Api yang membakar lahan gambut tidak selalu terlihat. Ketika kobaran di permukaan telah padam, api masih dapat bertahan di bawah tanah dan terus membakar lapisan gambut secara perlahan. Kondisi ini membuat kebakaran gambut sulit dideteksi dan dipadamkan. Karakteristik tersebut menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kebakaran lahan gambut di Indonesia.
Menurut Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Albertus Sulaiman, kondisi air menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat kerentanan lahan gambut terhadap kebakaran. Secara alami, gambut memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar. Ketika mengalami pengeringan, risiko kebakaran meningkat.
“Salah satu faktor yang dapat menyebabkan gambut mengering adalah pembangunan kanal. Kanal mengubah tata air dengan mengalirkan air dari kawasan gambut menuju wilayah yang lebih rendah. Penurunan muka air tanah akibat kondisi tersebut dapat membuat lapisan gambut kehilangan kelembapannya,” ujarnya yang dikutip dalam rilis di situs resmi.
