Arah Pertumbuhan Ekonomi yang Berbeda

Kekhawatiran terhadap resesi telah mendorong penurunan pada harga minyak, khususnya harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang sudah turun lebih dari 20 persen, dan kini diperdagangkan pada kisaran level US$90 per barel. Penurunan harga minyak ini menjadi salah satu faktor penyumbang penurunan inflasi di Amerika Serikat (AS), yang juga disambut positif oleh pasar keuangan, tidak hanya di pasar saham dan obligasi di AS, tapi secara global, termasuk di Indonesia.
Inflasi AS bergerak turun dari level tertinggi dalam empat dekade terakhir, 9,1 persen ke level 8,5 persen. Hal ini mengakibatkan pelaku pasar berharap bahwa kebijakan bank sentral The Fed pada September mendatang, akan lebih melunak (dovish). Meskipun demikian, melalui rilisan notulen rapat FOMC Juli lalu, para pejabat The Fed memperkirakan bahwa 9,1 persen bisa saja bukan level tertinggi inflasi untuk saat ini, dan inflasi berpeluang mengalami kenaikan lagi jika terjadi hambatan pada rantai pasokan. Sehingga, menghadapi rapat FOMC bulan September, dikhawatirkan The Fed masih pada laju yang agresif, dengan kenaikan antara 50 basis poin hingga 75 basis poin.
Dengan tidak adanya rapat bank sentral di bulan Agustus ini, maka volatilitas pasar keuangan AS cenderung lebih rendah. Namun, saat ini terdapat dua kelompok pelaku pasar; kelompok pertama, meyakini bahwa secara teori AS sudah masuk ke teritori resesi dengan rilis pertumbuhan negatif selama dua kuartal berturut-turut. Kenaikan suku bunga yang agresif memang salah satu penyebabnya. Jika keadaan seperti ini terus berlanjut, mau tidak mau bank sentral harus mengubah haluan kebijakan moneternya dengan menurunkan suku bunga, maka obligasi pemerintah AS, US Treasury, akan kembali menjadi safe haven asset.
Kemudian, kelompok kedua, meyakini bahwa perlambatan ekonomi saat ini hanyalah sementara atau transitory, karena efek dari gangguan rantai pasokan komoditas. Hal ini diyakini dari indikator ekonomi seperti indeks PMI Manufaktur yang masih berada pada teritori ekspansi, angka pengangguran bulan Juli yang berada pada level 3,5 persen, dimana level tersebut adalah yang terendah sejak 1969.
Tak hanya itu, sektor teknologi pun masih mencatatkan laba bersih di atas ekspektasi. Maka, tidak heran ditengah tingginya angka inflasi AS, tapi pergerakan pasar saham di AS selama bulan Juni juga terlihat atraktif dengan penguatan sektor teknologi dalam indeks Nasdaq sebesar +12,35 persen, indeks Dow Jones +8,72 persen, dan kumpulan emiten terbanyak di AS dalam indeks S&P500 menguat sebesar +9,11 persen.
Kebijakan Zero Covid China
Menilik perkembangan perekonomian terbesar di Asia, China masih belum beranjak dari kebijakan Zero Covid Policy yang menghantam konsumsi dalam negeri. Baru-baru ini, bank sentral China, PBoC kembali memangkas suku bunga pinjaman (Loan Prime Rate) untuk tenor 1 tahun menjadi 3,65 persen dan tenor 5 tahun menjadi 4,3 persen, dengan tujuan untuk menstimulus kredit dan aktivitas ekonomi di China.
Tak hanya itu, pemerintah merilis mega stimulus senilai 1 triliun Yuan yang ditargetkan untuk pembangunan infrastruktur, untuk mencegah perlambatan negara dengan ekonomi terbesar di Asia ini. Di sisi lain, pemerintah tidak terlalu fokus pada sektor properti di China yang menyumbang sekitar 25 persen porsi pada pertumbuhan ekonomi China. Sektor properti China diperkirakan masih akan mengalami kontraksi dengan konsumen menahan pembelian, dan perusahaan pengembang kesulitan mendapatkan pendanaan. Sehingga, target PBoC untuk pertumbuhan ekonomi di 5,5 persen untuk tahun ini sepertinya akan sulit diraih.

Jika pertumbuhan ekonomi sejumlah negara maju nampak lebih lesu, maka beralih ke dalam negeri, Indonesia berada dalam kondisi yang berbeda. Paska ekonomi bertumbuh 5,44 persen YoY di kuartal II, perekonomian domestik masih terus melaju dengan dukungan sektor komoditas, seperti batu bara, minyak bumi dan kelapa sawit. Gangguan rantai pasokan sektor energi global justru mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah juga semakin percaya diri dengan target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen pada RAPBN tahun 2023.
Era komoditas nampaknya memang belum berakhir dalam waktu dekat ini, program hilirisasi batubara yang dipersiapkan oleh Kementerian ESDM hingga 2030, sebagai langkah untuk program transisi energi menuju target emisi nol bersih. Program hilirisasi ini tidak terhenti hanya batubara saja, the new commodity star yang perlu diperhitungkan adalah nikel dan biji besi, di mana Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar di dunia, didukung dengan masalah global warming yang menekan setiap negara untuk beralih pada energi terbarukan, maka permintaan terhadap nikel yang merupakan komponen utama pembuatan baterai untuk electric vehicles (EV) semakin meningkat. Tidak hanya itu saja, kenaikan ekspor Indonesia sebesar 70 persen juga disumbang oleh besi dan baja.
Bank Indonesia (BI), untuk pertama kalinya dalam 18 bulan, menaikkan suku bunga acuan 7-day reverse repo rate sebesar 25 basis poin, kini menjadi 3,75 persen. Kebijakan tersebut diambil lebih cepat dari perkiraan analis, sebagai langkah preventif untuk mencegah kenaikan tingkat inflasi yang semakin merangkak, di tengah rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak jenis pertalite dan bio solar dalam waktu dekat ini. Langkah ini juga sebagai antisipasi bank sentral untuk tetap menjaga perbedaan suku bunga dengan suku bunga AS (Fed Rate), yang saat ini berada di 2,5 persen.
Selain itu, BI juga melakukan kebijakan operation twist dengan melepas kepemilikan SBN bertenor pendek dan membeli di tenor menengah hingga panjang melalui operasi moneter terbuka. Dengan demikian, diharapkan imbal hasil obligasi jangka pendek akan naik dan menarik minat investor untuk berinvestasi, yang diharapkan membantu stabilitas pergerakan nilai tukar rupiah agar tetap stabil. Sementara, pembelian pada obligasi bertenor panjang tentu akan mendorong imbal hasil tenor panjang bergerak lebih rendah, dengan tujuan kurva imbal hasil akan lebih melandai. Kombinasi tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan suku bunga pinjaman jangka panjang, untuk menyeimbangkan dampak dari kenaikan suku bunga acuan terhadap ekonomi.
Melihat kondisi perekonomian baik dalam maupun luar negeri, tentunya akan mempengaruhi sentimen pasar. Sehingga, bagi yang sedang merencanakan investasi, pastikan untuk mengetahui profil risiko Anda sebelum berinvestasi. Anda dapat mengoptimalkan imbal hasil dan mengendalikan risiko dengan melakukan strategi investasi seperti alokasi aset dalam portfolio keuangan, diversifikasi hingga investasi secara bertahap, yang seringkali disebut sebagai dollar cost averaging.
Tak hanya menentukan strategi investasi, kita pun perlu mengeksekusi strategi tersebut. Membuat keputusan investasi di tengah situasi yang kurang kondusif tentunya tidak mudah, apalagi jika mulai berinvestasi dengan cara tradisional, dimana kita perlu datang mengunjungi bank terdekat atau membutuhkan proses tatap muka secara langsung. Namun dengan kemajuan teknologi, tentunya hal ini semakin dipermudah. Tentunya, investor juga perlu memilih bank dengan reputasi dan kredibilitas yang baik, yang juga diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pertimbangkan untuk berinvestasi melalui bank yang dapat menyediakan layanan investasi terintegrasi dengan transaksi keuangan harian untuk memudahkan transaksi pembelian investasi yang dipilih.
Penulis: Juky Mariska, Wealth Management Head Bank OCBC NISP
![[OPINI] Lelaki Harimau: Amis Darah di Balik Estetika Prosa Eka Kurniawan](https://image.idntimes.com/post/20260404/lelaki-harimau-eka-kurniawan_36a7cbd9-63a8-49da-aec5-8c89cc8bb3f6.jpg)
![[OPINI] Beriman Tanpa Marah, Bertoleransi Tanpa Syarat](https://image.idntimes.com/post/20260409/pexels-usman-hadi-wijaya-2158214120-35422495_d42c916b-ae8a-4169-a41e-329f8e376c76.jpg)
![[OPINI] Makan Bergizi Gratis atau Dana Pelajar: Mana yang Lebih Tepat?](https://image.idntimes.com/post/20260408/whatsapp-image-2026-04-08-at-09_69421cbe-6c1d-42aa-97c8-168df448bd22.jpeg)
![[OPINI] Analisis Kebijakan Pertahanan Indonesia dari Ancaman Maritim](https://image.idntimes.com/post/20260327/kri-brawijaya-320_d852154c-499d-4476-afaf-cb45bef97181.jpg)



![[OPINI] Kenapa Tulisan yang Ditulis Sendiri Sering Dibilang Buatan AI?](https://image.idntimes.com/post/20260123/alasan-gak-semua-hal-layak-ditulis-menulis-berlebihan_d71a7bb9-f249-48fb-be75-26f38e13ac2f.jpeg)

![[OPINI] Relasi Epstein-Chomsky, dan Integritas Intelektual Kiri](https://image.idntimes.com/post/20260204/efta00003652-0_3909c293-079d-4870-ba54-8c60af9ef07b.jpg)






![[OPINI] Berhenti Berlindung di Balik Kalimat “Aku Orangnya Emang Begini”](https://image.idntimes.com/post/20251018/pexels-kampus-7555858_e0f0519c-fde0-4ab4-8965-0e12dabbd0b7.jpg)
![[OPINI] Peran Perempuan dalam Wujudkan Harmoni Sosial dan Lingkungan](https://image.idntimes.com/post/20250802/pexels-julia-m-cameron-8841582_4f4cbb51-bd42-46f6-ba78-fa42532e55a6.jpg)