Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Harga Batu Bara Melejit Tinggi akibat Perang Timur Tengah

Harga Batu Bara Melejit Tinggi akibat Perang Timur Tengah
Ilustrasi tambang batu bara (unsplash.com/Artyom Korshunov)
Intinya Sih
  • Serangan drone ke fasilitas LNG Qatar dan penutupan Selat Hormuz memicu kekacauan pasokan energi global, membuat harga batu bara melonjak hingga 150 dolar AS per ton.
  • Banyak negara Asia dan Eropa kembali mengandalkan batu bara untuk menjaga pasokan listrik karena gas alam sulit diperoleh akibat konflik di Timur Tengah.
  • Kenaikan tajam harga energi menimbulkan kekhawatiran resesi global, dengan biaya produksi meningkat dan pasar masih ragu terhadap stabilitas jalur pelayaran internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pasar energi dunia dikejutkan oleh lonjakan harga batu bara yang kini menembus angka 150 dolar AS (Rp2,53 juta) per ton. Kenaikan drastis ini dipicu langsung oleh gangguan besar pada fasilitas gas alam cair (LNG) di Qatar akibat serangan drone yang melumpuhkan jalur pasokan global.

Terhentinya operasional di pusat energi tersebut menciptakan kekosongan pasokan yang membuat negara-negara pengimpor mulai panik mencari bahan bakar alternatif.

Kondisi darurat ini memaksa banyak negara di Asia dan Eropa untuk kembali mengandalkan batu bara sebagai tumpuan utama guna mencegah pemadaman listrik massal. Ketidakpastian keamanan di jalur laut Timur Tengah membuat stok batu bara fisik dianggap jauh lebih aman dan stabil dibandingkan gas alam yang saat ini sulit didapat.

1. Serangan drone ke Qatar picu lonjakan harga batu bara

Harga batu bara melonjak tajam pada awal pekan ini akibat gangguan besar pada infrastruktur energi di Timur Tengah. Serangan pesawat tanpa awak atau drone memaksa Qatar untuk menghentikan operasional di Ras Laffan, yang merupakan fasilitas ekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Fasilitas ini menyumbang sekitar 20 persen dari total pasokan gas dunia dan baru kali ini ditutup sepenuhnya dalam 30 tahun sejarah operasionalnya. Kondisi ini menyebabkan lubang besar dalam pasokan energi global yang sulit ditutupi oleh negara produsen lain dalam waktu singkat.

Krisis ini semakin buruk setelah jalur perdagangan laut yang sangat penting, yaitu Selat Hormuz, ditutup akibat aksi militer. Penutupan ini memutus rantai pasokan energi ke berbagai negara di Asia dan Eropa, karena Selat Hormuz adalah jalur utama bagi kapal tanker yang membawa hampir sepertiga perdagangan minyak dunia.

Di saat yang sama, para produsen minyak di kawasan Teluk secara mendadak memangkas produksi mereka karena alasan keamanan. Hal ini menyebabkan harga minyak mentah dunia jenis Brent melambung hingga mendekati angka 120 dolar AS (Rp2 juta) per barel.

Pasar saat ini merasa khawatir karena tidak ada cadangan energi yang cukup untuk menggantikan gas dari Qatar dengan cepat. Ketidakpastian mengenai kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali memicu spekulasi harga yang liar.

Di Eropa, harga gas alam bahkan sempat naik hingga 30 persen dalam satu hari. Kondisi ini menciptakan efek domino yang merambat ke pasar batu bara, karena banyak negara terpaksa beralih kembali ke bahan bakar konvensional yang lebih mudah didapat dan disimpan untuk menjaga ketahanan energi mereka.

2. Dunia ramai-ramai beralih ke batu bara akibat krisis gas

Kesulitan mendapatkan pasokan gas alam dan minyak bumi yang aman memicu banyak negara beralih kembali menggunakan batu bara. Langkah ini diambil oleh berbagai perusahaan listrik dunia untuk menghidupkan lagi pembangkit listrik tenaga batu bara demi mencegah pemadaman listrik secara luas.

Di pasar global, harga kontrak batu bara Newcastle melonjak tajam sebesar 9,3 persen menjadi 150 dolar AS (Rp2,53 juta) per ton pada Senin (9/3/2026). Negara-negara besar seperti Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan kini lebih memilih batu bara karena cadangannya dianggap jauh lebih aman dan mudah didapat dibandingkan gas yang harus melewati wilayah konflik.

Meskipun dunia sedang berusaha beralih ke energi ramah lingkungan, krisis di Timur Tengah membuktikan, batu bara tetap menjadi pilihan utama saat keadaan darurat. Hal ini dikarenakan batu bara bisa disimpan selama berbulan-bulan di lokasi pembangkit listrik, sedangkan gas alam sangat bergantung pada pipa atau pengiriman kapal yang rawan serangan.

Di Asia, negara-negara seperti India, Pakistan, dan Bangladesh juga mulai mengubah strategi energi mereka. Mereka beralih ke batu bara untuk menekan biaya operasional yang membengkak akibat harga gas yang sudah tidak terjangkau lagi oleh anggaran negara.

3. Lonjakan harga batu bara picu kekhawatiran resesi global

Kenaikan harga batu bara hingga mencapai 150 dolar AS (Rp2,53 juta) per ton bukan hanya menjadi tanda krisis energi, tetapi juga menunjukkan ketakutan akan terjadinya kemerosotan ekonomi dunia jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut. Ahli keuangan dari Goldman Sachs memberikan peringatan keras, dampak perang antara AS-Israel melawan Iran bisa berakibat 17 kali lebih buruk dibandingkan krisis energi tahun 2022 lalu. Mahalnya biaya energi ini akan membuat biaya produksi pabrik naik tajam, yang pada akhirnya menyebabkan harga barang-barang kebutuhan masyarakat ikut melonjak di seluruh dunia.

Meski Presiden AS, Donald Trump menyatakan, konflik ini mungkin akan segera berakhir, pasar tetap ragu karena belum ada jaminan keamanan di jalur pelayaran internasional. Situasi ini justru memberikan keuntungan besar bagi perusahaan tambang internasional seperti Peabody Energy, karena banyak negara kini sangat bergantung pada batu bara sebagai sumber energi paling aman di tengah kekacauan dunia. Walaupun negara-negara maju yang tergabung dalam G7 berusaha mengeluarkan cadangan energi mereka, tekanan harga diperkirakan akan tetap tinggi selama fasilitas gas di Qatar belum beroperasi dan Selat Hormuz belum dibuka kembali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More