Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Yordania Minta Rusia Setop Rekrut Warganya Jadi Tentara

ilustrasi tentara
ilustrasi tentara (unsplash.com/Artem Bryzgalov)
Intinya sih...
  • Ratusan warga Yordania tinggal di Rusia
  • Rusia dilaporkan merekrut 18 ribu warga asing jadi tentara
  • Bergabung dengan militer Rusia dianggap berisiko besar
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Yordania, pada Kamis (27/11/2025), meminta Rusia untuk berhenti merekrut warganya ke dalam angkatan bersenjata Rusia secara ilegal. Permintaan ini disampaikan setelah dua warga Yordania tewas saat bertempur untuk Moskow.

"Kementerian telah meminta otoritas Rusia untuk menghentikan perekrutan warga Yordania dan memberhentikan setiap warga Yordania yang sudah direkrut," tulis Kementerian Luar Negeri Yordania di platform media sosial X, tanpa menyinggung perang Rusia di Ukraina, di mana ribuan tentara asing bayaran dilaporkan bergabung di pihak Moskow.

Kementerian menegaskan bahwa perekrutan tersebut melanggar hukum domestik Yordania maupun hukum internasional, serta membahayakan nyawa warganya.

1. Ratusan warga Yordania tinggal di Rusia

Tidak diketahui berapa banyak warga Yordania yang telah direkrut dalam angkatan bersenjata Rusia. Namun, menurut data tidak resmi, ratusan warga Yordania diketahui tinggal di Rusia dan lebih dari 20 ribu lainnya pernah menempuh pendidikan di negara-negara bekas Uni Soviet. Secara hukum, warga Yordania dilarang bergabung dengan angkatan bersenjata negara asing.

Pada awal invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina, ketika Moskow mendukung pemerintahan mantan presiden Suriah Bashar al-Assad, Presiden Rusia Vladimir Putin sempat menyatakan keinginannya untuk merekrut 16 ribu pejuang dari Timur Tengah. Suriah sendiri dilaporkan mengirim sekitar 2 ribu tentara regulernya ke Rusia, dilansir dari The Straits Times.

2. Rusia dilaporkan rekrut 18 ribu warga asing jadi tentara

Dilansir dari Al Jazeera, Rusia memiliki rekam jejak dalam merekrut warga asing untuk bertempur di Ukraina. Kepala markas besar tawanan perang Ukraina, Brigadir Jenderal Dmitry Usov, menyebutkan bahwa sedikitnya 18 ribu orang asing dari 128 negara telah direkrut untuk bertempur di pihak Rusia, sementara 3.388 lainnya tewas di medan perang.

Sebagian besar dari tentara asing tersebut diyakini berasal dari Korea Utara. Menurut Dewan Hubungan Luar Negeri yang berbasis di New York, Pyongyang dilaporkan telah mengirim 14 ribu-15 ribu tentara untuk berperang di pihak Rusia pada 2024.

3. Bergabung dengan militer Rusia dianggap berisiko besar

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha juga mengklaim bahwa Rusia merekrut sedikitnya 1.400 warga Afrika dari lebih dari 30 negara. Metode yang digunakan pun berkisar dari penipuan hingga pemaksaan.

Sybiha sebelumnya mengatakan bahwa menandatangani kontrak dengan militer Rusia sama saja dengan menandatangani surat kematian.

“Warga asing di dalam ketentaraan Rusia memiliki nasib yang menyedihkan. Sebagian besar dari mereka segera dikirim ke apa yang disebut sebagai ‘serangan daging,’ di mana mereka dengan cepat terbunuh. Komando Rusia memahami bahwa tidak akan ada pertanggungjawaban atas kematian warga asing, sehingga mereka diperlakukan sebagai manusia kelas dua yang bisa dikorbankan,” tulis Sybiha di X pada 9 November.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Kebakaran Hong Kong: 7 WNI Tewas, 79 PMI Belum Terverifikasi

29 Nov 2025, 08:22 WIBNews