Trump Sebut Iran Ngebet Ingin Damai dengan AS

- Donald Trump menyebut Iran sangat ingin mencapai kesepakatan damai dengan AS, meski negosiasi sebelumnya di Gedung Putih belum membuahkan hasil.
- Negosiasi 21 jam di Islamabad gagal karena Iran menolak syarat AS untuk menghentikan program senjata nuklir yang dianggap mengancam stabilitas global.
- Pemerintah Pakistan menyebut pembicaraan damai akan berlanjut, dengan delegasi AS siap kembali ke Pakistan setelah Iran dikabarkan mulai menyetujui syarat perdamaian.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut Iran sangat ingin mencapai kesepakatan damai dengan AS. Pernyataan itu disampaikan Trump kepada awak media di Gedung Putih, Senin (13/4/2026).
Dalam pernyataannya, Trump mengatakan, Iran ngebet mencapai kesepakatan damai dengan AS karena ingin perang segera berakhir. Sayangnya, proses negosiasi yang sudah dilakukan kedua negara berakhir nihil.
1. AS dan Iran sudah melakukan negosiasi damai di Pakistan

AS dan Iran sendiri sudah menggelar negosiasi damai di Islamabad, Pakistan, selama 21 jam pada pekan lalu. Negosiasi ini dilakukan agar perang antara AS, Israel, dan Iran berakhir secara permanen. Namun, upaya tersebut gagal. Sebab, AS dan Iran sama-sama belum mencapai kesepakatan damai.
“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan. Saya pikir, itu merupakan kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat,” kata Wakil Presiden AS, JD Vance, usai menggelar pertemuan dengan perwakilan Iran, seperti dilansir Times of Israel.
“Jadi, kami kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan. Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa batasan-batasan kami,” lanjut Vance.
2. Iran tidak mau menyetujui syarat perdamaian dari AS

Dalam pernyataannya, Vance mengatakan, gagalnya negosiasi di Pakistan pekan lalu disebabkan Iran tidak mau menyetujui syarat perdamaian yang diberikan AS. Padahal, jika Iran setuju dengan syarat tersebut, kesepakatan perdamaian kemungkinan besar bisa diraih.
Jadi, jika ingin berdamai, AS meminta Iran untuk menyetop program pengembangan senjata nuklir mereka. Sebab, program senjata nuklir dianggap mengganggu stabilitas keamanan dunia, khususnya di Timur Tengah. Namun, Iran memutuskan untuk menolak syarat tersebut. Menurut Vance, Iran bersikukuh ingin mengembangkan program senjata nuklir mereka.
“Kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mendapatkan senjata nuklir dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat memperoleh senjata nuklir. Itulah tujuan utama Presiden Amerika Serikat dan itulah yang telah kami coba capai melalui negosiasi ini,” jelas Vance.
3. Negosiasi AS dan Iran dikabarkan bakal berlanjut

Meski berakhir nihil, seorang sumber internal Pemerintah Pakistan mengatakan, proses negosiasi antara AS dan Iran akan berlanjut. Hal ini merupakan upaya agar perang antara Iran dengan AS dan Israel bisa berakhir permanen. Sebab, jika negosiasi tidak dilanjutkan, perang dikhawatirkan akan kembali pecah.
Vance mengatakan, delegasi AS akan terbang lagi ke Pakistan untuk melanjutkan negosiasi. Sebab, dalam pernyataan terbarunya pada Senin malam waktu setempat, Vance mengklaim Iran saat ini sudah menyetujui semua syarat yang diberikan AS untuk mencapai perdamaian.
"AS benar-benar sudah mendapatkan persetujuan atas persyaratan yang telah kami tetapkan, baik dari pemimpin tertinggi atau orang lain,” jelas Vance dilansir Jerusalem Post.


















