5 Fakta Kunstkamera, Museum Antropologi dan Etnografi di Rusia

- Kunstkamera didirikan oleh Peter Agung pada tahun 1714 sebagai museum tertua di Rusia yang mengoleksi fenomena alam, terutama janin manusia dan hewan dengan kelainan fisik unik.
- Gedung Kunstkamera bergaya Barok merupakan simbol Saint Petersburg sebagai pusat sains, dan menjadi bagian inti dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia sejak tahun 1724.
- Museum ini pernah dilanda kebakaran pada tahun 1747, tetapi berhasil memulihkan koleksinya yang luas hingga kini mencapai hampir 2 juta artefak dari berbagai benua.
Secara umum, museum adalah jendela waktu tempat kita menyimpan dan mempelajari benda-benda berharga dari masa lalu agar tidak hilang dimakan zaman. Saat melangkah ke dalam museum, biasanya kita akan disambut oleh deretan lukisan indah, patung marmer yang megah, atau fosil dinosaurus yang gagah. Namun, Kunstkamera justru berbeda.
Berlokasi di St. Petersburg, Rusia, Kunstkamera bukanlah museum seni atau sejarah biasa. Alih-alih memajang keindahan visual, museum tertua di Rusia ini justru mengoleksi "keajaiban" yang mungkin membuat bulu kuduk berdiri. Perbedaan utamanya terletak pada tujuannya: jika museum lain memamerkan kesempurnaan, Kunstkamera memamerkan ketidaksempurnaan alam untuk membuktikan bahwa sains lebih nyata daripada takhayul.
Penasaran mengapa seorang kaisar justru terobsesi mengumpulkan benda-benda yang dianggap menyeramkan oleh orang awam? Yuk, kita intip lebih dalam koleksi unik dan sejarah tak terduga di balik museum ikonik ini!
1. Berawal dari ambisi besar Peter Agung

Sebagai bagian dari ambisinya membangun St. Petersburg menjadi ibu kota yang modern, Peter Agung mendirikan Kunstkamera pada tahun 1714. Berbeda dengan bangsawan Eropa lain yang lebih menyukai benda seni buatan manusia, Peter justru sangat tertarik pada fenomena alam (naturalia), terutama janin manusia dan hewan yang memiliki kelainan fisik unik. Melalui koleksi ini, ia mengeluarkan perintah tegas agar bayi-bayi yang lahir cacat dari seluruh penjuru Rusia dikirim ke koleksinya. Tujuannya bukan untuk sekadar pamer, melainkan untuk membuktikan kepada rakyatnya bahwa cacat lahir adalah murni kecelakaan alam dan bukan tanda-tanda setan atau takhayul yang harus ditakuti.
Seiring bertambahnya koleksi yang dibeli dari para ahli di Belanda, Peter mulai membangun gedung permanen bergaya Barok yang megah untuk menampung semua benda tersebut. Pembelian besar-besaran dari kolektor ternama seperti Albertus Seba dan Frederik Ruysch membuat museum ini membutuhkan ruang khusus yang lebih luas. Proses pengumpulan dan pengolahan data ilmiah dari koleksi-koleksi inilah yang kemudian menjadi fondasi penting bagi berdirinya Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, sekaligus menandai dimulainya era penelitian ilmiah yang modern di negara tersebut.
2. Bangunan simbolis bergaya Barok

Gedung Kunstkamera yang berdiri megah di tepi Sungai Neva merupakan bangunan pertama di Rusia yang dirancang khusus untuk museum. Menurut legenda, Peter Agung sendiri yang memilih lokasinya setelah terkesima melihat sebuah pohon pinus unik yang cabangnya tumbuh melilit batangnya sendiri. Ia menganggap keunikan alam tersebut sebagai pertanda, lalu memerintahkan pohon itu ditebang untuk disimpan dan mendirikan "Ruang Keajaiban" tepat di titik tersebut. Hingga kini, potongan pohon pinus legendaris itu masih bisa ditemukan di dalam museum sebagai bagian dari sejarah berdirinya.
Pembangunan gedung bergaya Barok awal ini dimulai pada tahun 1718 dan melibatkan banyak arsitek ternama dari berbagai negara. Meski Peter Agung wafat sebelum gedung ini selesai, proyek tetap berlanjut hingga akhirnya dibuka untuk umum pada tahun 1728. Arsitekturnya sangat ikonik dengan menara tinggi yang dihiasi bola besi melambangkan tata surya, yang menjadi simbol Saint Petersburg sebagai pusat sains. Gedung ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu sayap timur untuk perpustakaan dan sayap barat untuk koleksi museum, yang keduanya dihubungkan oleh menara pusat tempat teater anatomi, ruang untuk Globus Gottorp, dan observatorium astronomi.
3. Bagian inti dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia

Sejak awal berdirinya pada tahun 1724, Kunstkamera dan perpustakaannya bukanlah sekadar tempat pameran, melainkan bagian inti dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia. Peter Agung merancang museum ini sebagai "alat kerja" bagi para ilmuwan, di mana mereka bisa meneliti benda-benda alam dan menggunakan instrumen ilmiah untuk kemajuan riset. Hubungan ini saling menguntungkan karena para anggota Akademi melakukan ekspedisi untuk mengisi koleksi museum, sementara koleksi tersebut membantu mereka mengembangkan bidang ilmu baru seperti etnografi, arkeologi, dan antropologi di Rusia.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan yang semakin spesifik pada tahun 1830-an, Kunstkamera yang tadinya menyimpan segala jenis benda mulai dipecah menjadi beberapa museum khusus yang lebih profesional. Koleksi besarnya melahirkan lembaga-lembaga baru yang mandiri, seperti Museum Zoologi, Botani, hingga Museum Asia dan Mesir. Pemisahan ini merupakan langkah besar dalam dunia sains Rusia, karena setiap bidang ilmu akhirnya memiliki anggaran, staf, dan laboratorium sendiri untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam dan terorganisir.
4. Pernah dilanda kebakaran
Pada tanggal 5 Desember 1747, sebuah kebakaran dahsyat melanda gedung Kunstkamera dan menghanguskan bagian menaranya yang berisi observatorium serta instrumen astronomi. Benda ikonik seperti bola dunia raksasa (Globus Gottorp) hancur hingga menyisakan kerangka logamnya saja, sementara koleksi etnografi dari Siberia dan Tiongkok ikut ludes terbakar. Dalam kepanikan tersebut, petugas museum terpaksa melemparkan buku, dokumen, dan benda-benda pameran ke atas tumpukan salju di luar jendela untuk menyelamatkannya dari api. Ironisnya, banyak koleksi yang justru lebih rusak akibat proses evakuasi yang kasar tersebut atau hilang karena dijarah oleh orang-orang yang melintas.
Pasca-kebakaran, Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia bekerja keras memulihkan koleksi yang hilang dengan mengumpulkan kembali barang-barang dari berbagai provinsi dan membeli koleksi baru dari lelang di Amsterdam. Benda-benda yang selamat sempat diungsikan ke istana-istana terdekat sebelum akhirnya bisa dipamerkan kembali di gedung yang telah dipugar pada tahun 1766. Meskipun koleksi dalamnya perlahan pulih, butuh waktu hingga 200 tahun bagi museum tertua di Rusia ini untuk benar-benar kembali ke tampilan aslinya seperti sebelum kebakaran terjadi.
5. Memiliki koleksi yang luas

Kunstkamera menyimpan hampir 2 juta artefak yang dikumpulkan sejak era Peter Agung, mulai dari koleksi anatomi yang unik hingga instrumen ilmiah canggih seperti Globus Gottorp. Koleksi awal ini didapat dari hasil perburuan benda unik di Eropa serta ekspedisi besar ke wilayah Rusia yang belum terjamah, seperti Siberia dan Kamchatka. Melalui pameran janin dan anatomi manusia, Peter ingin mendidik masyarakat agar melihat kelainan fisik sebagai fenomena alam ilmiah, sekaligus memamerkan kemajuan teknologi melalui peralatan bedah pribadi dan laboratorium ilmuwan Mikhail Lomonosov.
Meskipun sempat mengalami kebakaran hebat pada tahun 1747, museum ini justru semakin giat mengumpulkan kekayaan budaya dari seluruh dunia. Berbagai ekspedisi geografis dan pelayaran keliling dunia membawa pulang artefak langka, mulai dari pakaian dukun Siberia, senjata suku asli Amerika, hingga koleksi penjelajah James Cook di Pasifik. Kini, Kunstkamera telah bertransformasi menjadi arsip raksasa yang menyatukan sejarah peradaban manusia dari berbagai benua—seperti Jepang, Afrika, hingga Indonesia—dalam satu atap sebagai bukti keberagaman budaya dan perjalanan ilmu pengetahuan.
Kunstkamera menjadi pengingat bahwa dunia ini jauh lebih luas dan penuh keajaiban daripada yang kita bayangkan, di mana Peter Agung mengajarkan kita untuk tidak takut pada hal yang belum dipahami, melainkan justru mempelajarinya lebih dalam. Museum ini menantang kita untuk terus membuka mata dalam menghargai setiap perbedaan dan ketidaksempurnaan alam sebagai cerita ilmiah yang berharga, sekaligus membuktikan bahwa ilmu pengetahuan adalah cahaya terkuat yang mampu menghapus kegelapan takhayul.


















