Jakarta Nol Kasus Campak, Dinkes Tingkatkan Kewaspadaan Jelang Lebaran

- DKI Jakarta belum mencatat kasus positif campak, namun Dinkes tetap meningkatkan kewaspadaan menjelang libur Lebaran karena potensi interaksi masyarakat yang meningkat.
- Dinkes DKI melakukan pemantauan aktif lewat program surveillance di sejumlah puskesmas dan menyoroti cakupan vaksinasi campak yang belum mencapai 100 persen di beberapa daerah.
- Kementerian Kesehatan melaporkan lebih dari 10 ribu suspek campak dengan enam kematian hingga minggu ke-8 tahun 2026 serta adanya 45 KLB di 11 provinsi.
Jakarta, IDN Times – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengatakan, hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus positif campak di wilayah Ibu Kota.
Meskipun demikian, pihaknya terus meningkatkan kewaspadaan, terutama menjelang masa libur Lebaran di mana interaksi masyarakat cenderung meningkat.
"Campak saat ini di Jakarta belum ditemukan ada yang positif," ujar Ani Ruspitawati di RSKD Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (10/3/2026).
1. Dinkes proaktif lakukan pemantauan

Ani mengatakan, Dinkes DKI secara proaktif melakukan pemantauan melalui program surveillance di berbagai lokasi puskesmas.
"Jadi kami melakukan pemantauan dengan melakukan surveillance. Ada beberapa lokasi puskesmas yang menjadi lokasi surveillance," kata dia.
2. Banyak daerah yang belum lakukan vaksin

Mengenai upaya pencegahan, Ani mengatakan, saat ini fokus utama Dinkes DKI adalah pemantauan dan surveillance untuk melihat perkembangan kasus.
Menurut dia, salah satu kemungkinan penyebab munculnya kembali kasus campak adalah cakupan vaksinasi yang belum mencapai 100 persen di banyak daerah saat masa pandemik COVID-19.
"Mungkin salah satu penyebabnya karena memang ketika ini masih bawaan ketika COVID, eh vaksinasi campak memang di banyak daerah belum sampai 100 persen, sehingga masih ada beberapa yang belum tervaksinasi," ujar dia.
3. Kasus campak meningkat

Kementerian Kesehatan RI mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan campak menjelang periode mudik dan libur Lebaran. Mobilitas masyarakat yang meningkat dan potensi kerumunan dinilai dapat memperbesar risiko penularan penyakit menular, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Andi Saguni, mengatakan, hingga minggu ke-8 tahun 2026, tercatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus dan 6 kematian.
Selain itu, terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, yaitu Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.
“Tren kasus suspek campak meningkat pada Januari dan mulai menurun sepanjang Februari 2026. Hingga minggu ke-8 tahun ini tercatat lebih dari sepuluh ribu suspek campak. Pemerintah terus melakukan respons cepat untuk mencegah penularan yang lebih luas,” ujar Andi Saguni.

















