Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Hai Kamu, Apa Kabar? Salam Kenal untuk Diriku di Masa Depan

Sumber Gambar: pinterest.com
Sumber Gambar: pinterest.com

Artikel ini merupakan artikel peserta kompetisi menulis #WorthyStory yang diadakan oleh IDNtimes.com. Kalau kamu ingin artikelmu eksis seperti ini, yuk ikutan kompetisi menulis #WorthyStory sekarang juga. Informasi lebih lengkapnya, kamu bisa cek di sini.


"Hello? It’s me. I was wondering if after all these year you’d like to meet, to go over, everything."

Apa kamu ingat penggalan lagu yang hits di akhir tahun 2015 ini? Benar! Ini lagu Adele yang berjudul Hello. Aku tahu, kamu pasti telah mendengarkannya ratusan kali bukan? Masih begitu melakonlis kah kamu sekarang? Seperti judul lagu itu, aku menulis ini sambil berandai-andai jadi apa kamu di masa depan.

Penggalan tadi niatnya adalah untuk mengawaliku bersurat padamu, diriku di masa depan. Aku saat ini masih bergelut dengan keraguan dan rasa malas yang sepertinya tidak punya ujung. Aku berharap sekarang kamu mengurangi semua keraguan dan kecemasanmu.

Aku ingin bertemu denganmu yang penuh percaya diri dalam memutuskan pilihan-pilihan dan juga bahagia menjalani apapun pilihan itu. Aku takut sekali, jika aku sekarang bermalas-malasan sambil berselancar di internet, lalu kamu di sana sedang mengalami kesulitan atas semua ulahku saat ini.

Bagaimana perasaanmu mendapati surat dari dirimu di masa lalu terkubur dalam sebuah kaleng biskuit yang sengaja aku timbun di pekarangan belakang rumah? Sedikit ada nostalgia datang menghampiri, bukan? Kamu lihat, dalam kaleng ini aku sisipi beberapa benda-benda kecil yang mungkin akan membuatmu menertawai dan menangisi masa-masa itu.

Jangan kaget dengan kaleng yang kupilih untuk menyimpan surat spesial ini. Masa lalumu adalah kehidupan yang aku jalani saat ini. Kaleng biskuit ini membawa kenangan manis yang sedikit membuka luka hati.

Aku tahu sekali, setidaknya, mungkin kamu sudah melalui masa-masa sulit itu. Aku masih menjalaninya. Jadi, berusahalah membahagiakan dirimu. Usahaku saat ini, semoga dapat memberi sedikit harapan akan hidup yang lebih baik dari hari sebelumnya.

Hei! Jangan bersedih dan larut di dalamnya. Ceritakan bagaimana suasana tempat tinggalmu. Aku tahu, kamu pasti akan membuat raut wajah kebingungan karena bagaimana bisa kamu menceritakan hal yang terjadi di masamu kepada aku yang berada jauh di belakang.

Aku harap, pohon-pohon masih rindang dan taman tempat biasa aku membawa anjing-anjingku masih sama, atau mungkin lebih indah. Bicara tentang anjing, apa mereka sehat? Mereka sekarang tentunya lebih tua dan sedikit manja. Tapi, kamu tahu ‘kan bagaimana setianya mereka pada kita, bahkan di saat kita tak bisa memberi mereka semangkuk nasi dengan kuah daging.

Aku bertanya-tanya sambil menuliskan surat ini. Manusia seperti apa kamu saat ini? Kamu tahu, aku menulisnya sambil tiduran di pinggir pantai menikmati riuh rendah ombak datang dan pergi. Kamu masih suka laut bukan?

Hai, diriku di masa depan. Apakah kamu sudah bisa memaafkan dirimu sendiri? Apa kamu sudah bersahabat dengan dirimu sendiri? Aku ingin kamu lebih dekat denganku. Semua masalah saat ini ataupun saat kamu membaca surat ini tidak hanya berada pada orang sekitarmu, tapi itu juga mengenai dirimu sendiri.

Aku yakin, kamu menggali dan mencari surat ini ketika kamu ingin memastikan siapa kamu dan bagaimana kamu di masa lalu. Satu hal yang pasti, tidak ada hal yang berubah, kamu tetaplah kamu. Percaya itu, sikap dan tembok yang kamu bangun sekarang hanya sikap defensif yang kamu buat untuk melindungimu dari luka saja.

Aku yakin, kamu akan menjadi seseorang yang lebih baik. Jangan ragu! Karena saat ini aku sedang berusaha membuatmu menjadi seseorang yang mampu, tidak dalam materi, tapi dalam bersikap dan berpikir. Kamu tidak bisa mengubah apapun di masa lalu, tak ada yang bisa diulang kembali, bahkan tindakan sekecil apapun. Semoga kamu lebih bijaksana dalam membuat pilihan-pilihan.

Peluk hangat,

Aku (2015)

#WorthyStory

Share
Topics
Editorial Team
Meyda Bestari
EditorMeyda Bestari
Follow Us

Latest in Opinion

See More

Kritik Dianggap Ancaman: Apa yang Sebetulnya Ditakuti Negara?

03 Jan 2026, 18:58 WIBOpinion