Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Eropa Terancam PHK 300 Ribu Buruh Pabrik akibat Gempuran Produk China
ilustrasi PHK menganggur (vecteezy.com/Titiwoot Weerawong)
  • Eurometal memproyeksikan 300 ribu pekerjaan manufaktur Uni Eropa berisiko hilang sepanjang sisa 2026 akibat persaingan produsen China dan penggunaan komponen impor yang lebih murah.
  • Ketergantungan rantai pasok meningkat: China memasok 88% impor asam amino dan 96% polyhydric alcohol UE, bahan penting bagi farmasi, plastik, kosmetik, cat, serta antifreeze.
  • Defisit perdagangan UE-China mencapai €31,9 miliar pada April 2026, setara Rp20,4 triliun per hari; keduanya membuka pembicaraan tiga bulan terkait perdagangan, investasi, ekspor, HKI, dan WTO.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Industri manufaktur Eropa sedang menghadapi tekanan besar akibat semakin kuatnya persaingan dari China. Asosiasi industri Eurometal memperkirakan sekitar 300 ribu pekerjaan manufaktur di Uni Eropa (UE) berisiko hilang sepanjang sisa 2026 akibat meningkatnya persaingan dan ketergantungan terhadap komponen dari China. Kekhawatiran tersebut muncul ketika defisit perdagangan UE dengan China mencapai sekitar €1 miliar atau sekitar Rp20,4 triliun per hari. Kondisi ini membuat persoalan perdagangan bukan lagi sekadar soal barang impor, tapi juga menyangkut keberlangsungan pabrik dan lapangan pekerjaan di Eropa.

Di sisi lain, China semakin masuk ke berbagai rantai pasok industri Eropa melalui penjualan komponen, bahan baku, dan produk antara. Ketergantungan tersebut dinilai dapat membuat perusahaan Eropa semakin sulit mempertahankan produksi sendiri ketika harus bersaing dengan harga produk dari China. Lantas, mengapa kondisi ini bisa sampai mengancam ratusan ribu pekerjaan di Eropa?

1. Sekitar 300 ribu pekerjaan terancam

ilustrasi manufaktur, industri, karyawan pabrik (magnific.com/ArthurHidden)

Eurometal memperkirakan sekitar 300 ribu pekerjaan di sektor manufaktur UE berisiko hilang sepanjang sisa 2026. Perlu dipahami, angka tersebut merupakan proyeksi dari asosiasi industri, bukan berarti sebanyak 300 ribu pekerja sudah dipastikan terkena PHK. Proyeksi itu muncul karena perusahaan manufaktur Eropa menghadapi persaingan yang semakin berat dari produsen China.

Persoalannya juga bukan hanya produk jadi seperti mobil listrik. Perusahaan Eropa semakin banyak menggunakan komponen yang dibuat di China dalam proses produksinya, sehingga tekanan terhadap industri domestik bisa muncul dari dalam rantai pasok. Ketika komponen impor lebih murah daripada memproduksinya sendiri, perusahaan tentu punya insentif untuk memilih pemasok dari China, tapi keputusan tersebut bisa mengurangi permintaan terhadap produsen komponen Eropa.

2. Komponen China makin masuk rantai pasok Eropa

ilustrasi kemasan plastik styrofoam (unsplash.com/Xuan's gallery)

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah meningkatnya volume komponen China yang digunakan industri Eropa. Jens Eskelund, Presiden European Chamber of Commerce in China, menilai persoalan utama bukan hanya masuknya barang jadi seperti kendaraan listrik, melainkan besarnya volume komponen China yang membuat industri Eropa semakin bergantung pada pemasok dari negara tersebut. Ketergantungan itu dapat memengaruhi kemampuan perusahaan Eropa untuk mempertahankan produksi domestik.

Gambaran tersebut terlihat dari sejumlah bahan industri yang sudah banyak didatangkan dari China. Data yang dikutip The Guardian menunjukkan sekitar 88 persen impor asam amino UE berdasarkan volume berasal dari China, sementara untuk polyhydric alcohol angkanya mencapai sekitar 96 persen. Bahan-bahan tersebut digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari farmasi, plastik, kosmetik, cat, hingga antifreeze, sehingga persoalannya menyentuh banyak rantai produksi sekaligus.

3. Defisit perdagangan capai Rp20,4 triliun per hari

ilustrasi euro, mata uang Uni Eropa (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Tekanan industri tersebut berjalan beriringan dengan membengkaknya defisit perdagangan UE dengan China. Data Eurostat yang dikutip The Guardian menunjukkan selisih antara impor UE dari China dan ekspornya ke China mencapai €31,9 miliar pada April 2026. Jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp20.359 per euro, nilainya setara dengan kurang lebih Rp649,4 triliun.

Dalam perhitungan harian, defisit tersebut setara sekitar €1 miliar atau Rp20,4 triliun per hari. Besarnya angka ini menunjukkan bahwa nilai barang yang masuk dari China jauh lebih besar dibandingkan barang yang diekspor UE ke negara tersebut. Situasi tersebut kemudian mendorong kekhawatiran mengenai masa depan industri Eropa, terutama ketika barang dan komponen China semakin banyak digunakan dalam proses produksi di kawasan tersebut.

4. Produk China dinilai lebih murah

ilustrasi mobil listrik BYD (unsplash.com/Ansis Kančs)

Salah satu alasan produk dan komponen China menarik bagi perusahaan Eropa adalah persoalan harga. Oliver Richtberg dari VDMA menjelaskan bahwa subsidi negara yang sulit diterapkan di Eropa menjadi salah satu faktor yang membuat produk China bisa lebih murah. Ia juga mengutip situasi ketika pemasok China menawarkan produk dengan kualitas sekitar 95 persen dari produk Eropa, tapi dengan harga 30-50 persen lebih rendah.

Situasi tersebut tentu membuat perusahaan harus mempertimbangkan biaya produksi dengan sangat hati-hati. Jika komponen dari China tersedia dengan harga jauh lebih rendah, membeli dari pemasok domestik bisa membuat biaya produksi meningkat dan produk akhir menjadi kurang kompetitif. Di sinilah muncul kekhawatiran efek berantai, karena semakin banyak perusahaan beralih ke komponen impor, semakin kecil pula ruang bagi produsen komponen Eropa untuk mempertahankan bisnis dan tenaga kerjanya.

5. UE dan China mulai mencari jalan keluar

ilustrasi pekerja di China (pexels.com/Pixabay)

Tekanan perdagangan tersebut akhirnya mendorong UE dan China membuka pembicaraan selama tiga bulan. Kedua pihak sepakat membahas ketidakseimbangan perdagangan dan investasi yang nilainya sekitar €360 miliar atau sekitar Rp7.329 triliun per tahun jika dikonversikan menggunakan kurs Rp20.359 per euro. Pembicaraan tersebut diarahkan untuk membuat hubungan perdagangan kedua pihak menjadi lebih seimbang.

Pembahasan itu mencakup empat bidang utama, yaitu penyeimbangan perdagangan dan investasi, kontrol ekspor termasuk rare earths, hak kekayaan intelektual, serta reformasi aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Sebelumnya, UE juga telah memberlakukan tarif terhadap kendaraan listrik China pada 2024, tapi kebijakan tersebut dinilai belum sepenuhnya menghentikan peningkatan impor kendaraan listrik. Karena itu, perkembangan pembicaraan UE-China menjadi penting untuk melihat bagaimana hubungan perdagangan kedua pihak akan memengaruhi industri dan lapangan pekerjaan di Eropa.

Ancaman kehilangan 300 ribu pekerjaan menunjukkan bahwa persaingan industri antara Eropa dan China sudah berkembang jauh melampaui persoalan harga barang di pasar. Masuknya komponen China ke rantai pasok Eropa membuat perusahaan mendapatkan alternatif pemasok yang lebih murah, tapi pada saat bersamaan menambah ketergantungan terhadap industri China. Besarnya defisit perdagangan yang mencapai sekitar Rp20,4 triliun per hari juga memperlihatkan skala persoalan yang sedang dihadapi UE.

Bagi Eropa, tantangan berikutnya adalah mencari keseimbangan antara mendapatkan komponen dengan harga kompetitif dan mempertahankan kemampuan produksi domestik. Sementara itu, hasil pembicaraan UE dan China akan menjadi salah satu perkembangan penting yang perlu diperhatikan karena kebijakan perdagangan dapat berdampak langsung terhadap industri, investasi, hingga lapangan pekerjaan. Dengan kata lain, persaingan China dan Eropa kini bukan hanya soal siapa yang menjual lebih banyak produk, tapi juga tentang siapa yang menguasai bagian penting dari rantai produksi global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article