Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Jawaban Kenapa Semua Harga Melambung Tinggi Jelang Lebaran

5 Jawaban Kenapa Semua Harga Melambung Tinggi Jelang Lebaran
talenta.co

Menjelang Lebaran, harga-harga barang selalu saja mengalami kenaikan. Dari kenaikan yang tidak terlalu terasa hingga tidak masuk akal. Alhasil banyak orang yang sengaja mempersiapkan dana jauh-jauh hari. Ibaratnya menabung setahun penuh dari selesainya pesta Lebaran tahun lalu, untuk dibelanjakan di Lebaran tahun ini.

Tidak hanya ibu-ibu yang mengeluh dengan kenaikan harga ini. Bapak-bapaknya juga dibuat bingung. Mereka harus mengatur gaji plus THR agar cukup untuk memenuhi semua kebutuhan Lebaran. Termasuk mudik yang cukup banyak menguras dompet.

Sebenarnya apa, sih yang menyebabkan harga-harga barang mengalami kenaikan? Apakah kita memang harus belanja banyak jelang Lebaran?

1.Permintaan dan daya beli meningkat

rayapos.com
rayapos.com

Sesuai hukum ekonomi, semakin besar permintaan suatu barang maka harga jual dan belinya akan semakin meningkat. Di negeri kita ini, saat bulan puasa dan menjelang Lebaran, daya beli orang-orang meningkat pesat. Beli baju baru, beli pernak-pernik dekorasi rumah, bahan kue, dan entah apa korelasinya ada segelintir orang yang membeli gadget dan kendaraan baru juga.

Banyak yang berbelanja bahan makanan melebihi hari-hari biasa. Padahal kalau dipikir-pikir seharusnya berkurang. Di bulan puasa ini kan makan cuma dua kali, waktu buka dan sahur. Jangan karena menahan lapar dan haus seharian, lantas makanannya harus diistimewakan.

Sayangnya juga, sebagian besar orang menganggap istimewanya Lebaran terlalu berlebihan. Iya memang, sanak saudara berdatangan dan jumlahnya banyak. Tapi tidak harus diimbangi dengan menyediakan hidangan berlebih.

Suka cita bukan hanya soal makan atau menyediakan barang serba baru. Hilang sudah makna kesederhanaan yang diajarkan para Muslim pendahulu.

2.Lebih banyak uang beredar

palembang.tribunnews.com
palembang.tribunnews.com

Ada lelucon begini:

kita ini kembali bekerja keras setelah Lebaran tahun lalu, agar punya tabungan untuk Lebaran tahun ini.

Kalau memang itu yang masih dianut sebagian besar orang sampai saat ini, maka tiap tahun akan terus terjadi peningkatan harga jelang Lebaran. Hukum ekonomi mengatakan, semakin banyak jumlah uang beredar maka semakin tinggi harga-harga di pasaran.

Sebagian besar orang ‘membongkar’ tabungannya selama setahun mendekati momen Lebaran. Mereka membeli apa saja yang sudah direncanakan selama setahun ini. Alhasil, lebih banyak uang yang beredar di pasaran karena kegiatan jual-beli sengaja dipusatkan jelang Lebaran. Ini menjadi peluang untuk meningkatkan harga-harga bagi para penjual.

Simpelnya begini. Kalau dijual dengan harga segitu saja laku keras, dinaikkan sedikit pun akan tetap laku. Iya, kan?

3.Persoalan distribusi

jabar.tribunnews.com
jabar.tribunnews.com

Jelang Lebaran, meningkatnya permintaan sejumlah barang diikuti dengan padatnya aktivitas distribusi. Misal di hari biasa seorang supplier bawang merah di Brebes hanya memberangkatkan dua truk perhari. Jelang Lebaran, supplier itu bisa memberangkatkan lima truk atau bahkan lebih. Semakin banyak juga biaya yang harus dikeluarkan untuk mendistribusikan dagangan.

Itu baru bawang merah saja. Padahal masih banyak lagi barang-barang yang meningkat permintaannya jelang Lebaran. Ditambah harga jasa yang ikut naik saat bulan puasa. Harga jasa itu termasuk ongkos si sopir atau kurir.

Kalau biaya distribusinya saja meningkat, tidak heran harga-harga barangnya ikut melambung.

4.Politik perdagangan

detik.net
detik.net

Sudah tahu kalau tiap tahun selalu terjadi kenaikan harga jelang Lebaran, banyak pedagang dan pemasok yang sengaja 'nakal'. Ada yang sengaja menimbun persediaan sebelum bulan puasa untuk menaikkan harga pasar terlebih dahulu.

Baru setelah itu mulai mengeluarkan dagangannya sedikit demi sedikit. Jadi masih ada peluang menaikkan harga lagi. Minimnya ketersediaan barang di pasar tidak sebanding dengan banyaknya permintaan. Dari situlah harga-harga mulai naik.

'Kenakalan' segelintir pedagang ini berlanjut ketika mendekati hari Lebaran. Banyak pasar atau pedagang yang mulai menutup lapaknya untuk menyiapkan hari Lebarannya masing-masing. Pada momen ini ketersediaan barang akan lebih menurun lagi. Barulah para 'penimbun' itu membuka lapak-lapak dadakannya tapi memasang harga yang lebih tinggi.

Masyarakat sebagai pembeli bisa apa. Mereka butuh barangnya, sehingga rela membayar dengan harga yang lebih tinggi.

5.Kondisi psikologis masyarakat

infoperbankan.com
infoperbankan.com

Poin kelima ini adalah faktor yang paling mendukung terjadinya kenaikan harga. Mayarakat tanpa sadar terlanjur mengamini, bahwa kenaikan harga saat bulan puasa dan Lebaran adalah suatu kewajaran. Mereka merasa bahwa bulan Ramadan adalah bulan istimewa, dan momen Lebaran hanya terjadi setahun sekali. Jadi wajar kalau semuanya serba tak biasa, termasuk harga-harga barang.

Kalau pembelinya saja sudah setuju tanpa diminta, pedagang tinggal melancarkan aksinya. Kebiasaan masyarakat dalam menerima kenaikan harga dari tahun ke tahun menjadikan fenomena ini terus terjadi. Ditambah dengan adanya THR dan semakin banyaknya pilihan barang yang bisa dibeli.

Intinya adalah cermat dan bijak dalam mengeluarkan uang. Bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Kebutuhan bisa dicukupi, tapi keinginan tidak akan pernah bisa ditutupi.

Menuruti keinginan diri sendiri sama seperti memberi makan raksasa yang selalu lapar. Semakin diberi makan malah semakin besar dan mengerikan.

Share
Topics
Editorial Team
Dian Septi Arthasalina
EditorDian Septi Arthasalina
Follow Us

Latest in Opinion

See More

[OPINI] Analisis Kebijakan Pertahanan Indonesia dari Ancaman Maritim

28 Mar 2026, 18:02 WIBOpinion
Benarkah Kuliah Itu Scam?

Benarkah Kuliah Itu Scam?

20 Jan 2026, 12:41 WIBOpinion