Comscore Tracker

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadak

Ketenaran dan tekanan datang bersamaan!

Ketenaran pun berubah. Jika masa dulu menjadi terkenal memerlukan talenta, sekarang, banyak jalan yang dapat kamu tempuh untuk menjadi seorang bintang. Salah satunya adalah dengan internet.

Dengan perkembangan internet dan teknologi yang cepat, hal yang sederhana dapat menjadi viral bahkan hingga ke pulau dan negara lain dalam hitungan detik. Hal tersebut terjadi pada berbagai selebritas dadakan yang diorbitkan oleh media sosial dari TikTok hingga YouTube.

Perhatikan polanya, mereka — yang dulunya tidak begitu terkenal — mengunggah satu konten yang lain daripada yang lain, tinggal tidur semalam, dan BOOOM, saat bangun, apapun yang mereka unggah tersebut sudah viral dan mengangkat nama mereka ke panggung ketenaran.

Akan tetapi, apakah menjadi artis cocok untuk setiap orang? Apakah mereka siap dengan risiko-risiko yang menanti mereka?

1. Sleeper effect, fenomena terkenal dalam waktu semalam

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadakilfaro24.it

Fenomena sosial di mana seseorang menapaki jenjang popularitas dalam waktu semalam ternyata memiliki sebutannya sendiri, yaitu sleeper effect. Beberapa peneliti pun pernah meneliti hal ini.

Pada 1989, sebuah penelitian gabungan di Kanada oleh McMaster University dan Williams College berjudul "Becoming Famous Overnight: Limits on the Ability to Avoid
Unconscious Influences of the Past" memperlihatkan contoh sederhana bagaimana sleeper effect bekerja.

Para peserta penelitian disuruh membaca satu daftar nama orang-orang. Para peneliti mengatakan kalau mereka tidak terkenal, sehingga para peserta menganggap kalau nama-nama tersebut tidak terkenal. Saat dites pun, mereka mengatakan kalau nama-nama tersebut tidak terkenal.

Akan tetapi, setelah diberi jeda selama 24 jam, para peserta malah menganggap nama tersebut terkenal.

Kenapa bisa begitu? Kata kuncinya adalah "familiaritas". Kamu terkenal saat orang-orang mengingatmu, tidak peduli dari mana sumbernya.

"Nama-nama yang pertama dilabel 'tidak terkenal' meningkatkan probabilitas ketenaran nantinya. Nama-nama tersebut menjadi familier di alam bawah sadar sehingga tidak bergantung pada ingatan sadar mengenai sumber nama itu," papar Larry L. Jacoby, penulis utama penelitian tersebut dari McMaster University.

Saat membaca nama-nama tersebut, para peserta menjadi familier dengan nama-nama tersebut, meskipun tidak setenar artis-artis lain. Lalu, saat mereka diberi jeda 24 jam, nama tersebut melekat dalam ingatan mereka, sementara sumbernya terlupakan.

Alhasil, setelah 24 jam, mereka terkecoh menganggap bahwa nama-nama tersebut tenar.

2. Teori "popularitas 15 menit" Andy Warhol terbukti berhasil

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadakbillboard.com

Pada 1968, seniman asal AS yang terkenal mencetuskan "pop art", Andy Warhol, mengungkapkan sebuah prediksi mencengangkan, "Semua orang bisa terkenal selama 15 menit di seluruh dunia."

Rasanya, agak mustahil saat itu untuk mempercayai Warhol, karena menjadi seorang selebritas tidaklah mudah. Perlu talenta dan berbagai intrik untuk naik ke panggung hiburan papan atas.

Namun, ternyata, hal tersebut terbukti relevan di masa canggih seperti saat ini.

Sekitar 45 tahun setelah prediksi Warhol, profesor sosiologi di Utrecht University, Belanda, Arnout van de Rijt, bersama tim mendukung pernyataan Warhol dalam penelitiannya, "Only 15 Minutes? The Social Stratification of Fame in Printed Media".

"Kami menyelidiki mobilitas ketenaran berdasarkan sumber data unik yang berisi catatan harian berisi referensi yang dibuat terhadap nama-nama orang yang kerap muncul dalam beberapa sumber media berbahasa Inggris," papar van de Rijt.

Ia dan tim menemukan bahwa rata-rata, orang-orang yang namanya muncul hanya beberapa kali dalam satu tahun tertentu mencapai ketenaran singkat, sementara mereka yang namanya muncul secara rutin di media mendapatkan ketenaran yang lebih panjang.

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadakpinterest.com

Memang ada dua tipe ketenaran, yang berjangka pendek dan berjangka panjang.

van de Rijt menjelaskan bahwa saat orang-orang sedang mengobrol, mereka kerap membuat "referensi" orang-orang yang lawan bicara kita tahu atau kenal. Oleh karena itu, nama-nama besar tetap terkenal dalam waktu yang lama.

Ketenaran ini tidak bisa hanya disangkutpautkan dengan media sosial saja. Ia mengatakan bahwa media tradisional pun memiliki perannya.

"Saat seseorang terkenal, ia kemudian masuk berita, bukan? Nah, inilah saat media tradisional dan sosial memiliki peran yang sama dalam menentukan ketenaran seseorang," sebut van de Rijt.

Ketika seseorang menapaki ketenaran, hal tersebut tidak bisa serta-merta ia tinggalkan begitu saja. Dunia hiburan adalah dunia penuh tekanan ekspektasi dan persaingan ketat. Lalu, bagaimana jika seseorang tidak siap akan hal itu?

3. Masa lalu yang menghantui kembali

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadakbillboard.com

Saat diwawancarai oleh CBS News, Dr. Jennifer Hartstein, seorang psikolog di New York City, mengungkapkan berbagai masalah yang dihadapi seseorang saat baru menapaki ketenaran.

Saat mendadak tenar, seseorang juga harus siap melihat masalah-masalah lamanya meruak kembali. Salah satunya adalah masalah keluarga.

Misalnya, ia adalah seseorang yang sudah lama berpisah dari keluarganya, lalu kemudian ia menjadi terkenal? Ia harus siap untuk melihat mantan keluarganya kembali menghampiri dia.

Hal tersebut semakin berat jika orang tersebut memiliki sejarah yang tidak baik dengan keluarganya. Belum lagi jika ternyata ada orang lain yang menguak fakta itu dan diangkat ke permukaan.

Hartstein mengatakan bahwa keluarga justru sering kali menjadi momok yang membebani. Mereka tahu seluk-beluk dan masa lalumu, dan mereka biasanya tidak ragu untuk mengeksposnya ke media.

4. Orang-orang yang menusuk dari belakang dan "ada maunya"

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadakmirror.co.uk

Hartstein melanjutkan penjelasannya. Selain keluarga yang tiba-tiba datang, seseorang juga pastinya melihat munculnya orang-orang yang sebelumnya tidak mereka lihat. Dengan kata lain, mereka bagaikan lalat yang mengerumuni buah.

Ini juga salah satu yang harus dihindari. Mengapa? Hartstein mengatakan bahwa orang-orang yang baru datang setelah seseorang menjadi tenar, biasanya didasari oleh tujuan yang tidak baik juga.

"Itulah yang harus seseorang pikirkan saat terkenal: lingkaran pertemanan yang ia dapat percaya. Siapa yang akan menjadi penasihatnya? Ia butuh seseorang yang bisa mengarahkannya ke jalan yang benar dan melindunginya," papar Hartstein.

Hal tersebut penting, karena di saat seseorang terkenal, ia akan mendapatkan banyak tawaran dan uang yang berlimpah. Aji mumpung, itulah yang biasa dikejar orang yang muncul dadakan setelah ketenaran dadakan juga. Pura-pura menjadi teman, setelah ia tidak lagi jaya, ditinggalkan. Habis manis, sepah dibuang.

5. Siap dikritik pedas? Jika tidak, maka jangan berpikir untuk tenar

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadaksearchenginejournal.com

Ada pepatah, "jika kamu tidak sanggup menahan panas kompor, jangan bekerja di dapur". Hal tersebut juga berlaku untuk dunia hiburan di tengah perkembangan internet dan sosial media yang pesat ini.

Jika kamu mengunggah sesuatu di media sosial, hal tersebut akan bertahan terus. Entah itu lagu atau aksi lucu, dalam hitungan jam atau hari, tiba-tiba hal tersebut bisa menjadi viral. Voila, kamu menjadi seorang selebritas dadakan.

Sayangnya, menjadi seorang selebritas tidak hanya dipuja, melainkan dikritik hingga dihina juga. Apalagi di YouTube, media yang menyediakan tombol dislike, itulah saat ketahanan seseorang yang baru tenar diuji.

Dilansir dari CNN, Rebecca Black, salah satu YouTuber yang terkenal karena lagunya, "Friday" pada 2011, menceritakan bagaimana sulitnya karir superstar dadakan.

https://www.youtube.com/embed/kfVsfOSbJY0

Black, yang saat itu berumur 13 tahun, menceritakan beberapa orang yang ingin menapaki karir sebagai YouTuber harus siap menelan pil pahit saat melihat jumlah "jempol bawah" yang lebih banyak dari "jempol atas". Banyak selebritas dadakan dari YouTube mengaku kalau terkadang kritik pedas berupa dislike tersebut kadang tak tertahankan.

Belum lagi bagian komentar yang tidak kalah "jahatnya" dari ibu kota. Kerap kali, jari jemari netizen main melontarkan hinaan hingga suruhan untuk bunuh diri. Apakah kamu siap dengan hal itu? Kalau tidak, pikir dua kali, deh, sebelum ingin menjadi viral.

Baca Juga: 8 Fakta Psikologis Unik di Balik Rasa Cemburu, Bikin Kamu jadi Berbeda

6. Jenjang popularitas yang menuntut inovasi

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal MendadakBerbagai sumber/artwork by. IDN Times

Black yang sekarang berusia 22 tahun, melanjutkan kisahnya. Ia pun juga mengingatkan bahwa di saat seseorang sudah terkenal, ia juga dihadapkan dengan agensi dan manajer yang mengekangnya sambil mengharapkan inovasi baru agar tidak tenggelam dalam kompetisi.

Manajer bukan seperti "orangtua yang mengayomi". Mereka hanya melakukan pekerjaan mereka untuk memacumu hingga mencapai potensi terbaikmu. Jika kamu tidak mampu? Mereka akan mencari talenta lain.

Bagi Black, itulah yang terjadi. Sering kali, manajernya menekannya agar menghasilkan sesuatu dan terus mengatakan bahwa sukses adalah hal terpenting.

"(Saya harus) menjaga reputasi atau melampauinya. Jika kamu berada dalam industri hiburan, itulah pekerjaanmu. Terus bekerja dan berusaha untuk tetap kompetitif dan tetap mengikuti zaman. Bagi saya, hal ini terlalu berat bagi siapa pun di usia yang begitu muda, seperti saya," ucap Black.

Tidak jarang, Black hanya mampu mengutarakan rasa frustrasinya lewat air mata dan berharap untuk memperingatkan generasi muda soal ini.

7. Tekanan yang intens hingga depresi dan paranoid

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadakmetro.co.uk

Saat menjadi seorang selebritas, kamu harus siap menghadapi tekanan psikologis dari sekitarmu, entah itu fans atau tekanan pers yang mencoba memengaruhimu. Oleh karena itu, jika kamu orang yang parnoan, adalah lebih baik untuk berpikir kembali sebelum ingin tenar.

Dilansir dari Psychology Today, berdasarkan survei ke 200 selebritas, direktur Psychosocial Stress Research Program di Florida State University, Charles Figley, memaparkan 10 sumber tekanan yang biasa menjadi beban bagi mereka:

  • Pers,
  • Kritik,
  • Surat kaleng atau teror telepon,
  • Kehilangan privasi,
  • Terus-terusan dipantau,
  • Kekhawatiran tidak akan tenar lagi,
  • Stalker,
  • Merasa tidak aman,
  • Penggemar yang berlebihan, dan
  • Khawatir kehidupan keluarga mereka terganggu.

Ia kemudian memaparkan bahwa hasil dari tekanan tersebut biasanya adalah depresi. Mereka bisa kekurangan tidur dan tiba-tiba menangisi hal yang entah penyebabnya, selain dari tekanan berat yang mereka alami.

Salah satu responden mengatakan bahwa ia sering kali dihina dan dianggap tidak pantas ada di panggung hiburan. Hal yang jahat, bukan? Ia mengaku bahwa yang ia inginkan adalah pengakuan.

Profesor studi media di University of Houston-Clear Lake, Jib Fowles, mengatakan bahwa selebritas empat kali lipat lebih rentan bunuh diri daripada orang biasa. Ia menyalahkan tekanan profesi dan hilangnya privasi.

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadakslydor.com

Hilangnya privasi dapat membuat selebritas paranoid, terutama bagi mereka yang baru saja masuk ke dunia hiburan. Mengapa? Mereka kaget. Bila sebelumnya hidup mereka adalah milik mereka sendiri, sekarang? Oh tidak bisa. Mereka harus rela kehidupannya dibagikan kepada para fans yang kepo.

Lihat gambar di atas? Bahkan aktor dengan badan kekar seperti Jason Momoa pun butuh pengawal.

Apalagi, jika penggemar mulai membludak, para selebritas akan mulai berjaga-jaga. Siapa yang tahu tingkah fans? Mereka rela melakukan apa saja agar bisa bertemu denganmu atau memliki sesuatu yang berhubungan denganmu!

Oleh karena itu, para selebritas akan mulai menyewa penjaga berikut anjing penjaganya, menaruh CCTV, dan berbagai pengamanan lainnya di kediamannya.

"Ih, sekarang dia udah enggak humble. Udah pakai bodyguard. Sombong. Biasa, artis baru tenar."

Ini, sering kali orang menganggap mereka sombong. Padahal, bukannya sombong, tetapi mereka hanya takut. Dan, parahnya, hal tersebut karena sebenarnya mereka butuh privasi dan "me-time". Fans dan paparazzi terkadang bisa tidak terkendali sehingga mereka merasa tertekan.

Merasa bahwa kamu dapat tetap menjaga privasi saat menjadi selebritas? Tanya saja akun Lambe-lambean. Salah gerak sedikit? VIRAL!

8. Hubungan keluarga yang tidak harmonis

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadakthehoneycombers.com

Figley melanjutkan bahwa para selebritas memiliki berbagai cara untuk tetap "waras". Salah satunya adalah meluangkan waktu bersama dengan keluarga. Mereka kerap pergi ke luar tanpa harus memikirkan jadwal wawancara, gelar wicara, atau shooting. Dengan cara itu, mereka melepaskan pikiran mereka dari tekanan.

Namun, apa yang terjadi bila hubungan keluarga justru retak diakibatkan ketenaran dadakan yang ia dan keluarga tersebut terima? Kembali ke 10 faktor stres di poin sebelumnya.

Salah satu responden mengaku bahwa salah satu saat tersedih adalah saat anaknya tidak berharap ia datang ke acara keluarga, karena takut dengan popularitasnya. Begitu menyedihkan saat popularitas malah merenggangkan orang-orang yang terdekat.

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadakshutterstock.com

Figley mengatakan bahwa memang ada beberapa tipe anak, ada yang memang senang dengan popularitas dan ada yang tidak senang. Hal tersebut membuat konflik batin tersendiri di dalam diri mereka. Di satu sisi mereka tenar demi keluarga, tetapi keluarga tidak sejahtera.

Jika tidak ditangani lebih lanjut, maka bisa fatal akibatnya. Hartstein mengungkapkan bahwa karena renggangnya hubungan keluarga, salah satu selebritas dadakan bertengkar dengan anaknya, sehingga masalah ini terbawa ke pihak berwajib.

Menyedihkan bila keluarga yang seharusnya mendukung mereka malah berbalik menyerang mereka dan tidak menawarkan perlindungan yang mereka dambakan.

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadakbecomegorgeous.com

Selain anak-anak yang tidak suportif, terkadang masalah juga datang justru dari sisi luar keluarga. Biduk rumah tangga seorang selebritas (terutama yang baru saja terkenal) sering kali diterpa isu miring adanya orang ke-3.

Tidak jarang ada yang tiba-tiba mengirim pesan atau video syur ke gawai mereka agar mereka mau meninggalkan keluarga. Di sinilah janji sucimu diuji. Tanpa komitmen yang kuat, sulit bagi pasangan selebritas untuk mempertahankan suatu hubungan.

Selain itu, pertanyaan yang patut dipertanyakan adalah apakah setelah tenar, mereka masih melakukan perannya dalam rumah tangga? Seorang terapis dari Santa Monica, Jennifer Sis, yang menikah dengan komedian terkenal AS, Mac King, mewawancara 8 istri selebritas.

Sis menemukan bahwa di balik hiruk pikuk rumah tangga selebritas, jadwal dan pendapatan yang tidak menentu, pesta pora, jam kerja panjang, dan saat tidak dapat job dapat membuat hidup menjadi sulit.

9. Tuntutan penampilan yang harus selalu sempurna

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadakmylifetime.com

"Penonton suka dengan apa yang mereka lihat, jadi jaga badan selalu ideal!"

Itulah yang biasa dituntut agensi pada para talent-nya. Mereka harus tetap menjaga badan agar tetap bisa mengundang para penonton. Sayangnya, tidak semua orang diciptakan dengan metabolisme yang sama, ada yang mudah gemuk dan ada yang mudah kurus.

Dalam autobiografinya "It's Always Something", mendiang komedian asal AS yang bergabung dalam acara Saturday Night Life, Gilda Radner, menceritakan bahwa ia pernah mengalami anorexia karena tekanan penampilan. Sebagai selebritas wanita, ia sering dituntut untuk menjaga pola makannya.

"Dengan adanya ketenaran, muncullah anorexia. Saya sampai takut saat makan," tutur Radner.

Ia menceritakan bagaimana ia harus menahan godaan untuk makan makanan yang menggiurkan di jalan-jalan New York, hingga belajar untuk memaksa dirinya memuntahkan makanan yang ia makan.

"Di tahun kedua Saturday Night Life, saya belajar memaksa diri untuk muntah. Tanpa saya sadari, saya mengidap bulimia," tutur Radner lebih lanjut.

Dari operasi plastik hingga gaya hidup yang destuktif, apapun orang lakukan demi penampilan menawan dan ketenaran.

Zaman sekarang pun, memang tidak sedikit selebritas yang terkenal justru karena tidak rupawan. Tetapi, hal tersebut kembali ke poin nomor 5 dan 6. Apakah kamu siap menerima kritik untuk penampilanmu? Jika iya, apa yang dapat kamu berikan untuk menutupi kekurangan di penampilanmu?

Jika kamu masih bingung menjawab dua pertanyaan itu, alangkah baiknya kamu tetap diam di tempat.

10. Saat mabuk dan "terbang" menjadi solusi, di situ letak kesalahannya

Penuh Risiko, 10 Dampak Psikologis dari Viral dan Terkenal Mendadaklatimes.com

Lalu, jika depresi dan perasaan paranoid terus mengganggu, ke manakah mereka dapat pergi? Tidak jarang mereka pergi ke bar untuk minum alkohol atau ke sudut jalan untuk membeli obat terlarang. Hal tersebut agar mereka "lupa".

Hartstein mengungkapkan kembali bahwa alkohol adalah salah satu faktor utama yang dapat memecahkan keluarga mereka yang baru tenar.

Selain minuman alkohol, para selebritas yang baru juga erat dengan narkoba. Mengapa? Dengan kekayaan yang ada, mereka dapat membelinya. Seperti yang kamu tahu, zat-zat terlarang tersebut memang membuat mereka "terbang" dan lupa dengan masalah yang ada.

Profesor psikiatri di University of California, Los Angeles (UCLA), David Wellisch, Ph.D., mengatakan bahwa ada dua faktor utama mengapa seseorang bisa jatuh ke dalam lubang alkohol: kecenderungan genetis dan pengaruh lingkungan, serta imitasi orang tua sejak kecil.

Namun, untuk selebritas (terutama yang baru tenar), ada faktor ke-3: yaitu kurangnya mobilitas. Mereka merasa terkekang dan "asing" di dunia hiburan yang baru dan dingin. Alhasil, mereka kabur ke alkohol agar bisa melupakan, merasa berkuasa, dan mendapatkan ketenangan.

Setelah mengetahui fakta dan risiko yang menantimu saat kamu mencoba untuk viral, apakah kamu siap? Jika kamu tidak siap, lebih baik jangan. Demi kebaikanmu juga!

Baca Juga: 7 Dampak Psikologis Ditolak saat Nembak Gebetan, Sakit sih tapi...

Topic:

  • Alfonsus Adi Putra
  • Bayu D. Wicaksono
  • Septi Riyani

Berita Terkini Lainnya