Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fakta Kebakaran Peshtigo, Kebakaran Hutan Mematikan di Sejarah AS
ilustrasi kebakaran Peshtigo (commons.wikimedia.org/U.S. Forest Service- Pacific Northwest Region)
  • Kebakaran Peshtigo pada 8 Oktober 1871 dipicu kekeringan, material kayu, pembakaran lahan, serta angin kencang yang menyatukan api-api kecil menjadi badai api dan tornado api.
  • Dalam kurang dari 48 jam, api melahap lebih dari 1,5 juta hektar di Wisconsin dan Michigan, menghancurkan Peshtigo dalam sekitar satu jam serta melumpuhkan upaya pemadaman.
  • Sedikitnya 2.000 orang diperkirakan tewas, 1.500 terluka, dan 3.000 kehilangan rumah; tragedi ini kurang dikenal karena terjadi bersamaan dengan Kebakaran Besar Chicago dan berita terlambat tersiar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Meskipun kebakaran Peshtigo adalah kebakaran paling mematikan yang pernah terjadi di Amerika Serikat, tapi hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Jika kamu pernah mendengar informasi tentang kebakaran besar Chicago, kamu mungkin tidak menyadari kalau Kebakaran Peshtigo ternyata terjadi pada hari yang sama persis.

Kebakaran Peshtigo terlupakan karena dibayangi oleh kebakaran besar Chicago. Adapun, semakin banyaknya kebakaran hutan yang mematikan di seluruh dunia setiap tahunnya, tapi tidak ada salahnya kita mengingat kembali kebakaran terburuk dalam sejarah Amerika ini. Seperti beberapa bencana iklim paling parah, kebakaran Peshtigo disebabkan oleh berbagai variabel yang diperparah oleh kekeringan. Berikut ini kita akan membahas kebakaran hutan paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat.

1. Salah satu faktor kebakaran Peshtigo adalah kekeringan

ilustrasi kekeringan (unsplash.com/Oleksandr Sushko)

Tahun 1871 merupakan tahun yang sangat kering bagi negara bagian Wisconsin dan Michigan. Selain kurangnya salju selama bulan-bulan musim dingin, terjadi kekeringan di wilayah tersebut selama musim panas. Akibatnya, banyak rawa mengering, dan kebakaran sporadis mulai terjadi. Menurut buku berjudul Watertown Fire Department, 1857—2007 karya Ken Riedl, Sungai Rock terlihat mengering, bahkan memengaruhi berbagai pabrik yang membutuhkan air dari sungai untuk tetap beroperasi.

Sejumlah faktor turut memicu kobaran api ini. Fire Engineering menulis bahwa perusahaan kereta api juga membersihkan semak belukar dari rel, tapi menumpuknya secara sembarangan. Hal ini menjadi salah satu faktor terjadinya kebakaran karena adanya percikan api dari lokomotif uap yang lewat.

Banyak kota, seperti Peshtigo, propertinya terbuat dari kayu, mulai dari bangunan hingga trotoar. Apalagi sebagian besar industri di daerah tersebut menggunakan kayu, dan banyak tumpukan kulit kayu serta serbuk gergaji. Sayangnya, semua itu akhirnya menjadi bahan bakar bagi api yang tak terhindarkan.

Faktor lain yang menyebabkan peningkatan jumlah kebakaran adalah sistem pertanian tebang bakar, yaitu dengan cara menebang dan membakar vegetasi untuk membuka lahan pertanian. Meskipun kebakaran ini dimaksudkan sebagai pembakaran terkontrol, seperti dalam kasus kebakaran Peshtigo, terkadang api justru menjadi tidak terkendali.

2. Adanya angin dari selatan yang mengobarkan api

ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Landon Parenteau)

Pada 8 Oktober 1871, cuaca dingin datang dari Dataran Besar. Menurut Minnesota Public Radio, suhunya mencapai 4 derajat celcius. Hal ini mengakibatkan angin yang sangat kencang dengan kecepatan hingga 32 mph.

Cuaca kering dan pembakaran terkontrol pada saat itu bergabung dengan angin untuk menciptakan kondisi yang sempurna dalam terjadinya badai api. Namun, di antara berbagai faktor ini, tidak ada yang yakin apa sebenarnya penyebab utama kebakaran Peshtigo.

Akibatnya, semua kebakaran kecil yang terjadi pada saat itu menjadi semakin hebat ketika membesar dan menyatu menjadi satu api. Meskipun banyak orang di wilayah tersebut tidak sadar dengan kepulan asap, sekitar pukul 10 malam itu, kobaran api menjadi tidak terkendali. Di tengah suara gemuruh yang teredam, mirip dengan suara kereta barang, kobaran api menerobos hutan dan menuju kota Peshtigo, Wisconsin.

3. Terciptanya tornado api

tornado api (commons.wikimedia.org/Jan van Rooyen)

Nah, dengan bergabungnya api-api kecil dan pengaruh angin, api tersebut menjadi dinding api yang melesat ke kota Peshtigo. Dan ketika angin berubah arah, kobaran api tersebut menjadi tornado api yang melahap kota. Api ini menghancurkan kota tersebut dalam waktu satu jam saja.

Banyak warga yang mencoba melarikan diri, tetapi angin kencang membuat mereka tersungkur dan asap menghalangi jarak pandang mereka. Suhu udara pun naik sedemikian rupa sehingga paru-paru mereka terbakar saat mencoba bernapas. Api dan percikan api yang berterbangan di udara juga membakar rambut dan pakaian mereka.

Earth Magazine melaporkan bahwa berdasarkan fakta, ada area pasir yang berubah menjadi kaca. Api tersebut diperkirakan mencapai suhu lebih dari 982 derajat celcius dan diperkirakan angin bertiup dengan kecepatan hampir 100 mph atau 160 kilometer per jam. Banyak penyintas menggambarkan api tersebut bergerak lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan untuk menulis kata-kata ini.

Api berkobar dengan begitu dahsyat sehingga menciptakan sistem cuaca tersendiri. Sementara itu, yang dimiliki oleh Perusahaan Pemadam Kebakaran Peshtigo hanyalah sebuah pompa uap yang ditarik kuda untuk melindungi rumah-rumah dan pabrik-pabrik kecil di dekat sungai, tanpa adanya perlindungan kebakaran terorganisir lainnya. Akibatnya, pemadam kebakaran tidak berdaya menghadapi kobaran api yang menghantam kota tersebut.

4. Warga yang selamat berlindung ke sungai dan sumur

Ilustrasi Kebakaran Peshtigo yang menunjukkan orang-orang mencari perlindungan di Sungai Peshtigo. (commons.wikimedia.org/G. J. Tisdale/Harper's Weekly)

Meskipun hampir mustahil untuk melarikan diri dari kobaran api, banyak warga yang mengungsi ke Sungai Peshtigo. Namun, meskipun airnya dingin dan banyak yang tidak bisa berenang, mereka lebih memilih tenggelam ketimbang terbakar hidup-hidup.

Di pusat kebakaran, tornado api melintasi kota, dan akhirnya melintasi sungai tempat warga mencari perlindungan. Earth Magazine menulis bahwa suhu udara mencapai lebih dari 260 derajat celcius. Warga pun harus berulang kali mencelupkan diri ke dalam air untuk memadamkan api yang terus berkobar di rambut mereka.

Sayangnya, tidak semua orang mampu bertahan hidup dari semua cobaan tersebut. Beberapa dari mereka yang selamat dari tornado api akhirnya meninggal karena hipotermia di sungai, mengingat mereka terpaksa berada di dalam air selama berjam-jam. Salah satu penyintas bernama Pastor Pernin, dilaporkan menghabiskan lebih dari lima jam di sungai. Adapun, beberapa orang juga berhasil bertahan hidup dengan mencari perlindungan di dalam sumur.

5. Kebakaran Peshtigo menghanguskan lebih dari 1,5 juta hektar hutan dan lahan

penampakan hutan setelah Kebakaran Peshtigo (commons.wikimedia.org/Pennsylvania. Dept. of Forests and Waters)

Kobaran api melanda sepanjang Green Bay hingga Sungai Menominee, dan melewati beberapa kota. Saat api mencapai Danau Michigan, angin badai mulai melambat. Akhirnya hujan yang datang membantu memadamkan api.

Secara total, kebakaran tersebut menghanguskan lebih dari 1,5 juta hektar, atau lebih dari 2.000 mil persegi, lahan dan hutan di Wisconsin serta mencapai sebagian Michigan di dekat Green Bay. Meskipun Peshtigo mengalami kerusakan paling parah di 16 kota, beberapa memperkirakan bahwa kebakaran Peshtigo sebenarnya telah menghanguskan hingga 3,7 juta hektar. Menurut National Weather Service, kebakaran Peshtigo menyebabkan kerugian sekitar 169 juta dolar AS atau Rp3 triliun, yang kurang lebih sama dengan jumlah kerugian moneter yang disebabkan oleh kebakaran Chicago.

6. Ribuan orang tewas dalam Kebakaran Peshtigo

ilustrasi kebakaran Peshtigo (commons.wikimedia.org/U.S. Forest Service- Pacific Northwest Region)

Meskipun kebakaran Peshtigo hanya berlangsung kurang dari 48 jam, tragedi menyebabkan kerusakan yang begitu besar sehingga dianggap sebagai kebakaran hutan paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat. Kebakaran ini dinamakan kebakaran Peshtigo karena 800 orang tewas di Peshtigo, Wisconsin—setengah dari populasi kota, sebagaimana yang dituliskan Fire Engineering. Namun, diperkirakan setidaknya 2.000 orang tewas akibat kebakaran tersebut. Sayangnya, jumlah korban jiwa yang pasti tidak diketahui dan kemungkinan jauh lebih tinggi karena banyaknya penduduk asli di daerah tersebut serta sejumlah besar pekerja yang tinggal di rumah-rumah kos dan kamp-kamp di daerah itu.

Banyak mayat yang ditemukan hangus hingga hanya menyisakan tulang dan sulit dikenali, sehingga tidak ada cara untuk mengidentifikasinya. Adapun, lebih dari 350 orang dimakamkan di kuburan massal. Yang lainnya ditemukan tewas karena sesak napas, dengan sedikit luka bakar di tubuh mereka. Adapun, mayat terus ditemukan hingga sebulan setelah kebakaran.

Di samping itu, manusia bukanlah satu-satunya korban dari kebakaran Peshtigo. Sebagian besar hewan yang hidup di hutan dan ternak milik warga juga tidak selamat. "Burung-burung terlihat melarikan diri tetapi terbakar di udara atau tersedot kembali ke dalam pusaran api," tulis Peshtigo Fire Museum.

7. Beberapa warga buta sementara akibat asap kebakaran

ilustrasi kepulan asap kebakaran (unsplash.com/Malachi Brooks)

Mereka yang berhasil selamat dari kebakaran Peshtigo mengalami luka bakar parah dan hampir tidak bisa bernapas di tengah udara panas yang tersisa setelah kebakaran. Adapun, banyak juga yang buta sementara akibat asap. Asap ini menggantung seperti awan di atas kota Peshtigo bahkan setelah api mereda.

Meskipun, bagi banyak orang, ketidakmampuan untuk melihat hanya sementara, tapi hal itu mempersulit pencarian korban selamat. Setidaknya 1.500 orang mengalami luka parah, dan setidaknya 3.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran Peshtigo. Di sisi lain, asap masih menggantung di udara selama beberapa hari, sehingga sulit bagi sinar matahari untuk menembusnya.

8. Kebakaran Peshtigo bukan satu-satunya kebakaran yang terjadi di Amerika pada bulan Oktober 1871

Kebakaran Besar Chicago tahun 1871 (commons.wikimedia.org/Library of Congress)

Keesokan harinya, berita tentang kebakaran di Midwest memenuhi halaman depan surat kabar Amerika. Namun, berita utama ini bukan tentang kebakaran Peshtigo. Tapi, semua mata tertuju pada Chicago. Pasalnya, kebakaran besar Chicago terjadi pada hari yang sama dengan kebakaran Peshtigo.

Meskipun korban jiwa kebakaran besar Chicago tidak sebanyak kebakaran Peshtigo, kebakaran ini tetap menarik perhatian karena beritanya tersebar lebih cepat dan wilayah yang terbakar lebih luas daripada wilayah Wisconsin. Adapun, rumor tentang awal mula kebakaran Chicago karena seekor sapi yang menjatuhkan lentera juga membuatnya lebih viral. Berita kebakaran Peshtigo sendiri baru muncul di surat kabar dua minggu kemudian.

Namun, kebakaran Chicago bukanlah satu-satunya kebakaran yang terjadi di Midwest pada Oktober 1871. Pasalnya, pada 8—11 Oktober 1871, terjadi setidaknya 37 kebakaran terpisah yang oleh para sejarawan dikelompokkan menjadi lima terbesar, termasuk kebakaran Peshtigo dan kebakaran besar Chicago. Thumbwind menulis bahwa negara bagian Michigan juga mengalami serangkaian kebakaran hutan yang dimulai pada 8 Oktober, yang dikenal sebagai kebakaran besar Michigan tahun 1871. Periode yang sama juga ada kebakaran di Dakota, Minnesota, Iowa, dan Indiana.

9. Lima kebakaran besar yang terjadi secara bersamaan dikaitkan dengan komet Biela

ilustrasi komet Biela yang terpecah menjadi dua bagian (commons.wikimedia.org/E. Weiß)

Nah, dengan begitu banyaknya kebakaran yang terjadi secara spontan di Midwest, banyak yang berspekulasi apakah ada sesuatu yang menghubungkan kebakaran tersebut lebih dari sekadar cuaca atau memang kebetulan. Salah satu teori yang paling populer adalah pecahan Komet Biela. Yap, karena semua kebakaran di wilayah tersebut terjadi hampir bersamaan dan saksi mata mengaku melihat "bola api" dan nyala api biru, muncul dugaan bahwa kebakaran tersebut disebabkan oleh pecahan komet yang jatuh ke Midwest.

Ignatius L. Donnelly, seorang anggota Kongres AS dari Minnesota yang menulis beberapa karya tentang kekuatan destruktif banjir dan komet terhadap peradaban masa lalu, pertama kali mengusulkan teori ini pada tahun 1883. Donnelly menulis tentang teori ini dalam bukunya yang berjudul Ragnarok: The Age of Fire and Graves. Namun, butuh lebih dari 100 tahun bagi teori ini untuk diangkat kembali, kali ini oleh penulis Mel Waskin. Waskin setuju dengan teori Donnelly dan menulis bahwa kebakaran yang terjadi secara bersamaan itu dipicu oleh gas komet panas.

10. Butuh beberapa hari sebelum bantuan tiba ke Peshtigo

ilustrasi kebakaran (unsplash.com/Catalin Pop)

Sayangnya, butuh beberapa hari agar berita tentang kebakaran Peshtigo menyebar. Sebab, jalur telegraf hancur dalam kebakaran tersebut, sehingga menyulitkan penduduk Peshtigo untuk menyampaikan informasi tentang bencana itu. Butuh dua hari setelah kebakaran agar berita tersebut sampai ke kantor gubernur.

Pada saat itu, Gubernur Lucius Fairchild sedang dalam perjalanan ke Chicago dengan bantuan logistiknya. Tetapi ketika istri Fairchild, yaitu Frances Fairchild, mendengar kabar tentang kebakaran Peshtigo saat berada di kereta, ia meminta menghentikan kereta dan mengalihkan salah satu gerbong yang berisi bantuan logistik ke Peshtigo.

Sebagian besar bantuan logistik dialokasikan untuk penanganan wilayah setelah kebakaran besar Chicago. Alhasil, lebih dari 150.000 dolar AS atau setara dengan Rp2,6 miliar dana terkumpul untuk membangun kembali kota tersebut. Setelah berita akhirnya mulai beredar, banyak bantuan yang berdatangan.

Surat kabar di Inggris bahkan menulis tentang kebakaran tersebut, dan banyak orang yang mengirimkan bantuan berupa uang dan kebutuhan dari London. Laporan State Gazette pada 20 Januari 1872 mencatat bahwa tiga bal besar berisi selimut putih dikirim dari London. Penduduk di Belgia juga mengumpulkan sumbangan hingga ribuan dolar untuk pemulihan korban setelah kebakaran Peshtigo, mengingat adanya komunitas imigran besar dari Belgia di Wisconsin.

11. Kota yang hilang dari peta akibat kebakaran Peshtigo

Monumen peringatan bagi para korban Kebakaran Peshtigo di Pemakaman Kebakaran Peshtigo yang bersebelahan dengan Museum Kebakaran Peshtigo di Peshtigo, Wisconsin, AS. (commons.wikimedia.org/Sharealike)

Meskipun kota Peshtigo dibangun kembali setelah kebakaran, beberapa kota yang hancur akhirnya hilang dari peta. Desa Williamsonville, yang dulunya terletak di timur laut Brussels, adalah salah satu kota yang tidak pernah pulih setelah kebakaran Peshtigo. Didirikan oleh Fred dan Tom Williamson pada tahun 1860-an, yang menjalankan usaha pabrik genteng, hampir semua dari 77 penduduk kota tersebut adalah karyawan pabrik atau anggota keluarga Williamson.

Nah, dari 77 penduduk, hanya 17 orang yang selamat dari kebakaran Peshtigo. "Dua orang, yang menderita luka bakar hebat akibat kebakaran, memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka sendiri dengan membenturkan kepala mereka ke tunggul pohon," tulis Door County Plus. Mereka yang selamat mengalami luka bakar parah di kaki, tangan, dan mata. Jadi, satu-satunya anggota keluarga Williamson yang selamat adalah Tom dan ibunya.

Tidak seperti Peshtigo, Williamsonville tidak dibangun kembali. Sebagai gantinya, lokasi tersebut ditandai sebagai "Tornado" pada peta tujuh tahun kemudian. Pada tahun 1927, Taman Peringatan Tornado dibuat di lokasi bekas Williamsonville untuk menghormati mereka yang terkena dampak kebakaran Peshtigo.

Kota Peshtigo sendiri dibangun kembali relatif cepat. Lebih dari 60 bangunan baru didirikan pada Desember 1871. Meskipun beberapa penyintas memilih untuk pergi setelah kebakaran, banyak yang tetap tinggal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article