Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Anjing Akan Memakan Jasad Pemiliknya yang Meninggal Sendirian?

Apakah Anjing Akan Memakan Jasad Pemiliknya yang Meninggal Sendirian?
ilustrasi anjing (unsplash.com/Jorge Alcala)
Intinya Sih

  • Tidak ada lembaga yang secara resmi mencatat seberapa sering hewan peliharaan memakan jasad pemiliknya. Hal ini diakui peneliti forensik dalam artikel tahun 2023 di jurnal Forensic Science, Medicine and Pathology.

  • Bukti forensik tidak mendukung anggapan bahwa kucing lebih cepat memakan pemiliknya dibanding anjing. Laporan tahun 2010 di Journal of Forensic and Legal Medicine mencatat seorang perempuan meninggal akibat aneurisma dan ditemukan keesokan harinya.

  • Motivasinya bukan soal loyal atau tidak.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pertanyaan apakah anjing akan memakan jasadmu setelah meninggal terdengar ekstrem, tetapi sains forensik punya jawabannya. Sebuah laporan tahun 1997 di jurnal Forensic Science International mencatat kasus nyata yang mengejutkan di Berlin.

Seorang pria 31 tahun ditemukan tewas akibat luka tembak, dengan pistol dan surat perpisahan di dekatnya. Tak lama kemudian, polisi menemukan bekas gigitan di wajah dan leher korban. Misterinya terjawab ketika anjing German shepherd miliknya memuntahkan jaringan manusia, termasuk kulit dengan rambut janggut yang masih jelas.

Ini bukan kasus anjing kelaparan karena mangkuk makanan anjing masih setengah penuh. Temuan ini memicu pertanyaan menarik tentang apa yang sebenarnya terjadi ketika manusia meninggal dan hewan peliharaannya ditinggal sendirian.

1. Kasusnya jarang dicatat, tetapi nyata

Tidak ada lembaga yang secara resmi mencatat seberapa sering hewan peliharaan memakan jasad pemiliknya. Hal ini diakui peneliti forensik dalam artikel tahun 2023 di jurnal Forensic Science, Medicine and Pathology. Kekosongan data ini menjadi masalah dalam investigasi kematian karena aktivitas mengais dapat menutupi penyebab kematian atau waktu kematian.

Meski begitu, puluhan laporan individual tentang hewan peliharaan yang mengais jasad pemiliknya telah dipublikasikan di jurnal forensik. Laporan inilah sumber bukti terbaik yang tersedia. Studi-studi ini membantu menjawab apakah hewan peliharaan benar-benar akan memakan manusia dan menunjukkan bahwa persepsi kita tentang perilaku hewan sering keliru jika tidak dilihat dari sudut pandang mereka.

2. Kucing tidak sekejam yang sering dibayangkan

ilustrasi kucing tortoiseshell (pexels.com/CRIS G)
ilustrasi kucing tortoiseshell (pexels.com/CRIS G)

Banyak orang mengira kucing lebih cepat memakan pemiliknya dibanding anjing. Bukti forensik tidak mendukung anggapan itu. Laporan tahun 2010 di Journal of Forensic and Legal Medicine mencatat seorang perempuan meninggal akibat aneurisma dan ditemukan keesokan harinya.

Pemeriksaan menunjukkan anjingnya memakan sebagian besar wajah korban, sementara dua kucingnya tidak menyentuh jasad sama sekali. Saat kucing memang menggigit, kerusakannya biasanya lebih ringan dibanding anjing. Menurut antropolog forensik Carolyn Rando dari University College London, kucing cenderung menyerang wajah, terutama bagian lunak seperti hidung dan bibir.

Ia menjelaskan bahwa kucing bisa memulai dengan upaya membangunkan pemiliknya, lalu menggigit ketika tidak ada respons.

3. Motivasinya bukan soal loyal atau tidak

Kedekatan dengan anjing tidak menjamin perilaku tertentu setelah pemilik meninggal. Studi kasus forensik tidak menunjukkan riwayat kekerasan pada hewan. Sebaliknya, beberapa laporan mencatat hubungan pemilik dan anjing yang baik. Penjelasan yang lebih masuk akal berkaitan dengan kondisi psikologis hewan.

Menurut laporan Rothschild, hewan peliharaan mungkin mencoba membantu pemilik yang tidak sadar dengan menjilat atau mendorong. Saat tidak ada respons, perilaku ini bisa berubah menjadi panik dan berujung gigitan. Dari titik ini, transisinya cepat. Carolyn Rando menjelaskan bahwa bukan keinginan untuk makan yang muncul lebih dulu. Kontak dengan darah bisa memicu perilaku makan bagi anjing.

Bukti forensik menunjukkan bahwa perilaku ini jarang, tetapi nyata. Anjing dan kucing tidak bertindak karena niat jahat atau pengkhianatan. Respons mereka lebih terkait dengan stres, kebingungan, dan insting dasar saat kamu tidak lagi merespons.

Referensi

Indra, Lara, Christian Schyma, and Sandra Lösch. “Cat And Dog Scavenging at Indoor Forensic Scenes: Strategies for Documentation and Detection.” Forensic Science Medicine and Pathology 20, no. 3 (December 16, 2023): 1022–32.

Hernández-Carrasco, Mónica, Julián M.A. Pisani, Fabiana Scarso-Giaconi, and Gabriel M. Fonseca. “Indoor Postmortem Mutilation by Dogs: Confusion, Contradictions, and Needs From the Perspective of the Forensic Veterinarian Medicine.” Journal of Veterinary Behavior 15 (September 1, 2016): 56–60.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More