Uni Eropa Serukan Setop Serangan di Lebanon

- Uni Eropa menyerukan penghentian segera permusuhan di Lebanon setelah serangan besar Israel menewaskan ratusan warga sipil dan melukai lebih dari seribu orang.
- Gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran terancam runtuh akibat serangan udara Israel di Lebanon, meski kedua negara mengklaim Lebanon termasuk dalam kesepakatan tersebut.
- Israel menyetujui perundingan dengan Lebanon di Washington sambil tetap melanjutkan operasi militernya, sebagai bagian dari strategi eskalasi melalui normalisasi yang dinilai menguntungkan kedua pihak.
Jakarta, IDN Times - Uni Eropa (UE), pada Kamis (9/4/2026), menyerukan penghentian segera permusuhan di Lebanon, mengingat banyaknya korban jiwa warga sipil yang berjatuhan.
Pada Rabu (8/4/2026), Israel melancarkan serangan terbesarnya di Lebanon sejak perang dengan Hizbullah kembali meletus pada awal Maret. Israel mengebom lebih dari 100 sasaran di seluruh negeri hanya dalam waktu 10 menit, menewaskan 303 orang dan melukai 1.150 lainnya. Serangan ini di tengah gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang menurut banyak pihak juga mencakup Lebanon.
“Kami selanjutnya menyerukan penghentian segera permusuhan di Lebanon, yang memakan banyak korban jiwa,” kata Perwakilan Tinggi UE, Kaja Kallas, dalam sebuah pernyataan pada Kamis (9/4/2026), dikutip dari Anadolu.
1. Uni Eropa minta semua pihak hormati gencatan senjata

Kallas juga mendesak semua pihak untuk sepenuhnya menghormati kesepakatan gencatan senjata dan menjamin kebebasan navigasi serta perjalanan yang bebas dan aman melalui Selat Hormuz.
“Semua pihak harus mematuhi hukum humaniter internasional dan melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil, penjaga perdamaian PBB, dan personel kemanusiaan,” ujarnya.
Sambil menekankan pentingnya diplomasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang tersisa, ia menyerukan agar semua pihak terus terlibat dengan itikad baik menuju tercapainya kesepakatan yang berkelanjutan.
"Sekarang adalah waktunya merancang strategi komprehensif untuk perdamaian abadi di Timur Tengah," tambahnya.
2. Gencatan senjata AS-Iran terancam akibat serangan Israel di Lebanon

AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama 2 pekan yang dimediasi oleh Pakistan pada Rabu. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Iran setuju untuk mengizinkan kapal-kapal melintasi Selat Hormuz yang sempat ditutup. Laporan juga menyebutkan bahwa Teheran akan mengenakan tarif bagi kapal yang melintas di jalur perairan penting tersebut guna mendanai upaya rekonstruksi negara itu.
Namun, gencatan senjata tersebut kini terancam runtuh setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di berbagai wilayah Lebanon pada Rabu. Iran dan Pakistan menyatakan bahwa Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan tersebut. Namun, AS dan Israel justru menegaskan sebaliknya.
Pada Jumat (10/4/2026), seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa Israel dan Lebanon akan mengadakan pembicaraan di Washington pekan depan. Pengumuman ini muncul ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memerintahkan para menterinya untuk mengupayakan perundingan langsung dengan Lebanon yang berfokus pada pelucutan senjata Hizbullah, dilansir dari The Guardian.
3. Israel terapkan kebijakan eskalasi melalui normalisasi

Dilansir dari Al Jazeera, Abid Abou Shhadeh, seorang analis politik dan aktivis yang berbasis di Israel, mengatakan bahwa Tel Aviv pada dasarnya tidak tertarik pada diplomasi atau perundingan apa pun dengan Lebanon. Namun, dengan menyetujui perundingan dengan Lebanon di AS, Israel berupaya menjalankan apa yang disebutnya sebagai kebijakan eskalasi melalui normalisasi.
Dalam praktiknya, Israel akan terus melanjutkan perang di Lebanon selatan, sembari tetap melakukan perundingan dengan pemerintah di Beirut. Abou Shhadeh menilai pendekatan ini juga menguntungkan pemerintah Lebanon karena membantu mengurangi pengaruh Hizbullah.

















