BTN Bakal Rilis KPR Bundling, Bisa Sekalian Isi Perabot Rumah

- BTN akan meluncurkan produk KPR bundling yang memungkinkan nasabah membeli rumah sekaligus mengambil kredit ringan untuk perabot dan kendaraan listrik.
- Inovasi ini menggabungkan beberapa fasilitas pinjaman dalam satu akad guna efisiensi biaya, waktu, serta mencegah nasabah terjerat pinjaman online.
- Pemberian limit kredit tetap disesuaikan dengan kemampuan bayar nasabah agar cicilan tambahan tetap aman dan tidak menimbulkan risiko kredit macet.
Bandung, IDN Times - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN akan meluncurkan produk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan skema paket atau bundling.
Nasabah nantinya bisa mengambil kredit rumah sekaligus pinjaman ringan untuk mengisi perabotan seperti kompor, tempat tidur, hingga TV. Pembiayaan juga mencakup kendaraan listrik untuk mendukung mobilitas penghuni di perumahan baru.
"Dalam waktu dekat kita akan launching begitu kasih KPR, saat yang sama kita akan kasih kredit ringan, itu produknya. Yang satu buat beli rumahnya, yang satu buat isi rumahnya," kata Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu dalam media briefing di Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/4/2026).
1. Cegah nasabah terjerat pinjol

Nixon menyebut modifikasi produk dilakukan untuk mengantisipasi nasabah mengambil pinjaman dari lintah darat atau pinjaman online (pinjol). Sebab, nasabah yang baru saja melakukan akad dan menerima kunci rumah butuh pinjaman tambahan untuk mengisi rumah.
Menurutnya, jika mereka terjerat pinjol untuk mendapatkan dana segar tambahan, hal tersebut dinilai berisiko memicu kredit macet atau non-performing loan (NPL). Oleh karena itu, BTN menyiapkan inovasi satu akad yang mencakup beberapa fasilitas sekaligus.
"Dalam waktu dekat the product itself kita akan modify ya kita akan menghindari customer kita juga kena pinjaman-pinjaman lintah darat itu," paparnya.
2. Efisiensi lewat satu kali akad

Dalam pelaksanaannya, nasabah tidak perlu melewati beberapa kali proses administrasi. BTN akan menggabungkan dua hingga tiga produk pinjaman dalam satu kali akad.
Nixon menjelaskan sistem satu paket tersebut akan membuat biaya operasional bank lebih murah dan proses pembiayaan menjadi lebih cepat. Selain efisiensi waktu, bank juga mempertimbangkan untuk menyatukan biaya provisi agar lebih ringkas bagi nasabah.
"Jadi ini yang kita akan tawarkan ke depan adalah the new innovation-nya adalah langsung one package, one stop shopping kebutuhan keluarga. Bunganya juga enggak semahal pinjol-pinjol tadi sehingga mereka tetap safe," ujar dia.
3. Limit kredit mengacu pada kemampuan bayar

Nixon menekankan meski menawarkan beberapa fasilitas sekaligus, pemberian limit kredit tetap mengacu pada aturan kemampuan bayar atau repayment capacity nasabah.
Dia memberi gambaran, rata-rata cicilan KPR subsidi saat ini sekitar Rp1,3 juta, sementara batas penghasilan maksimal nasabah di Jabodetabek berkisar Rp12 juta untuk yang belum menikah dan Rp14 juta untuk yang sudah menikah.
Dengan selisih pendapatan tersebut, bank menilai nasabah masih memiliki kapasitas keuangan untuk mengambil fasilitas tambahan, baik untuk kebutuhan pengisian rumah maupun keperluan pendidikan anak saat pindah ke lokasi baru.
"Kalau gajinya Rp12 juta ngangsur Rp3 juta masih mungkin enggak di Jabodetabek? Masih. So, dari Rp1,3 juta ke Rp3 juta, masih ada Rp1,7 juta yang bisa ditawarkan," kata Nixon.
















