Lebaran di Mata Nonmuslim: Harmoni dalam Keberagaman Indonesia

- Momen lebaran dirasakan semua orang di Indonesia, euforia dan pernak-perniknya
- Lingkungan majemuk dengan berbagai latar belakang budaya, agama hingga profesi
- Suasana "nembak" jelang lebaran, kebutuhan lebaran buka 24 jam non stop di pasar
Jakarta, IDN Times - Momen lebaran tak ayal dirasakan semua orang di Indonesia, apapun agamanya pasti akan turut merasakan euforia dan gemercik suasana lebaran dengan berbagai pernak-perniknya.
Sebagai penganut agama Kristen, saya sudah familiar dengan momen lebaran, mulai dari puasa, pemandangan tarawih hingga tabuhan musik sahur yang terdengar di gelapnya subuh.
Hidup di lingkungan yang majemuk dengan berbagai latar belakang budaya, agama hingga profesi menjadi pengalaman tersendiri sebagai seorang Kristen hingga saat ini. Saya merasakan berbagai pengalaman hangat hingga sepi jika bicara momen lebaran. Hal ini yang membuat saya tumbuh dalam kebhinekaan khas Indonesia di tiap momennya.
1. Lingkungan dekat pasar, suasananya selalu riuh

Lingkungan saya adalah pemukiman para pendompleng ekomoni, dekat dengan pasar artinya 24 jam harus sadar bahwa tidak ada kata istrahat bagi masyarakat di sekitarnya.
Di sekitar kediaman saya, di kawasan Tangsel rumah-rumah pengerajin tempe, tahu hingga oncom selalu ngebul setiap hari, tak hanya di momen puasa, tapi setiap hari. Jadi kata sepi tak pernah muncul karena 24 jam mereka akan beraktivitas.
Subuh ke siang, warga akan berjualan. Siang ke sore, produksi pabrik akan berlangsung, malam ke subuh proses pemindahan barang untuk dijual di pasar akan dilakukan, maka tak ada istilah sepi di lingkungan saya.
2. Suasana pasar saat para pedagang "nembak" buat dompleng penghasilan

Tumbuh sebagai anak seorang pedagang juga membuat saya familiar dengan suasana "nembak" atau momen di saat para pedagang memanfaatkan momen jelang lebaran untuk berjualan 24 jam.
Segala macam kebutuhan lebaran seperti daging, bumbu, kulit ketupat hingga sembako akan buka 24 jam non stop di pasar, bagi pedagang itu adalah momen mencari untung semaksimal mungkin, di situlah perputaran uang akan berlangsung menguntungkan bagi pedagang.
3. Kami yang tak mudik jadi "Penjaga Kampung"

Selain melihat dua hal itu, salah satu hal yang familiar lainnya adalah menghadapi lingkungan rumah yang mendadak sepi. Di momen h-3 lebaran seperti ini, kondisi sekitar rumah akan terasa berangsur-angsur sepi karena para perantau akan pulang ke kampung halaman, rata-rata mereka mudik dengan jalur darat, mobil pribadi hingga motor diboyong ikut ke kampung. Ada yang ke Pekalonga, Padang atau sekadar mudik lokal ke Bogor hingga Jakarta. Jadilah kami sekeluarga seperti "penjaga kampung" karena hanya kami dan beberapa warga yang tak pulang.
Barulah nanti usai lebaran, kami ini juga turut merasakan oleh-oleh khas tiap daerah tetangga yang mudik, Wingko sejenis kue yang terbuat dari kelapa muda, tepung beras ketan dan gula kerap jadi langganan di piring rumah kami, karena itulah buah tangan yang kerap diberikan para tetangga, ada juga Kerupuk Angka 8 yang dibawa dan akan jadi teman yang sempurna untuk suasana ngopi di rumah.
4. Operan ketupat wajib dengan olahan dagingnya

Beberapa tetangga yang tak mudik bahkan mengoper piring berisi ketupat dan olahan daging khas rumahnya masing-masing pada kami, ada yang memberi rendang, gulai daging atau opor ayam. Meski tak berlebaran, saya dan keluarga pasti akan mencicipi hidangan khas tersebut dari para tetangga.
Selain iti, terkadang aktivitas makan ke mall akan jadi pelarian saat hari H lebaran di tengah suasana sepi lingkungan rumah terasa. Di mall yang ramai, masyarakat yang tak mudik akan saling bertemu menghabiskan sisa momen lebaran di ibu kota. Meski tak mudik dan merayakan suasana lebaran sangat akrab terasa karena lingkungan dan tetangga yang tak lupa kepada kami, maka kesan Idul Fitri terasa hangat bagi kami-kami yang tidak merayakan.
![[OPINI] Analisis Kebijakan Pertahanan Indonesia dari Ancaman Maritim](https://image.idntimes.com/post/20260327/kri-brawijaya-320_d852154c-499d-4476-afaf-cb45bef97181.jpg)



![[OPINI] Kenapa Tulisan yang Ditulis Sendiri Sering Dibilang Buatan AI?](https://image.idntimes.com/post/20260123/alasan-gak-semua-hal-layak-ditulis-menulis-berlebihan_d71a7bb9-f249-48fb-be75-26f38e13ac2f.jpeg)

![[OPINI] Relasi Epstein-Chomsky, dan Integritas Intelektual Kiri](https://image.idntimes.com/post/20260204/efta00003652-0_3909c293-079d-4870-ba54-8c60af9ef07b.jpg)






![[OPINI] Berhenti Berlindung di Balik Kalimat “Aku Orangnya Emang Begini”](https://image.idntimes.com/post/20251018/pexels-kampus-7555858_e0f0519c-fde0-4ab4-8965-0e12dabbd0b7.jpg)
![[OPINI] Peran Perempuan dalam Wujudkan Harmoni Sosial dan Lingkungan](https://image.idntimes.com/post/20250802/pexels-julia-m-cameron-8841582_4f4cbb51-bd42-46f6-ba78-fa42532e55a6.jpg)

![[OPINI] Setelah Chavez dan Castro: Ujian Revolusi Bolivarian](https://image.idntimes.com/post/20260108/upload_dd95bcd42f154a2960cdda3ed70e7109_4c8d29e1-0272-4459-9dbd-c40eeccc46c8.jpg)
![[OPINI] Nikah Muda: Alasan Kenapa Gak Semua Cerita Cinta Bisa Ditiru](https://image.idntimes.com/post/20260103/pexels-danu-hidayatur-rahman-1412074-2852135_2f19e731-6a9c-4db9-8adb-4642e15915d2.jpg)