Mengapa Pemimpin Dunia di Davos Harus Mendengarkan Suara Anak Muda

Oleh: Sebastian Buckup, Managing Director, World Economic Forum
Saat para pemimpin politik dan bisnis berkumpul untuk Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, diskusi akan didominasi oleh kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi yang lambat, polarisasi geopolitik, kerusakan iklim, dan kebangkitan kecerdasan buatan (AI). Banyak analisis akan dicurahkan untuk membedah tantangan-tantangan ini. Namun, pengarahan (briefing) paling penting bagi para delegasi mungkin bukan datang dari ekonom atau ahli strategi politik, melainkan dari anak muda dunia.
Laporan Youth Pulse 2026—sebuah survei World Economic Forum terhadap hampir 4.600 anak muda di lebih dari 100 negara—merupakan salah satu himpunan data wawasan pemuda terbesar secara global. Laporan ini memberikan pandangan komprehensif dari mereka yang akan hidup paling lama menanggung konsekuensi keputusan yang dibuat hari ini.
Dengan lebih dari separuh penduduk bumi saat ini berusia di bawah 30 tahun, dunia memiliki populasi muda terbesar dalam sejarah. Ini adalah generasi yang paling melek AI, namun juga yang paling minim dukungan.
Anak muda sangat kurang terwakili dalam keputusan yang akan membentuk masa depan mereka. Laporan ini menunjukkan mengapa hal tersebut tidak adil dan merupakan peluang besar yang terbuang sia-sia.
Prioritas mereka dapat disimpulkan menjadi lima tuntutan yang dapat ditindaklanjuti: lebih banyak lapangan kerja berkualitas dan kewirausahaan; pendidikan yang relevan dengan dunia kerja; adopsi AI yang cepat dengan batasan (guardrails) yang tepat; transparansi yang lebih besar sebagai fondasi kepercayaan; dan aksi iklim sebagai dasar kesejahteraan.
Kerentanan Ekonomi Mengalahkan Segalanya

Terlepas dari pembicaraan tentang perbedaan nilai antar-generasi, anak muda saat ini sangat disibukkan dengan kelangsungan hidup ekonomi. Survei menunjukkan bahwa 57 persen dari mereka mengidentifikasi pekerjaan sebagai prioritas kebijakan utama, dan proporsi serupa menyebut inflasi serta ketidakstabilan sebagai ancaman terbesar bagi hidup mereka. Kekhawatiran finansial ini melampaui isu-isu lain, termasuk perubahan iklim dan gejolak politik.
Hal ini tidak mengejutkan mengingat 70 persen pekerja muda secara global masih terjebak dalam pekerjaan informal atau berupah rendah. Menghadapi kemungkinan terjebak puluhan tahun dalam pekerjaan tanpa jenjang karier (dead-end jobs), minat terhadap kewirausahaan melonjak, baik di negara berkembang maupun negara maju di mana ketidakpastian kerja telah menggerus kepercayaan pada karier tradisional.
Mengatasi krisis pekerjaan pemuda memerlukan pemerintah dan perusahaan untuk memperluas jalur kerja awal karier. Solusi praktisnya termasuk komitmen penggeber kerja besar untuk transparan mengenai jalur masuk pekerjaan (entry-level), serta program magang berbayar.
Pendidikan Perlu "Dikonfigurasi Ulang"

Kebenaran yang tidak nyaman dari survei Youth Pulse 2026 adalah bahwa anak muda tidak lagi percaya sistem pendidikan mampu mempersiapkan mereka untuk bekerja. Meski 46 persen responden memandang pendidikan sebagai pendorong krusial, mereka mengidentifikasi ketidakcocokan yang terus-menerus antara pembelajaran di kelas dan kebutuhan pasar tenaga kerja.
Mereka menginginkan reformasi kurikulum yang memprioritaskan literasi digital, pemikiran kritis, dan kemampuan beradaptasi. Laporan ini menunjukkan anak muda semakin mengharapkan pembelajaran praktis, modular, dan tervalidasi oleh pemberi kerja. Ini bukan argumen untuk meruntuhkan institusi pendidikan, tetapi untuk "menata ulang" (rewiring) sistem tersebut.
Paradoks Kecerdasan Buatan (AI)

Skala peluang dan tantangan yang ditimbulkan oleh AI merupakan salah satu pesan paling tegas dari laporan ini. Adopsi AI melonjak di kalangan usia di bawah 30 tahun, tetapi pelatihan formal tertinggal jauh.
Hampir 60 persen anak muda menggunakan alat AI secara teratur, jauh melampaui generasi yang lebih tua. Namun, dua pertiga responden takut bahwa AI akan mengurangi jumlah peran tingkat pemula (entry-level) dalam tiga tahun ke depan. Mereka berada di garis depan revolusi AI, namun khawatir akan munculnya ketimpangan di mana AI mengotomatisasi tugas-tugas junior, sementara para senior memanfaatkan kekuatannya untuk semakin melesat maju.
Untuk mengatasi ancaman ketimpangan ini, pemerintah dan penggeber kerja perlu memperlakukan literasi AI sebagai keterampilan dasar universal, bukan spesialisasi.
Iklim dan Kepercayaan

Menangani perubahan iklim tetap menjadi perhatian menyeluruh bagi kaum muda. Penting dicatat, ini tidak dilihat sebagai trade-off (kompromi) antara ambisi dan keterjangkauan, tetapi sebagai prasyarat mendasar untuk kemakmuran. Iklim menempati peringkat teratas sebagai ancaman global bagi kaum muda, dan ancaman kedua terbesar bagi kehidupan pribadi mereka setelah ketidakstabilan ekonomi.
Kabar baiknya, anak muda telah muncul sebagai sumber solusi inovatif untuk iklim, mulai dari sistem akuaponik di Zimbabwe hingga inisiatif ketahanan air di Kolombia.
Terakhir, terkait kepercayaan pada politik dan institusi, kepercayaan anak muda terhadap pemimpin komunitas lokal dua kali lebih tinggi dibandingkan terhadap politisi nasional. Ini mencerminkan fakta bahwa bagi generasi ini, legitimasi dibangun di atas kepemimpinan yang dekat, akuntabel, dan efektif memberikan hasil nyata.
Jika para pengambil keputusan hari ini serius ingin membangun sistem yang tepercaya dan tangguh, mereka harus mengangkat pemuda ke peran sebagai "rekan arsitek" (co-architects). Pertanyaannya bukan apakah anak muda siap untuk maju, melainkan apakah mereka yang berkuasa siap untuk mendengarkan. Mengabaikan wawasan mereka akan menjadi sebuah kegagalan strategis.


















