Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Burung Kiwi, Burung Tanpa Sayap yang Terancam Punah
Ilustrasi Burung Kiwi di Pinggir Laut (pixabay.com/Georg_Wietschorke)

Burung kiwi yang memiliki nama latin Apteryx merupakan salah satu burung endemik Selandia Baru. Bentuknya berbeda dari burung pada umumnya karena tidak memiliki sayap yang berfungsi, berbulu menyerupai rambut, dan aktif pada malam hari. Burung kiwi terbagi dalam beberapa spesies, di antaranya kiwi coklat selatan (Apteryx australis), kiwi pulau utara (Apteryx mantelli), dan kiwi berbintik kecil (Apteryx owenii).

Selain penampilannya yang khas, ada beberapa fakta tentang kiwi yang mungkin belum banyak diketahui, mulai dari cara bertelurnya, kondisi fisiknya, hingga asal-usul kekerabatannya dengan burung lain. Berikut lima fakta burung kiwi, yuk simak selengkapnya.

1. Ukuran Telurnya Mencapai 20 Persen dari Berat Tubuh Betina

Burung kiwi di rerumputan (unsplash.com/ Wolfgang Hasselmann)

Dilansir Save the Kiwi, telur kiwi bisa mencapai 20 persen dari berat tubuh induk betinanya. Ini menjadikannya salah satu proporsi telur terbesar dibandingkan berat tubuh di antara semua jenis burung yang ada di dunia. Ukuran telur yang besar ini berkaitan langsung dengan kondisi anak kiwi saat menetas. Anak kiwi lahir dalam keadaan sudah berkembang penuh, lengkap dengan bulu, serta mampu mencari makan sendiri tanpa perlu bantuan dari induknya sejak hari pertama.

2. Suhu Tubuhnya Lebih Rendah dan Menyerupai Mamalia

Ilustrasi burung kiwi berbintik kecil (commons.wikimedia.org/Kimberley Collins)

Laman San Diego Zoo Animals & Plants menjelaskan bahwa kiwi memiliki suhu tubuh yang lebih rendah dibandingkan burung lain pada umumnya, dan tulangnya berisi sumsum seperti hewan mamalia, bukan tulang berongga yang biasa dimiliki burung untuk mendukung kemampuan terbang. Karakteristik ini muncul karena kiwi berevolusi di lingkungan yang minim predator mamalia selama jutaan tahun. Akibatnya, kiwi lambat laun mengambil peran ekologis yang di wilayah lain biasanya dijalankan oleh hewan menyusui, bukan oleh unggas.

3. Tingkat Kematian Anak Kiwi Mencapai 95 Persen sebelum Usia 6 Bulan

Ilustrasi burung kiwi coklat selatan (commons.wikimedia.org/William Stephens)

Menurut laman San Diego Zoo Animals & Plants, sekitar 95 persen anak kiwi mati sebelum mencapai usia enam bulan, dan populasi kiwi secara keseluruhan menyusut sekitar 10 persen setiap dua tahun jika tidak ada intervensi konservasi. Penyebab utamanya adalah predator yang dibawa masuk oleh manusia ke Selandia Baru, seperti anjing, kucing, dan cerpelai. Kiwi tidak memiliki mekanisme pertahanan alami terhadap predator-predator tersebut karena spesies ini tidak pernah menghadapinya selama proses evolusi berlangsung.

4. Proses Kawinnya Diawali dengan Perilaku Menepuk Pasangan

Ilustrasi burung kiwi pulau utara dari Selandia Baru (commons.wikimedia.org/The.Rohit)

Laman Discover Wildlife menjelaskan bahwa kiwi jantan akan mengikuti betina sambil mendengus dan menepuk tubuhnya sebagai bagian dari ritual kawin. Apabila betina tertarik, proses perkawinan bisa terjadi tiga kali atau lebih dalam satu malam saat musim kawin berlangsung. Perilaku ini menunjukkan bahwa kiwi sebenarnya memiliki pola komunikasi tersendiri, meski hidupnya soliter dan hanya aktif di malam hari. Sebaliknya, jika betina tidak tertarik, ia akan langsung menjauh dari jantan yang mendekatinya itu.

5. Predator dan Kehilangan Habitat Jadi Penyebab Utama Kiwi Hampir Punah

Ilustrasi burung kiwi berbintik kecil atau Apteryx owenii (commons.wikimedia.org/Peter de Lange)

Dilansir Save the Kiwi, ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup kiwi datang dari predator seperti cerpelai, anjing, dan kucing yang dibawa masuk manusia ke Selandia Baru. Karena berevolusi tanpa predator mamalia selama jutaan tahun, kiwi tidak memiliki mekanisme pertahanan alami untuk menghadapi ancaman semacam itu, sehingga anak kiwi menjadi sasaran empuk sejak menetas.

Selain predator, deforestasi besar-besaran untuk kebutuhan pertanian dan permukiman turut menyusutkan habitat asli kiwi secara drastis, memaksa populasinya terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih rentan. Meski kondisinya cukup mengkhawatirkan, program pengendalian predator yang dilakukan secara intensif di beberapa wilayah terbukti mampu membantu populasi kiwi tumbuh kembali secara bertahap.

Itulah lima fakta menarik tentang burung kiwi. Mulai dari ukuran telurnya yang mencapai seperlima berat tubuh induknya, suhu tubuhnya yang menyerupai mamalia, hingga predator yang menjadi ancaman terbesarnya. Statusnya yang kini terancam punah membuat pelestarian hutan dan pengendalian predator menjadi kunci utama agar burung nasional Selandia Baru ini tidak benar-benar hilang dari muka bumi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article