Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Program Rudal Balistik Iran, Terbesar di Timur Tengah!

5 Fakta Program Rudal Balistik Iran, Terbesar di Timur Tengah!
Peluncuran rudal balistik Shahab-3 milik Iran. Foto ini secara spesifik diambil saat latihan militer "Great Prophet 7" (Nabi Mulia 7) oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Juli 2012. (commons.wikimedia.org/Hossein Velayati)
Intinya Sih
  • Iran memiliki program rudal balistik terbesar di Timur Tengah, dikembangkan sejak Perang Iran-Irak untuk menggantikan kelemahan angkatan udara akibat sanksi internasional.
  • Negara ini mengoperasikan lebih dari 3.000 rudal dengan jangkauan hingga 3.000 km, termasuk tipe hipersonik dan presisi tinggi yang mampu mencapai Eropa serta diluncurkan dari pangkalan bawah tanah tersebar.
  • Ketegangan global meningkat karena beberapa rudal Iran berpotensi membawa hulu ledak nuklir, memicu kekhawatiran dunia atas ancaman keamanan regional dan internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dalam dunia militer, rudal balistik adalah jenis roket yang diluncurkan tinggi ke atmosfer sebelum jatuh kembali mengikuti gaya gravitasi untuk menghantam sasaran dengan kecepatan luar biasa. Bagi Iran, teknologi ini bukan sekadar senjata, melainkan pilar pertahanan terpenting mereka. Sebagai pemilik armada rudal terbesar di Timur Tengah, Iran mengembangkan berbagai rudal jarak pendek hingga menengah untuk menutupi kelemahan angkatan udaranya yang terhambat oleh sanksi internasional selama puluhan tahun.

Program ini dijalankan secara mandiri melalui kolaborasi antara Organisasi Industri Dirgantara (AIO) dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Iran membangun kekuatan rudal ini sebagai pesan tegas kepada para pesaing regional dan global seperti Arab Saudi, Israel, hingga Amerika Serikat. Namun, di balik kecanggihan teknologinya, pengawasan ketat dunia internasional terus membayangi, terutama terkait isu pengembangan hulu ledak nuklir yang memicu berbagai sanksi ekonomi.

Lantas, sejauh mana sebenarnya jangkauan dan daya hancur dari teknologi rudal yang menjadi kebanggaan sekaligus kontroversi bagi Iran ini? Mari kita bedah!

1. Berawal dari Perang Iran-Irak (1980–1988)

Ledakan di Pangkalan Udara Mehrabad di Teheran setelah pasukan Irak menyerang Teheran pada 22 September 1980.
Ledakan di Pangkalan Udara Mehrabad di Teheran setelah pasukan Irak menyerang Teheran pada 22 September 1980. (commons.wikimedia.org/Abbas Fathi-عباس فتحی)

Program rudal Iran berawal dari kebutuhan mendesak selama Perang Iran-Irak (1980–1988) untuk membalas serangan Irak di tengah keterbatasan angkatan udara mereka. Memulai langkahnya dengan membeli rudal "Scud" dari Libya, Korea Utara, dan Cina, Iran kemudian berhasil melakukan rekayasa balik untuk menciptakan rudal buatan sendiri seperti seri Shahab. Memasuki era 2000-an, teknologi mereka melonjak dengan pengembangan rudal berbahan bakar padat yang lebih cepat diluncurkan dan memiliki jangkauan lebih jauh, hingga mampu menjangkau jarak sekitar 1.300 km hingga 3.000 km.

Meskipun sempat mengalami kerugian besar selama konflik dengan Israel pada tahun 2025, Iran menunjukkan ketahanan dengan mempercepat produksi massal rudal mereka kembali. Melalui jaringan pemasok internasional, Iran dilaporkan berhasil mendatangkan ribuan ton bahan kimia khusus dari Tiongkok untuk memproduksi bahan bakar rudal canggih. Walaupun sempat dijatuhi sanksi internasional kembali oleh PBB pada akhir 2025, Iran tetap berhasil menambah stok senjatanya hingga mencapai sekitar 2.000 hingga 3.000 unit, termasuk rudal model terbaru seperti Kheibar Shekan.

Memasuki tahun 2026, program ini semakin memicu ketegangan internasional setelah Iran melakukan uji coba besar-besaran di berbagai kota utama. Dalam konflik terbaru, rudal-rudal ini digunakan untuk menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat serta negara-negara tetangga. Meski serangan udara gabungan AS dan Israel berhasil mengurangi jumlah peluncuran harian secara drastis, tetapi pejabat Iran mengeklaim bahwa jangkauan rudal mereka kini cukup untuk menjangkau seluruh Eropa, bahkan mereka mempertimbangkan peluncuran dari laut untuk mencapai target yang lebih jauh.

2. Punya rudal balistik lebih dari 3.000 unit dengan jangkauan bervariasi

Fattah-1, rudal balistik hipersonik pertama buatan Iran. Rudal ini dikembangkan oleh divisi kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pertama kali diperkenalkan kepada publik pada Juni 2023. Fattah-1 dirancang sebagai bagian dari strategi pertahanan Iran untuk menembus sistem pertahanan u
Fattah-1, rudal balistik hipersonik pertama buatan Iran. Rudal ini dikembangkan oleh divisi kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pertama kali diperkenalkan kepada publik pada Juni 2023. Fattah-1 dirancang sebagai bagian dari strategi pertahanan Iran untuk menembus sistem pertahanan udara yang canggih. (commons.wikimedia.org/Hossein Zohrevand)

Iran memiliki koleksi rudal balistik yang sangat besar dan bervariasi, dengan total persediaan diperkirakan melebihi 3.000 unit. Kekuatan ini terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu rudal jarak pendek (SRBM) yang menjangkau hingga 1.000 km dan rudal jarak menengah (MRBM) yang mampu menjangkau hingga 3.000 km. Berdasarkan jangkauan tersebut, wilayah seluruh Timur Tengah hingga negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman berada dalam radius serangan Iran. Bahkan, pejabat Iran menyebutkan bahwa kota-kota besar di Amerika Serikat pun bisa menjadi sasaran jika rudal diluncurkan dari platform di lautan.

Untuk kebutuhan serangan jarak pendek, Iran mengandalkan seri Shahab dan keluarga Fateh-110 yang berbahan bakar padat. Keunggulan bahan bakar padat ini membuat rudal seperti Fateh-313 dan Zolfaghar lebih praktis karena dapat disiapkan dengan cepat. Selain itu, terdapat rudal cerdas Qiam-1 dan seri Hormuz yang dikhususkan untuk menyasar kapal laut. Dari sisi ekonomi, biaya pembuatan rudal ini cukup beragam, mulai dari sekitar 110.000 USD untuk model dasar Fateh-110 hingga 3,5 juta USD untuk model Qiam-1 yang lebih kompleks.

Pada kategori jarak menengah, Iran memiliki teknologi yang jauh lebih mematikan seperti rudal hipersonik Fattah-1 dan Fattah-2 yang sanggup melesat hingga 13 kali kecepatan suara. Ada juga rudal Sejjil yang menggunakan teknologi dua tahap berbahan bakar padat, serta Khorramshahr yang mampu membawa banyak hulu ledak sekaligus dengan biaya produksi mencapai 8 juta USD per unit. Pengembangan rudal-rudal presisi tinggi seperti Kheybar Shekan dan Emad menunjukkan bahwa fokus Iran saat ini bukan hanya pada seberapa jauh rudal bisa terbang, tetapi juga seberapa akurat rudal tersebut mengenai sasaran.

3. Pangkalan rudal bawah tanah tersebar di hampir seluruh provinsi dan kota

Peluncuran rudal balistik Shahab-3 milik Iran. Foto ini secara spesifik diambil saat latihan militer "Great Prophet 7" (Nabi Mulia 7) oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Juli 2012.
Peluncuran rudal balistik Shahab-3 milik Iran. Foto ini secara spesifik diambil saat latihan militer "Great Prophet 7" (Nabi Mulia 7) oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Juli 2012. (commons.wikimedia.org/Hossein Velayati)

Iran membangun jaringan pertahanan yang sangat kuat melalui pangkalan rudal bawah tanah yang tersebar di hampir seluruh provinsi dan kota di negeri tersebut. Banyak dari fasilitas ini, yang sering disebut sebagai "kota rudal," terletak di kedalaman hingga 500 meter untuk melindunginya dari serangan udara. Beberapa pangkalan strategis seperti di Khorramabad, Imam Ali, dan Bakhtaran memiliki silo raksasa yang mampu meluncurkan rudal balistik jarak menengah seperti Shahab-3, yang secara geografis diposisikan untuk menjangkau target di Israel, negara-negara Teluk, hingga wilayah Eropa.

Di wilayah pesisir selatan dan sepanjang Teluk, angkatan laut IRGC juga terus mengungkap pangkalan rahasia baru guna memperkuat kendali maritim mereka. Meskipun beberapa lokasi seperti pangkalan di Tabriz sempat mengalami kerusakan akibat serangan udara pada Juni 2025, Iran terus memperluas kapasitas produksinya dan menjaga kerahasiaan ketat atas pangkalan-pangkalan lainnya. Pembangunan infrastruktur bawah tanah yang masif ini menjadi bukti upaya Iran dalam memastikan kelangsungan gudang amunisi militernya meski berada di bawah tekanan militer internasional.

4. Serangannya semakin meluas

Peta jangkauan rudal balistik Iran.
Peta jangkauan rudal balistik Iran. (commons.wikimedia.org/Defense Intelligence Agency)

Sepanjang tahun 2024, Iran tercatat dua kali meluncurkan serangan rudal balistik besar-besaran ke arah Israel melalui operasi militer "True Promise" I dan II. Dalam gelombang serangan ini, ratusan rudal ditembakkan dengan klaim hasil yang beragam. di mana pihak Israel menyatakan berhasil mencegat sebagian besar rudal dengan tingkat keberhasilan hingga 99%, sementara laporan lain menyebutkan angka intersepsi yang sedikit lebih rendah. Secara total, selama periode konflik tersebut, lebih dari 500 rudal balistik telah diluncurkan, tetapi hanya sebagian kecil yang dilaporkan berhasil mendarat di area pemukiman penduduk.

Memasuki awal tahun 2026, intensitas serangan ini semakin meluas sebagai respons terhadap serangan gabungan dari Amerika Serikat dan Israel. Iran tidak lagi hanya memfokuskan sasarannya pada satu titik, tetapi juga mulai mengarahkan rudal balistiknya ke berbagai negara di kawasan sekitarnya, termasuk Yordania, Qatar, Kuwait, Bahrain, hingga Uni Emirat Arab. Hal ini menunjukkan dinamika perang yang semakin kompleks, di mana teknologi rudal Iran menjadi instrumen utama dalam melakukan serangan balasan di tingkat regional.

5. Bayang-bayang nuklir di balik gudang amunisi Iran

Khorramshahr, sebuah rudal balistik jarak menengah buatan Iran dengan jangkauan sekitar 2.000 kilometer. Ini adalah rudal berbahan bakar cair yang dapat dipindahkan melalui jalan darat, dan mampu membawa beberapa hulu ledak.
Khorramshahr, sebuah rudal balistik jarak menengah buatan Iran dengan jangkauan sekitar 2.000 kilometer. Ini adalah rudal berbahan bakar cair yang dapat dipindahkan melalui jalan darat, dan mampu membawa beberapa hulu ledak. (commons.wikimedia.org/Mohammad Hassanzadeh)

Beberapa rudal balistik tercanggih milik Iran, seperti Shahab-3, Ghadr-1, dan Khorramshahr, dirancang dengan kapasitas muatan dan jangkauan yang memungkinkan mereka membawa hulu ledak nuklir. Model seperti Khorramshahr memiliki moncong yang lebih lebar untuk menampung perangkat nuklir, sementara rudal jarak menengah lainnya seperti Sejjil dan Emad mampu menjangkau seluruh Timur Tengah hingga sebagian Eropa. Meski Iran sering membantah ambisi senjata nuklirnya, komunitas internasional tetap khawatir karena teknologi rudal ini memiliki fungsi ganda yang dapat diadaptasi menjadi pengantar senjata pemusnah massal.

Ketegangan mencapai puncaknya pada Oktober 2025, ketika laporan intelijen menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran telah mengizinkan pengembangan hulu ledak nuklir berukuran kecil untuk dipasang pada rudal balistik. Dengan persediaan uranium yang sudah diperkaya dan penggunaan mesin sentrifugal canggih di situs rahasia, para ahli memperkirakan Iran mampu memproduksi bahan nuklir tingkat senjata hanya dalam hitungan minggu. Hal ini memicu kekhawatiran global yang serius, terutama setelah berakhirnya pembatasan PBB, karena kombinasi antara rudal presisi tinggi dan potensi hulu ledak nuklir ini dianggap mengancam stabilitas keamanan dunia.

Program rudal balistik Iran telah bertransformasi dari sekadar alat pertahanan menjadi kekuatan strategis yang menentukan peta keamanan di Timur Tengah dan dunia. Sejak akhir Februari 2026, Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal balistik intensif ke target-target di Israel dan pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah sebagai bagian dari operasi militer "True Promise 4" (Gelombang 40). Operasi ini melibatkan penggunaan persenjataan berat dan canggih, seperti rudal Khorramshahr-4, yang diluncurkan sebagai respons langsung atas eskalasi konflik yang kian memanas di kawasan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More