Warga Albania Gelar Demonstrasi Akbar Tolak Penahanan Oposisi

Jakarta, IDN Times - Ribuan warga Albania, pada Senin (7/10/2024) sore, mengadakan demonstrasi besar-besaran menolak pemerintahan Partai Sosialis. Demonstran merupakan simpatisan Partai Demokrat yang menuding pemerintahan Perdana Menteri Edi Rama melakukan korupsi.
Pekan lalu, anggota parlemen dari Partai Demokrat sudah membakar kursi di depan pintu masuk gedung parlemen. Aksi dari partai oposisi tersebut untuk memprotes penangkapan rekannya, Ervin Salianji, dan menolak pemerintahan Rama yang dinilai semakin semena-mena.
1. Demonstrasi terpusat di beberapa gedung pemerintahan
Demonstrasi anti-pemerintah kali ini dilangsungkan di beberapa lokasi di Tirana. Pada Senin petang, demonstran sudah berkumpul di depan Kantor Perdana Menteri Albania, Kantor Pusat Partai Sosialis, Kantor Kementerian Dalam Negeri, dan Balai Kota Tirana.
Melansir Associated Press, demonstran menyebut PM Rama sebagai diktator dan mendesaknya mundur. Demonstran bahkan menyebut mantan PM Albania Sali Berisha yang merupakan pemimpin Partai Demokrat dan saat ini sedang diadili atas dugaan kasus korupsi.
Beberapa saat sebelum demonstrasi, Salianji, yang kini dipenjara, disebut sudah mengirimkan surat kepada seluruh warga Albania untuk ikut protes melawan pemerintahan Partai Sosialis.
"Ini adalah saatnya pemerintah Partai Sosialis untuk membayar semua yang telah ditanam. Saya mengajak seluruh warga bergabung dalam demonstrasi ini untuk menghentikan semua ini dan menjadi tembok dalam menghalangi kejahatan," terangnya.
2. Demonstrasi di Tirana berujung ricuh
Demonstrasi yang awalnya damai berujung kericuhan ketika sejumlah oknum melemparkan bom molotov ke arah gedung pemerintahan. Bahkan, polisi yang berjaga sempat terlibat bentrokan dengan demonstran di luar gedung parlemen.
Melansir Balkan Insight, pemerintah sudah menerjunkan lebih dari 1.000 aparat kepolisian untuk menjaga gedung pemerintahan. Polisi menyebut terdapat sekitar 10 anggotanya yang terluka dalam insiden ini, tapi tidak mengungkapkan berapa banyak demonstran yang terluka dalam kerusuhan.
Menteri Dalam Negeri Albania, Ervin Hoxha, mengadakan kunjungan ke rumah sakit untuk menjenguk korban. Ia mengklaim bahwa semua polisi yang bertugas menjaga demonstrasi bekerja sesuai dalam aturan hukum.
"Kami melihat beberapa polisi sudah bekerja sesuai dengan aturan hukum dan mereka menghalangi kerusuhan dalam demonstrasi yang dilandasi oleh motif politik ini," tuturnya sambil menuding demonstran yang bertindak anarkis.
3. AS peringatkan warganya tidak ikut demonstrasi di Albania
Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Tirana memperingatkan warga negaranya di Albania untuk tidak berpartisipasi dalam demonstrasi tersebut. Pihaknya mengingatkan agar seluruh warga tetap waspada dan memonitor informasi terkini lewat media lokal.
Melansir Euronews, warga negara AS diminta mengikuti seluruh petunjuk dari pemerintah setempat untuk meminimalisir risiko keselamatan selama penyelenggaraan demonstrasi anti-pemerintah.
Sebelumnya, AS dan Uni Eropa (UE) sudah mendesak partai pemerintahan dan oposisi di Albania untuk mengadakan negosiasi dan menghindari aksi kekerasan. Keduanya mengatakan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak akan membuat Albania bergabung dalam UE.