Suriah Dukung Upaya Lebanon untuk Lucuti Senjata Hizbullah

- Presiden Suriah Ahmad Al-Sharaa menyatakan dukungan penuh bagi Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah, menilai eskalasi konflik mengancam keamanan kawasan dan stabilitas ekonomi global.
- Presiden Lebanon Joseph Aoun menuduh Hizbullah merusak negaranya serta mengajukan inisiatif empat poin, termasuk gencatan senjata dan negosiasi langsung dengan Israel di bawah pengawasan internasional.
- Upaya pelucutan senjata Hizbullah dinilai sulit terwujud cepat karena pelanggaran gencatan senjata oleh Israel dan keterkaitan erat konflik ini dengan perang AS-Israel terhadap Iran.
Jakarta, IDN Times - Presiden Suriah, Ahmad Al-Sharaa, pada Senin (9/3/2026), menyatakan bahwa Damaskus mendukung upaya Lebanon untuk melucuti senjata kelompok Hizbullah. Ia menilai eskalasi yang kini terjadi menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan kawasan tersebut.
Perang di Timur Tengah meluas ke Lebanon pada 2 Maret, setelah Hizbullah menembakkan roket Israel sebagai respons atas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada hari pertama serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Israel kemudian membalas dengan melancarkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon dan mengerahkan pasukan darat ke wilayah tersebut. Sedikitnya 486 orang dilaporkan tewas di Lebanon akibat serangan-serangan tersebut.
“Kami mendukung Presiden Lebanon Joseph Aoun dalam melucuti senjata Hizbullah,” kata al-Sharaa dalam pertemuan virtual dengan para pejabat tinggi Eropa. Ia memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dapat mengancam stabilitas ekonomi global.
1. Suriah kecam serangan terhadap negara-negara Arab

Pemimpin Suriah itu menegaskan bahwa pihaknya mengecam segala bentuk serangan yang menargetkan kedaulatan negara-negara Arab. Ia juga menyebutkan bahwa Suriah, yang terletak di antara tiga wilayah konflik, Lebanon, Irak, dan Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki, turut menghadapi dampak serius dari situasi ini.
“Stabilitas Suriah merupakan landasan bagi stabilitas kawasan Levant dan wilayah sekitarnya,” ujarnya, dikutip dari Anadolu.
Ia menambahkan bahwa Damaskus telah telah berkoordinasi dengan negara-negara di kawasan untuk menyamakan sikap, dan memperkuat pasukan pertahanan di wilayah perbatasan sebagai langkah pencegahan.
2. Lebanon siap negosiasi dengan Israel untuk akhiri perang

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Lebanon juga menuduh Hizbullah berupaya menghancurkan negara itu dengan keputusannya meluncurkan roket ke Israel.
“Siapa pun yang meluncurkan rudal-rudal tersebut ingin menyebabkan keruntuhan negara Lebanon dan menjerumuskannya ke dalam agresi dan kekacauan. Semuanya demi perhitungan rezim Iran, dan inilah yang sejauh ini berhasil kami gagalkan dan akan terus kami upayakan untuk digagalkan,” kata Aoun kepada para pejabat tinggi Eropa.
Untuk menghentikan perang, ia mengusulkan inisiatif yang terdiri dari empat poin dan meminta komunitas internasional untuk membantu melaksanakannya. Inisiatif tersebut mencakup penerapan gencatan senjata penuh dengan Israel, dukungan logistik bagi tentara Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah dan perundingan langsung dengan Israel di bawah pengawasan internasional, dilansir dari The New Arab.
3. Pelucutan senjata Hizbullah dinilai tidak akan terjadi dalam waktu singkat

Berdasarkan ketentuan gencatan senjata Israel-Hizbullah pada November 2024 setelah lebih dari satu tahun pertempuran, pasukan Israel diwajibkan mundur dari Lebanon selatan, sementara para pejuang Hizbullah harus ditarik ke utara Sungai Litani yang membentang di wilayah selatan negara itu.
Kedua belah pihak juga diharapkan menghentikan serangan, dan wilayah selatan akan diserahkan kepada Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF). Namun, pada kenyataannya, Israel terus melanggar gencatan senjata dengan melancarkan serangan hampir setiap hari ke Lebanon selatan dan timur dengan alasan untuk melemahkan Hizbullah. Tentara Israel juga masih menduduki lima titik perbatasan di Lebanon selatan.
Menurut para analis, isu yang semakin memanas terkait peran Hizbullah di Lebanon tidak dapat diselesaikan sebelum perang di negara tersebut berakhir, mengingat pertempuran yang masih berlangsung dan dampaknya terhadap jajaran LAF. Solusi atas persoalan ini juga dinilai sangat berkaitan dengan perang AS dan Israel melawan Iran.
“Jika terjadi invasi Israel, tentara tidak dapat menangkap seseorang yang melawan Israel di tanah mereka sendiri,” kata Hassan Jouni, pensiunan brigadir jenderal LAF, kepada Al Jazeera.


















