Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Dinosaurus Karnivor Terkecil, Tak Lebih Besar dari Ayam dan Kalkun

5 Dinosaurus Karnivor Terkecil, Tak Lebih Besar dari Ayam dan Kalkun
Microraptor zhaoianus (deviantart.com/atrox1)
  • Parvicursor remotus, Ceratonykus oculatus, dan Ligabueino andesi merupakan karnivor kecil dari Mongolia serta Argentina, dengan panjang sekitar 55 sentimeter hingga 1,2 meter.
  • Epidexipteryx hui berukuran sekitar 44 sentimeter dan berbobot 164 gram, hidup di pohon pada periode Jura, serta memiliki bulu ekor panjang bercabang.
  • Microraptor zhaoianus hidup di Cina sekitar 125 juta tahun lalu; raptor sepanjang 0,8 meter ini berbulu, bersayap empat, dan meluncur antarpohon untuk berburu atau menghindari predator.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Dinosaurus memang sudah lama punah, namun eksistensi mereka akan selalu diingat oleh banyak orang. Sebab, hewan purba tersebut sangat unik berkat ukuran raksasanya, kehidupannya yang tak biasa, dan ciri fisiknya yang benar-benar berbeda dari hewan lain. Jenis dinosaurus juga banyak dan salah satunya adalah Theropoda atau dinosaurus karnivor.

Mungkin, kamu mengira kalau semua dinosaurus karnivor memiliki ukuran besar. Padahal, anggapan tersebut sama sekali tidak benar. Justru, ada beberapa dinosaurus karnivor yang memiliki ukuran kecil dan mungil. Gak cuma kecil, tiap spesies juga unik dan memiliki ciri khas masing-masing. Nah, mari kita bahas beberapa dinosaurus karnivor terkecil di artikel berikut.

  1. 1. Parvicursor remotus

    Parvicursor remotus
    Parvicursor remotus (commons.wikimedia.org/PaleoEquii)

    Dilansir Dinosaurus World, Parvicursor remotus hanya mampu tumbuh hingga sepanjang 55 centimeter. Jika dibandingkan, bahkan dinosaurus berbulu tersebut tak lebih besar dari seekor ayam dewasa. Lebih lanjut, P. remotus hidup di Mongolia pada periode kapur akhir. Sebagai dinosaurus berukuran kecil, kemungkinan ia hanya bisa memakan serangga, invertebrata, dan kadal.

    Soal berat, hewan ini hanya punya bobot sekitar 2.27 kilogram. Badannya ramping, kakinya panjang, dan kemungkinan P. remotus merupakan pelari yang gesit dan lincah. Nah, kemampuan berlari tersebut ia gunakan untuk mengejar mangsa dan kabur dari predator. Tangannya memang mungil, namun para ahli berspekulasi kalau tangan tersebut bisa digunakan untuk menggali.

  2. 2. Ceratonykus oculatus

    Ceratonykus oculatus
    Ceratonykus oculatus (commons.wikimedia.org/Nobu Tamura)

    Laman The Dinosaurus Database menjelaskan kalau Ceratonykus oculatus hidup sekitar 83.5 juta tahun yang lalu di Mongolia. Kemungkinan, ia menghuni gurun, savana, dan area kering. Ukurannya juga tak seberapa besar dengan panjang maksimal sekitar 1.2 meter. Gak cuma itu, tinggi badan hewan ini juga hanya 50 centimeter. Jika disandingkan, ukurannya mirip dengan kalkun. Sayangnya, tak banyak yang diketahui tentang hewan ini. Nah, hal tersebut dapat terjadi karena fosilnya terbilang minim.

  3. 3. Ligabueino andesi

    Ligabueino andesi
    Ligabueino andesi (deviantart.com/gonzaleztorresdaniel)

    Berbeda dari dua spesies sebelumnya yang hidup di Asia, Ligabueino andesi justru hidup di wilayah Amerika Selatan. Secara spesifik, fosilnya ditemukan di Argentina. Semasa hidupnya, L. andesi merupakan hewan terestrial yang hidup di daratan. Andalkan badan ramping dan rahang yang kuat, kemungkinan ia bisa memakan serangga, reptil, dan mamalia kecil. Lebih lanjut, laman Jurassic Park Wiki menerangkan kalau panjang hewan ini sekitar 75 centimeter dan bobotnya sekitar 0.45 kilogram. Nah, ukuran tersebut tak lebih besar dari burung predator seperti elang dan cacacara yang hingga kini masih hidup di Argentina.

  4. 4. Epidexipteryx hui

    Epidexipteryx hui
    Epidexipteryx hui (deviantart.com/EWilloughby)

    Epidexipteryx hui memiliki dua keunikan, yaitu ukuran kecilnya dan perawakannya yang tak biasa. Pertama, laman Dinopedia menjelaskan kalau panjang hewan ini sekitar 44 centimeter dan bobotnya ada di angka 164 gram. Kemudian, ia punya badan yang kurus, berbulu, dan ekor yang bercabang. Nah, cabang tersebut sebenarnya merupakan bulu yang panjang, mirip seperti bulu burung.

    Para ahli beranggapan kalau bulu ekornya berwarna cerah, mirip seperti bulu burung merak. Nantinya, ekor tersebut bisa digunakan untuk beberapa hal, seperti menarik perhatian lawan jenis atau mengintimidasi predator dan pengganggu. Lebih lanjut, ia hidup di periode jura sekitar 160 - 154 juta tahun yang lalu. Terakhir, E. hui merupakan hewan arboreal yang hidup di atas pohon.

  5. 5. Microraptor zhaoianus

    Microraptor zhaoianus
    Microraptor zhaoianus (deviantart.com/prehistorybyliam)

    Microraptor zhaoianus merupakan salah satu dinosaurus raptor terkecil. Bayangkan saja, panjangnya hanya 0.8 meter dan bobot maksimalnya hanya 1 kilogram, bahkan lebih kecil dari ayam dan kalkun modern. Dilansir National Geographic Kids, dinosaurus ini hidup di Cina sekitar 125 juta tahun yang lalu. Berdasarkan bukti fosil, kemungkinan M. zhaoianus merupakan karnivor yang sering memakan serangga dan kadal.

    Seperti spesies Microraptor lain, M. zhaoianus memiliki tubuh yang ramping, bulu lebat, dan empat buah sayap. Andalkan sayap tersebut, ia mampu melompat dan meluncur dari satu pohon ke pohon lain dalam rangka berburu dan kabur dari predator. Warnanya juga cukup khas, yaitu hitam kebiruan, mirip dengan burung gagak. Gak cuma itu, fosil hewan ini juga terbilang lengkap.

    Kehadiran semua dinosaurus tersebut membuktikan kalau dinosaurus kecil tak kalah menarik dari dinosaurus raksasa. Di saat dinosaurus raksasa seperti Tyrannosurus punya gigitan yang kuat, dinosaurus kecil justru bisa meluncur, warnanya memukau, dan perawakannya gak biasa. Maka dari itu, bisa disimpulkan kalau dinosaurus merupakan hewan purba yang sangat unik dan bervariasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More