Survei APJII: Penetrasi Internet Indonesia Tembus 81,72 Persen

- Penetrasi internet Indonesia 2026 mencapai 81,72 persen atau 235,26 juta jiwa, menunjukkan internet telah menjadi kebutuhan utama dalam aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik.
- Pulau Jawa masih mendominasi pengguna internet nasional dengan kontribusi 58,24 persen; kesenjangan digital antarwilayah dan gender terus menurun seiring meningkatnya akses di luar Jawa.
- Masyarakat paling sering menggunakan internet untuk media sosial dan hiburan digital, sementara fitur anti-penipuan online dinilai paling penting di tengah meningkatnya kasus penipuan dan pencurian data.
Jakarta, IDN Times - Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat tingkat penetrasi internet di Indonesia pada 2026 mencapai 81,72 persen atau setara 235,26 juta jiwa dari total populasi nasional sebanyak 287,30 juta jiwa. Hal ini twrcermin dalam Survei Profil Internet Indonesia Tahun 2026.
Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 80,66 persen. Kenaikan ini dinilai menunjukkan internet kini telah menjadi kebutuhan utama masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.
Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia Muhammad Arif mengatakan, transformasi digital nasional terus berkembang secara progresif dan semakin inklusif.
"Internet saat ini bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, tetapi telah menjadi bagian dari aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan publik masyarakat Indonesia," ujar Arif dalam peluncuran Survei Profil Internet Indonesia 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
"Hasil survei ini menunjukkan transformasi digital nasional terus berkembang dan perlu didukung dengan pemerataan infrastruktur, peningkatan kualitas layanan, serta penguatan literasi digital masyaraka," sambungnya.
1. Pulau Jawa kontribusi pengguna internet

Secara regional, Pulau Jawa masih menjadi wilayah dengan kontribusi pengguna internet terbesar nasional, yakni mencapai 58,24 persen dengan tingkat penetrasi sebesar 85,95 persen. Adapun wilayah Kalimantan mencatat penetrasi internet sebesar 80,40 persen, Sumatra 78,24 persen, Bali dan Nusa Tenggara 78,14 persen, Sulawesi 72,58 persen, serta Maluku dan Papua sebesar 69,74 persen.
Data tersebut memperlihatkan akses internet di luar Jawa terus berkembang, meski kesenjangan digital antarwilayah masih menjadi tantangan. Dari sisi demografi, tingkat penetrasi internet pada laki-laki tercatat sebesar 83,95 persen, sedangkan perempuan sebesar 79,79 persen. APJII menilai kesenjangan gender dalam akses internet semakin kecil.
Adapun berdasarkan wilayah tempat tinggal, masyarakat urban memiliki tingkat penetrasi internet sebesar 84,75 persen, lebih tinggi dibandingkan wilayah rural yang mencapai 78,18 persen.
Survei juga menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pendidikan dan penggunaan internet. Penetrasi tertinggi tercatat pada kelompok pendidikan perguruan tinggi sebesar 92,49 persen, disusul SMA/SMK sederajat sebesar 90,44 persen. Berdasarkan kelompok generasi, pengguna internet tertinggi berasal dari generasi milenial dengan penetrasi mencapai 90,34 persen, diikuti Gen Z sebesar 89,02 persen.
2. Media sosial jadi alasan utama masyarakat mau akses internet

Dalam aktivitas penggunaan, komunikasi dan media sosial menjadi alasan utama masyarakat mengakses internet dengan persentase 19,9 persen. Selanjutnya hiburan digital seperti streaming dan game sebesar 19,7 persen, pencarian informasi dan berita sebesar 19,6 persen, serta transaksi e-commerce dan layanan digital sebesar 18,7 persen.
Meski demikian, masih terdapat masyarakat yang belum terhubung internet. Alasan terbesar ialah tidak memiliki perangkat yang dapat terkoneksi internet sebesar 34 persen, tidak mengetahui cara menggunakan perangkat digital sebesar 31,5 persen, dan harga kuota internet yang dinilai masih mahal sebesar 17,2 persen.
Survei APJII juga mencatat smartphone masih menjadi perangkat utama untuk mengakses internet dengan persentase mencapai 84,31 persen. Mayoritas pengguna mengakses internet selama 4-6 jam per hari.
3. Fitur antipenipuan online dinilai masyarakat jadi peling mendesak

Di sisi keamanan digital, APJII mencatat masyarakat menilai fitur antipenipuan online menjadi fitur paling penting dengan persentase 24 persen. Sementara kasus keamanan digital yang paling banyak dialami masyarakat ialah penipuan online sebesar 13,6 persen dan pencurian data pribadi atau phishing sebesar 7,8 persen.
Selain itu, jumlah pelanggan internet tetap atau fixed broadband tercatat mencapai 99,51 juta jiwa pada 2026, tumbuh 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Mayoritas pelanggan menggunakan layanan internet kabel atau fiber.
"APJII berharap hasil survei tersebut dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dan pelaku industri dalam menyusun kebijakan pengembangan ekosistem digital nasional yang lebih inklusif dan aman," kata dia.


















