan Iran. Imbas blokade ini, pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global, termasuk ke AS jadi terhambat.
Kenaikan harga bensin ini membuat ekonomi AS kian tercekik. Sebab, harga-harga bahan pokok juga ikut naik.
3. Warga AS mengkritik Trump soal kenaikan harga bensin

Warga Amerika Serikat kini juga mulai memprotes kenaikan harga bensin imbas perang Iran. Salah satu protes datang dari seorang warga yang tinggal di Los Angeles (LA), California. Warga tersebut bernama Ryder Thomas.
“Saya marah soal harganya. Namun, saya lebih marah lagi kenapa harganya begitu tinggi,” kata Thomas yang sedang berada di pom bensin di LA kepada AFP, seperti dikutip The Strait Times pada 2 Mei lalu.
“Perang ini sama sekali tidak perlu. Sama seperti ketika kita menginvasi Irak. Saat itu, tidak ada senjata pemusnah massal. Trump itu bodoh! Itu saja,” ungkap Thomas.

















