Hilirisasi Nikel di Morowali Butuh Lebih Banyak SDM, Harus Ada Solusi

- Hilirisasi nikel di Morowali berkembang pesat, namun kekurangan insinyur metalurgi menjadi tantangan utama yang bisa menghambat penguasaan teknologi dan memperlambat transfer pengetahuan industri.
- Pengamat menilai keterbatasan SDM lokal dapat mengurangi nilai tambah hilirisasi, sehingga penguatan kapasitas teknologi dan asimilasi inovasi menjadi kunci keberlanjutan industrialisasi nasional.
- Pemerintah bersama GEM Co., Ltd. dan Central South University menjalankan program pendidikan teknik untuk mencetak ribuan ahli metalurgi, guna mempercepat transfer teknologi dan kurangi ketergantungan tenaga asing.
Jakarta, IDN Times - Perkembangan kawasan industri nikel di Morowali kerap dijadikan contoh keberhasilan percepatan hilirisasi mineral di Indonesia. Sayangnya, di balik ekspansi smelter dan fasilitas pengolahan, muncul tantangan besar berupa keterbatasan sumber daya manusia (SDM), khususnya insinyur metalurgi.
GEM Group (GEM Co., Ltd.), salah satu pelaku industri di Morowali, melihat kebutuhan tenaga ahli yang mampu mengelola teknologi pengolahan canggih dinilai belum sebanding dengan laju pertumbuhan industri.
1. Hilirisasi berkembang cepat, jumlah ahli metalurgi masih terbatas

Perusahaan melihat kebutuhan tenaga ahli masih sangat tinggi, apalagi insinyur yang bisa memahami proses metalurgi kompleks seperti High Pressure Acid Leach (HPAL), rekayasa material, hingga pengolahan logam strategis.
Ketersediaan SDM yang terbatas menjadi salah satu isu krusial dalam pengembangan hilirisasi. Tanpa insinyur metalurgi yang memadai, penguasaan teknologi berisiko tetap bergantung pada tenaga asing, sehingga transfer teknologi berjalan lebih lambat.
Situasi ini juga berpotensi membuat Indonesia hanya menjadi basis pengolahan bahan mentah, tanpa kemampuan kuat dalam pengembangan teknologi dan inovasi industri.
2. Kekurangan SDM bisa hambat nilai tambah hilirisasi

Pengamat energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai keterbatasan SDM metalurgi dapat memengaruhi keberlanjutan hilirisasi. Tanpa penguasaan teknologi oleh tenaga lokal, nilai tambah ekonomi berisiko tidak berkembang secara optimal.
Fahmy menekankan pentingnya asimilasi teknologi dalam hilirisasi. Menurutnya, transfer teknologi harus benar-benar mengakar agar industrialisasi nasional dapat berjalan berkelanjutan.
"Tanpa asimilasi teknologi mutakhir, nilai tambah ekonomi akan sulit berkembang secara berkelanjutan," ujar Fahmy, dikutip Jumat (3/4/2026).
Dengan Indonesia memegang sekitar 44 persen cadangan nikel dunia, kebutuhan insinyur metalurgi diperkirakan akan terus meningkat. Karena itu, penguatan SDM dinilai menjadi faktor penting agar hilirisasi di Morowali tidak hanya menghadirkan fasilitas industri, tetapi juga membangun kapasitas teknologi nasional.
3. Kerja sama GEM dan CSU disiapkan untuk menutup kekurangan SDM

Untuk menutup kesenjangan SDM, program pengembangan talenta teknik mulai dijalankan. Salah satunya melalui kolaborasi antara pemerintah Indonesia, GEM Co., Ltd, dan Central South University. Program itu difokuskan pada bidang metalurgi nikel, rekayasa material baterai, serta teknologi pemrosesan mineral yang dibutuhkan industri hilirisasi.
Sebanyak 266 mahasiswa Indonesia telah mengikuti pendidikan teknik melalui program tersebut. Selain itu, program ini menargetkan pencetakan 100 doktor teknik, 1.000 magister teknik, dan 10 ribu tenaga ahli teknis dalam jangka panjang.
Sejumlah lulusan telah kembali dan menempati posisi strategis di kawasan industri Morowali, termasuk pada departemen pengolahan berbasis teknologi HPAL skala industri. Kehadiran mereka diharapkan membantu mempercepat transfer teknologi sekaligus mengurangi ketergantungan pada tenaga ahli dari luar negeri.

















