12 Gunung Paling Berbahaya untuk Pendaki, Menelan Korban!

- Perubahan iklim meningkatkan risiko pendakian melalui pencairan es, permafrost yang berubah, serta longsoran batu dan salju; sejumlah rute bahkan dihapus dari panduan karena dinilai terlalu berbahaya.
- Bahaya utama di 12 gunung mencakup cuaca ekstrem, ketinggian, oksigen rendah, medan curam, kepadatan pendaki, dan akses penyelamatan sulit, seperti di Everest, Eiger, Denali, K2, serta Nanga Parbat.
- Annapurna disebut memiliki risiko statistik tertinggi, dengan sekitar 73 kematian dari kurang dari 200 pendaki yang mencapai puncak; badai salju 2014 juga menewaskan 43 orang.
Pendakian puncak gunung selalu berisiko dan berbahaya. Namun, sebenarnya, perubahan iklimlah yang memperburuk tantangan itu hingga memakan banyak korban jiwa. Beberapa orang yang berani mendaki keajaiban alam pasti tahu, deh, kalau panduan perjalanan mereka sudah ketinggalan zaman. Yap, rute yang dulunya aman berubah menjadi rute yang memakan nyawa.
Meningkatnya suhu dan tingginya titik beku hanyalah dua alasan kenapa pendakian gunung menjadi lebih berbahaya. Yap, longsoran batu lebih mungkin terjadi. Lapisan di bawah tanah dan permafrost juga mengalami perubahan. "Es dan salju mencair, dan bebatuan menunggu untuk jatuh. Saya tidak melihat mekanisme yang dapat menghentikan ini dan mengurangi tingkatnya lagi," kata Arnaud Temme, afiliasi dan profesor Institute for Arctic and Alpine Research (INSTAAR), seperti yang dikutip Outside.
Arnaud Temme mempelajari berbagai rute gunung setelah mengalami pengalamannya sendiri saat mendaki pada tahun 2011. "Tujuh dari 63 rute yang saya pelajari sekarang dihapus dari buku panduan, seolah-olah tidak pernah ada, karena terlalu berbahaya akibat longsoran batu," tambah Temme.
Dikutip BBC, baru-baru ini, tepatnya pada akhir Juli 2026, pendaki profesional bernama Nirmal Purja dan tim pendaki lainnya ditemukan tewas akibat diterjang longsoran salju besar (avalanche) di jalur pendakian utama yang sedang mereka lewati. Tim SAR menemukan jasad Nirmal Purja bersama 9 korban lainnya di sekitar ketinggian 5.700 hingga 6.600 meter di puncak Gunung Broad Peak.
Beberapa gunung di dunia memang dianggap sangat berbahaya untuk didaki. Bahkan, tingkat kematiannya setinggi lebih dari 30 persen. Namun, tidak semua gunung punya rintangan masa itu sama. Jika kamu seorang pendaki dan ingin melakukan perjalanan ini, simak dulu yuk, 12 gunung paling berbahaya di dunia untuk pendaki.
1. Gunung Everest

Gunung berbahaya yang satu ini memang sangat terkenal, tapi sebenarnya gunung ini bukanlah gunung paling berbahaya di dunia. Kendati begitu, Everest telah mengalami beberapa bencana ekstrem dalam dekade terakhir. Pada tahun 2015, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 menewaskan sekitar 8.500 orang di Nepal, dan menyebabkan longsoran salju yang menewaskan 19 orang di Base Camp Gunung Everest.
Tak hanya longsoran salju. Saat seorang pendaki mencapai ketinggian sekitar 2.500 mdpl, pendaki akan mengalami mual, pusing, dan disorientasi. Dikutip Live Science, selama pendaki tetap berada di bawah 3.600 mdpl, pendaki bisa menghindari kasus yang lebih parah. Namun, Base Camp Everest sendiri terletak di ketinggian 5.300 mdpl, di mana kadar oksigen hampir setengah dari kadar oksigen di permukaan laut.
Banyak yang mencoba pendakian ini, dan sebagian besar selamat. Namun, belakangan ini risikonya semakin meningkat. Hal ini juga disebabkan oleh kepadatan pendaki. Sebab, para pendaki harus mengantre untuk mendaki puncak. Apalagi, hanya beberapa hari dalam setahun saja pendakian dianggap aman untuk mencapai puncak gunung.
Gunung Everest telah didaki sebanyak 7.500 kali. Namun, hanya ada 1,4 kematian per 100 pendaki, sebagaimana yang dikutip Gear Junkie. Angka itu mungkin terdengar banyak, tapi tidak sebanyak gunung-gunung lain di daftar selanjutnya.
2. Gunung Monte Fitz Roy

Dengan ketinggian 3.375 mdpl, Fitz Roy, yang juga dikenal sebagai Cerro Chaltén atau Monte Fitz Roy, adalah gunung tertinggi dan salah satu gunung paling berbahaya di Patagonia. Gunung ini terletak di antara Pegunungan Andes yang megah di Amerika Selatan. Puncaknya dikelilingi oleh tebing curam di semua sisinya, menuntut teknik pendakian yang luar biasa.
Monte Fitz Roy menjadi inspirasi di balik logo merek pakaian Patagonia. Selain itu, gunung ini terkenal berubah menjadi merah muda saat matahari terbit, seperti yang ditunjukkan oleh Atlas Obscura. Gunung ini dinamai menurut nama kapten HMS Beagle, Robert Fitzroy, yang memetakan sebagian besar pantai Patagonia pada tahun 1830-an, bersama dengan Charles Darwin.
Cerro Fitz Roy, yang sekarang menjadi bagian dari Taman Nasional Glaciares, bisa dinikmati dari kejauhan oleh pengunjung dan bisa dilihat dari desa terdekat, yakni El Chaltén. Namun, jika kamu mau mendaki gunung ini, kamu harus punya izin terlebih dahulu. Sebagian besar pendaki gunung mencoba melakukan perjalanan ini selama musim panas (yaitu Desember-Februari di belahan bumi selatan). Namun, cuaca di wilayah ini bisa sangat tidak menentu sepanjang tahun. Banyak yang ingin mendaki hingga puncak harus menunggu berhari-hari, dan terkadang berminggu-minggu, agar cuaca cocok dan aman untuk perjalanan tersebut.
3. Gunung Eiger

Gunung Eiger, yang terletak di Pegunungan Alpen Bernese, menjulang di atas ketinggian 3.967 meter. Gunung ini memiliki sisi utara terpanjang di Pegunungan Alpen, yang dijuluki Mordwand, yang berarti Dinding Pembunuh. Menurut Sydney Morning Herald, sisi utara ini mendapatkan julukannya karena telah merenggut lebih dari 60 nyawa pendaki sejak pendakian dimulai di dinding utara pada tahun 1935.
Dinding ini dikenal karena bebatuan yang mudah runtuh serta lapisan batuan dan es yang sulit. Nah, untuk menghindari bahaya ini, para pendaki gunung sering mendaki pada bulan-bulan terdinginnya. Yap, ketika bebatuan lebih cenderung membeku.
Namun, seperti yang disebutkan di atas, perubahan iklim menyebabkan sebagian besar es mencair. Alhasil, gunung ini jauh lebih berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Gunung Eiger pun menjadi lebih terkenal ketika ditampilkan dalam film thriller garapan Clint Eastwood berjudul The Eiger Sanction (1975).
4. Gunung Vinson Massif

Yap, dengan ketinggian 4.900 meter, Gunung Vinson Massif adalah puncak tertinggi di benua Antarktika. Vinson merupakan bagian dari Pegunungan Sentinel di Pegunungan Ellsworth, dekat dengan Ronne Ice Shelf. Para pendaki mulai mendaki gunung ini pada tahun 1960-an setelah ditemukan oleh pilot Lincoln Ellsworth, yang namanya diabadikan sebagai nama pegunungan tersebut pada tahun 1935.
Ketinggian yang dikombinasikan dengan suhu ekstrem yang terisolasi membuat gunung ini menakutkan. Suhunya dapat turun hingga -40 derajat Celcius. Pendaki yang nekat melakukan pendakian cenderung terdampar selama beberapa hari karena seringnya penundaan pendaratan pesawat akibat cuaca buruk dan kondisi yang tidak memungkinkan.
Antarktika sendiri terkadang disebut sebagai gurun terdingin di dunia. Kutub Selatan juga mengalami periode kegelapan total selama 6 bulan di musim dingin. Jadi, musim panas adalah satu-satunya pilihan bagi para pendaki untuk melakukan perjalanan ke puncak gunung.
5. Gunung Matterhorn

Gunung Matterhorn memiliki ketinggian 4.478 meter di atas permukaan laut dan aksesnya cenderung mudah untuk mencapai titik-titik tertinggi di gunung tersebut. Namun, pendaki yang kurang berpengalaman bisa saja tersesat. Rutenya pun bisa terlalu ramai.
Rata-rata, kurang dari tiga kematian terjadi sejak tahun 2010. Dikutip Financial Times, totalnya ada lebih dari 500 kematian yang tercatat. Itu lebih dari dua kali lipat angka kematian di Gunung Everest. Yap, jika kamu melihat puncak gunung ini dari Lembah Zermatt, pendakiannya terlihat sangat curam dan tanpa kompromi. Perubahan iklim juga secara nyata memengaruhi Matterhorn, dengan mencairnya lapisan es abadi yang menyebabkan tanah longsor dan jatuhan batu. Meskipun demikian, sekitar 3.000 pendaki mencoba mendaki puncak Matterhorn setiap tahunnya, dan 150 pendaki setiap harinya.
6. Gunung Mont Blanc

Mont Blanc adalah gunung tertinggi di Pegunungan Alpen. Dengan ketinggian sekitar 4.810 mdpl, gunung ini memiliki sejarah yang mematikan, yang berawal sejak abad ke-18. Pendakian puncak pertamanya menandai awal pendakian gunung modern pada tahun 1786 ketika Jacques Balmat dan Michel Paccard mencapai puncaknya, seperti yang dikutip Britannica.
Rata-rata, ada 12 misi penyelamatan per akhir pekannya di Gunung Mont Blanc. Namun, ada 100 pendaki yang tewas setiap tahunnya. Terlepas dari daya tariknya, Mont Blanc memiliki tingkat kematian tertinggi di seluruh Eropa dan dikenal sebagai salah satu gunung paling mematikan di dunia, sebagaimana yang dilaporkan The Atlantic.
Salah satu alasan kenapa Mont Blanc dianggap mematikan adalah, karena gunung ini dipromosikan sebagai wisata. Akibatnya, banyak para pengunjung yang kurang berpengalaman mendaki gunung ini. Kepadatan juga menjadi masalah, membuat para pendaki kesulitan menemukan pijakan. Juga, jalurnya yang sempit sangat menyulitkan jika berpapasan dengan pendaki lain.
Seperti banyak gunung berbahaya lainnya yang ditampilkan dalam poin ini, perubahan iklim juga secara langsung memengaruhi Mont Blanc. Sebab, dari tahun 1990 hingga 2017, 102 pendaki tewas, dan 230 terluka akibat longsoran batu besar, tulis Outside.
7. Gunung Denali

Gunung Denali di Amerika Utara memegang predikat gunung paling berbahaya di benua itu. Dengan ketinggian 6.190 mdpl, Denali adalah salah satu puncak paling terpencil dan paling terkenal di dunia. Denali juga rawan gempa bumi, dan para pendakinya sering mengalami penyakit ketinggian ekstrem. Hal ini disebabkan oleh kurangnya oksigen di puncak tinggi yang berada di dekat khatulistiwa.
Dikenal sebagai Everest-nya Amerika Utara, hanya setengah dari pendaki yang berhasil mencapai puncak Denali, sebagaimana yang dijelaskan Gear Junkie. Bagi pendaki yang ingin mendaki gunung ini, disarankan punya pengalaman mendaki gletser. Mengingat perjalanannya yang panjang, yang bisa memakan waktu berminggu-minggu, teknik bertahan hidup dan berkemah sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan mendaki puncak gunung. Sebab, pendakian bisa memakan waktu rata-rata tiga minggu. Selain itu, hanya ada empat base camp, dan cuaca di dekat base camp tersebut bisa sangat tidak terduga.
8. Gunung Baintha Brakk

Terletak di pegunungan Karakoram, Pakistan, Baintha Brakk mencapai ketinggian 7.285 mdpl dan dianggap sebagai salah satu gunung paling menakutkan di dunia. Dikenal sebagai The Ogre, puncak pertamanya ditaklukkan pada tahun 1977. Dan belum ada pendakian lain hingga tahun 2001.
Doug Scott, salah satu pendaki pertama gunung ini, mengalami patah di kedua kakinya saat turun. Ia, dan sesama pendaki Sir Chris Bonington, entah bagaimana berhasil kembali ke pangkalan setelah mengahdapi badai besar. Keduanya pun selamat pada tahun 1977.
Doug Scott akhirnya menerbitkan buku berjudul The Ogre. Dalam buku itu, ia menceritakan lebih detail tentang pengalamannya yang mengerikan tersebut. Adapun, ketinggian dan kemiringan Baintha Brakk justru menjadi daya tarik bagi para pendaki gunung. Hanya sedikit yang berhasil mencapai puncaknya hingga saat ini, menjadikannya salah satu gunung paling berisiko dan paling kompleks di Bumi.
9. Gunung Kangchenjunga

Sebagai gunung tertinggi ketiga di dunia, Kangchenjunga di perbatasan antara Nepal dan India, memiliki ketinggian sekitar 8.586 meter. Namun, cuaca di sana sangat tidak menentu dan sering terjadi longsoran salju secara tiba-tiba. Menurut laporan Men's Journal, tingkat kematian pendaki mencapai 20 persen. Artinya, satu dari setiap lima orang yang berani mendaki gunung ini akan kehilangan nyawanya.
Selain longsoran salju yang tak terduga, salah satu tantangan terbesar Kangchenjunga adalah risiko tergelincir di atas salju. Hanya sekitar 34 pendaki yang mencoba menaklukkan puncak Kangchenjunga setiap tahunnya.
"Kangchenjunga tiga kali lebih berat daripada Everest," ujar Satyarupa Siddhanta kepada Indian Express. "Everest bersifat komersial, banyak orang pergi ke sana, dan jumlah Sherpa yang tersedia di Everest pun lebih banyak. Helikopter tersedia dan operasi penyelamatan juga lebih mudah dilakukan. Kangchenjunga adalah gunung yang menuntut perjalanan panjang dan sangat berat."
Perjalanan pendakian ke Gunung Kangchenjunga memakan waktu lebih dari 20 hari. Pendaki yang siap menghadapi tantangan ini harus bersiap untuk berkemah dalam kondisi yang sangat dingin dan berangin kencang. Selain itu, harus melintasi jembatan-jembatan yang tidak stabil.
10. Gunung Nanga Parbat

Dengan ketinggian sekitar 8.126 meter, Nanga Parbat adalah gunung tertinggi kesembilan di dunia. Gunung yang terletak di Gilgit-Baltistan, Pakistan ini memiliki sisi tertinggi yang dikenal sebagai Rupal South Face (Sisi Selatan Rupal), yang menjulang setinggi 4.559 meter. Rupal merupakan dinding batu terbesar dan paling menakutkan di dunia.
Dikutip National Geographic, Nanga Parbat dijuluki sebagai Gunung Pembunuh (Killer Mountain) di Pakistan. Pada tahun 2016, sebuah tim multinasional yang terdiri dari tiga pendaki berhasil mencapai puncaknya untuk pertama kalinya di musim dingin. Setidaknya 30 ekspedisi telah dilakukan sejak tahun 1988, akan tetapi semuanya gagal. Fakta ini menunjukkan betapa sulitnya medan Nanga Parbat.
Pada tahun 2018, seperti yang dikutip Outside Magazine, warga negara Prancis bernama Elisabeth Revol dan temannya terjebak di puncak Nanga Parbat. Misi penyelamatan yang melibatkan diplomasi antara kedutaan besar Prancis dan Pakistan itu harus menerjunkan helikopter yang belum pernah terbang ke wilayah itu sebelumnya. Meskipun demikian, pilot berhasil mendaratkan helikopter. Saat ditemukan, Revol mengalami halusinasi akibat penyakit ketinggian (altitude sickness) dan menderita radang dingin (frostbite) yang parah. Nasib berbeda dialami oleh rekan pendakinya. Tim penyelamat berhasil menyelamatkan Revol—yang kemudian dipindahkan ke rumah sakit di Prancis. Namun, rekan pendakinya meninggal dunia di gunung tersebut.
Nanga Parbat masih menyandang predikat sebagai salah satu gunung yang paling sulit ditaklukkan. Hingga saat ini, tercatat hanya ada 339 pendakian yang berhasil mencapai puncak dan 69 kematian dalam upaya pendakian, sehingga Nanga Parbat memiliki tingkat kematian sekitar 22 persen.
11. Gunung K2

K2 dikenal jauh lebih berbahaya untuk didaki dibandingkan Everest. Tingkat kesulitannya berkali-kali lipat lebih tinggi. Ada tahun-tahun ketika tidak ada satu pun pendaki yang berhasil mencapai puncaknya.
Dengan ketinggian sekitar 8.611 meter, K2 memiliki banyak julukan, seperti gunung ganas yang berusaha membunuhmu serta gunung bagi para pendaki sejati. Tingkat kesulitannya begitu ekstrem hingga terdapat anggapan bahwa satu dari empat pendaki tewas saat mencoba mencapai puncaknya. Berdasarkan laporan Outside Magazine, belum ada pendaki yang berhasil ke puncaknya dan baru dipecahkan pada tahun 2021.
K2 juga memiliki sejumlah serac—pilar-pilar es yang rawan runtuh secara tiba-tiba. Gunung berbentuk piramida dengan bagian-bagian tebing batu yang sangat curam ini merupakan tantangan pamungkas bagi para pendaki gunung paling berpengalaman dan berbakat di dunia. Satu upaya pendakian pada tahun 2008 saja telah merenggut nyawa 11 pendaki sekaligus. Adapun, kurang dari 400 pendaki yang pernah mencapai puncaknya. Tingkat kelangsungan hidup pendaki di gunung ini hanya satu banding empat.
12. Gunung Annapurna

Terdapat konsensus kuat bahwa gunung ini kemungkinan besar adalah gunung paling berbahaya di muka Bumi. Dengan ketinggian sekitar 8.091 meter, Annapurna di Nepal—yang memiliki puncak tertinggi ke-10 di dunia—diselimuti salju sepanjang tahunnya, sebagaimana yang dijelaskan Breeze Adventure. Gunung ini juga dikenal sering mengalami longsoran salju.
Jika menilik rekam jejak para pendakinya, terdapat tingkat kematian sekitar 40 persen bagi mereka yang berani mencapai puncaknya. Adapun, kurang dari 200 pendaki yang berhasil mencapai puncak dari 300 pendaki gunung. Namun, setidaknya, 73 di antaranya tewas. Itu berarti, gunung ini memiliki risiko pendakian tertinggi di dunia secara statistik. Satu dari tiga orang tidak akan selamat dari keganasannya.
Puncak Annapurna yang berketinggian sekitar 8.000 meter, masih menjadi tantangan yang menciutkan nyali bagi sebagian besar calon pendaki. Di sisi lain, kebanyakan orang tidak akan pernah berani menaklukkannya. Pada tahun 2014, badai salju dahsyat menghantam gunung tersebut, memicu longsoran salju yang menewaskan 43 orang dan menyebabkan lebih dari 500 orang harus diselamatkan.
Meskipun 12 puncak gunung yang sudah kita bahas di atas terkenal sangat mematikan, tapi ribuan pendaki masih penasaran ingin mendaki puncak-puncak berbahaya tersebut. Uniknya, tantangan dan bahaya inilah yang justru menjadi daya tariknya. Namun, pemanasan global meningkatkan risiko bagi jiwa-jiwa pemberani ini saat mereka tergoda untuk mendaki ke puncak gunung.




















