Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dua Juta Warga Iran Kehilangan Pekerjaan Gegara Perang

Dua Juta Warga Iran Kehilangan Pekerjaan Gegara Perang
Warga Iran sedang bekerja. (unsplash.com/omid armin)
Intinya Sih
  • Perang Iran melawan AS dan Israel sejak Februari 2026 memicu krisis ekonomi parah, membuat sekitar dua juta warga kehilangan pekerjaan akibat banyak perusahaan gulung tikar.
  • Pemutusan jaringan internet oleh pemerintah Iran untuk alasan keamanan memperburuk kondisi ekonomi, menyebabkan kerugian hingga Rp1,4 miliar per hari dan menghentikan aktivitas bisnis digital.
  • Pemerintah Iran belum berencana memulihkan akses internet hingga perang usai, sementara proposal perdamaian terbaru yang diajukan ke AS kembali ditolak oleh Presiden Donald Trump.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Perang melawan Amerika Serikat dan Israel yang sudah berjalan sejak 28 Februari 2026 lalu membuat krisis ekonomi di Iran makin akut. Krisis ekonomi ini lantas membuat banyak perusahaan di Iran terpaksa merumahkan pekerjanya.

Berdasarkan laporan New York Times yang dirilis pada Selasa (12/5/2026), Pemerintah Iran mengatakan, setidaknya 2 juta warga mereka kini sudah kehilangan pekerjaan imbas perang dengan AS dan Israel. Jumlah ini diperkirakan bisa meningkat jika perang berlanjut di kemudian hari. 

“Sebuah pusaran masalah ekonomi yang aneh dan luar biasa telah muncul dan terus menjadi semakin kompleks. Sebelum perang, Iran sudah berada dalam situasi ekonomi yang sangat buruk dan menghadapi serangkaian krisis besar,” kata Amir Hossein Khaleghi, seorang ekonom di Kota Isfahan, Iran.  

1. Krisis ekonomi diperburuk pemutusan jaringan internet

Internet sedang menyala.
ilustrasi internet (pexels.com/Obi Onyeador)

Krisis ekonomi di Iran juga makin diperparah oleh pemutusan jaringan internet. Sebab, sejak mulai berperang dengan AS dan Israel, Iran memutuskan untuk mematikan jaringan internet. Langkah ini dilakukan guna mencegah spionase dari AS dan Israel serta mencegah aksi protes dari warga.

Pemutusan jaringan internet ini akhirnya membuat perusahaan, terutama yang berkaitan dengan teknologi, tidak bisa beroperasi. Imbasnya, banyak perusahaan yang akhirnya bangkrut dan terpaksa merumahkan karyawannya.  

“Republik Islam (Iran) tidak peduli dengan kami dan dunia tampaknya juga tidak peduli dengan tempat kami berjuang,” kata seorang warga Iran yang merasa terganggu dengan pemutusan jaringan internet oleh pemerintah, Hossein, sebagaimana dilansir Iran International.

2. Pemutusan jaringan internet bikin Iran rugi Rp1,4 miliar per hari

Laptop yang digunakan untuk mengakses internet.
ilustrasi internet (pexels.com/Stefan Coders)

Pemutusan jaringan internet di Iran kini sudah berjalan selama lebih dari 70 hari. Jika pemutusan ini terus berlanjut, pengamat menilai kondisi ekonomi Iran bakal makin babak belur sehingga rakyat juga makin susah. 

Menurut pengamat, pemutusan jaringan internet telah membuat Iran mengalami kerugian sebesar 80 juta dolar AS atau Rp1,4 miliar per hari. Kerugian ini membuat roda perekonomian Iran berkontraksi secara signifikan. 

Oleh karena itu, pengamat menyarankan Iran untuk segera menghentikan pemblokiran akses internet di negaranya. Langkah ini bertujuan agar roda perekonomian kembali berjalan sehingga rakyat bisa segera keluar dari krisis. 

3. Pemerintah Iran belum mau memulihkan jaringan internet

Bendera Iran sedang berkibar.
potret bendera Iran (unsplash.com/mostafa meraji)

Namun, Pemerintah Iran tampaknya belum mau memulihkan jaringan internet di negaranya. Sebab, pada April lalu, mereka memutuskan untuk memperluas pemutusan jaringan internet hampir di seluruh wilayah.

Menurut pengamat, Iran kemungkinan baru akan kembali memulihkan jaringan internetnya setelah perang dengan AS dan Israel berakhir. Namun, nasib perang hingga kini masih menggantung. Sebab, AS dan Iran masih saling menolak proposal perdamaian yang sudah diajukan satu sama lain. 

Iran sendiri sudah memberikan proposal perdamaian terbaru ke AS lewat perantara Pakistan pada pekan lalu. Dalam proposal itu, Iran mengajukan 14 tuntutan yang harus dipatuhi oleh AS. Salah satunya adalah penghentian perang dalam waktu 30 hari. Selain itu, Iran juga meminta AS mencabut sanksi ekonomi yang diberikan terhadapnya.   

Sayangnya, proposal perdamaian itu kembali ditolak mentah-mentah oleh Presiden AS, Donald Trump. Dalam pernyataannya, Trump menyebut proposal terbaru dari Iran sama sekali tidak dapat diterima.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Related Articles

See More