Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merasa yakin Iran mau menghentikan program senjata nuklirnya agar bisa berdamai dengan AS. Padahal, Iran kerap menolak untuk menghentikan program senjata nuklir seperti yang sudah diminta Trump.
Trump Pede Iran Mau Setop Program Nuklir demi Damai dengan AS

- Donald Trump yakin Iran bersedia menghentikan program nuklirnya demi perdamaian dengan AS dan menunda serangan setelah menerima proposal damai dari Teheran.
- Iran mengirim proposal perdamaian melalui Pakistan, meminta ganti rugi, pencabutan sanksi ekonomi, serta penghentian serangan Israel terhadap Lebanon.
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan dialog dengan AS bukan bentuk menyerah, sementara Trump sebelumnya sempat mengultimatum Iran agar segera menyetujui kesepakatan damai.
"Sepertinya, ada peluang yang sangat bagus bahwa mereka (Iran) dapat mencapai kesepakatan. Jika kita dapat melakukan itu tanpa membombardir mereka habis-habisan, saya akan sangat senang," kata Trump kepada wartawan pada Senin (18/5/2026), seperti dilansir Reuters.
Usai mengumumkan pernyataan tadi, Trump langsung menunda serangan terbaru terhadap Iran yang awalnya akan dilakukan pada Selasa (19/5/2026). Sebab, Trump mengatakan Iran juga sudah memberikan proposal perdamaian terbaru ke AS. Proposal tersebut, menurutnya, menjadi momen yang bagus bagi AS dan Iran untuk menyepakati perdamaian.
1. Iran memberikan proposal perdamaian terbaru lewat Pakistan

Sama seperti sebelum-sebelumnya, Iran mengirim proposal perdamaian ke AS lewat perantara Pakistan. Sebab, Pakistan berperan sebagai mediator dalam negosiasi perdamaian antara Iran dan AS.
Dalam proposal tersebut, Iran mengajukan sejumlah syarat ke AS agar perdamaian segera tercipta. Salah satunya adalah ganti rugi biaya kerusakan akibat serangan yang dilakukan AS dan Israel sejak 28 Februari lalu. Selain itu, Iran juga meminta AS untuk menghentikan sanksi ekonomi dan meminta Israel berhenti menyerang Lebanon.
Usai memberikan proposal terbaru, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan pihaknya bersedia berdialog dengan AS. Ini bertujuan agar tidak ada lagi yang merasa dirugikan sehingga kesepakatan damai segera diraih.
2. Dialog bukan berarti menyerah terhadap AS

Pezeshkian menambahkan, kesediaannya untuk berdialog tidak menunjukkan Iran menyerah terhadap AS. Sebab, ia mengatakan Iran akan berdialog dengan AS sambil menjunjung tinggi kepentingan nasional mereka. Langkah ini dilakukan agar dialog bisa menguntungkan kedua pihak, baik Iran maupun AS.
"Dialog bukan berarti menyerah. Republik Islam Iran memasuki dialog dengan bermartabat, berwibawa, dan dengan menjunjung tinggi hak-hak bangsa. (Oleh karena itu), dalam keadaan apa pun, (kami) tidak akan mundur dari hak-hak hukum rakyat dan negara," kata Pezeshkian dilansir Jerusalem Post.
3. Trump sebelumnya sudah mengultimatum Iran

Sebelumnya, Trump sempat mengultimatum Iran agar mereka segera menyetujui proposal perdamaian dari AS. Ultimatum tersebut disampaikan dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Minggu (17/5/2026).
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan Iran harus segera menyetujui proposal perdamaian dari AS. Jika tidak, Trump mengatakan AS akan menyerang Iran sampai tidak ada yang tersisa lagi untuk mereka.
“Bagi Iran, waktu terus berjalan. (Oleh karena itu), mereka sebaiknya segera bertindak atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. Waktu sangat penting!” tulis Trump, seperti dilansir The Strait Times.



















