ilustrasi market cryptocurrency (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Istilah risk-off menggambarkan kondisi ketika investor mengurangi kepemilikan aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Dalam situasi seperti ini, Bitcoin dapat ikut tertekan ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset yang harganya mudah berubah. Kekhawatiran terhadap prospek ekonomi, pasar saham, atau kebijakan moneter dapat memperkuat perubahan sentimen tersebut.
Tekanan harga juga dapat meningkat ketika posisi perdagangan menggunakan leverage, yaitu dana pinjaman untuk memperbesar nilai transaksi. Jika harga bergerak berlawanan dengan posisi investor hingga melewati batas tertentu, bursa dapat menutup posisi secara otomatis melalui proses yang disebut likuidasi. Penutupan posisi secara serentak dapat menambah tekanan jual, sehingga investor perlu memperhatikan risiko tersebut dan tidak hanya mengandalkan satu indikator harga.
Pergerakan Bitcoin menjelang rapat The Fed dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, Bitcoin merosot ke US$80.000. Kemudian ada arus dana ETF, ekspektasi suku bunga serta sentimen pasar global. Keputusan bank sentral dapat menjadi pemicu volatilitas, tetapi arah harga setelah pengumuman tetap bergantung pada respons investor dan kondisi pasar saat itu. Karena itu, investor sebaiknya memeriksa data terbaru, memahami risiko transaksi, dan tidak menganggap penurunan maupun pemulihan harga sebagai sinyal pasti untuk membeli atau menjual Bitcoin.