Kenapa Presiden Trump Ingin Suku Bunga AS Turun hingga 1 Persen?

- Trump mendesak suku bunga AS turun ke 1 persen atau lebih rendah, karena menilai kredit AS kuat dan bunga murah dapat mendorong investasi serta menekan biaya pembiayaan.
- The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75-4 persen pada 16 September 2026, dengan alasan inflasi masih tinggi dan perlu diarahkan ke target 2 persen.
- Trump juga mengaitkan bunga dengan defisit perdagangan, meski ekonom memandang keduanya sebagai persoalan berbeda; The Fed menegaskan keputusan moneter tetap berada dalam kewenangannya.
Presiden Donald Trump kembali mendesak agar suku bunga Amerika Serikat (AS) diturunkan hingga 1 persen atau bahkan lebih rendah. Pernyataan tersebut disampaikan setelah The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75 hingga 4 persen pada 16 September 2026. Perbedaan pandangan ini membuat kebijakan suku bunga AS kembali menjadi perhatian.
Trump sebelumnya juga berulang kali menyuarakan keinginannya agar suku bunga AS lebih rendah. Dalam pernyataannya, Trump mengaitkan bunga rendah dengan investasi dan menyebut Amerika Serikat sebagai negara dengan kualitas kredit yang sangat kuat. Mengapa Trump menginginkan suku bunga turun hingga 1 persen ketika The Fed justru menilai kenaikan bunga diperlukan untuk menghadapi tekanan inflasi?
Table of Content
1. Trump menilai bunga rendah bisa mendorong investasi

ilustrasi suku bunga (pexels.com/Nataliya Vaitkevich) Trump menyebut, suku bunga yang lebih rendah dapat mendukung investasi di Amerika Serikat. Setelah keputusan The Fed, Trump mengatakan, suku bunga seharusnya berada di 1 persen atau lebih rendah karena Amerika Serikat memiliki posisi kredit yang kuat dan sedang mengalami peningkatan investasi. Dengan biaya pinjaman yang lebih rendah, perusahaan dan masyarakat secara teori memiliki biaya pendanaan yang lebih kecil untuk membiayai kegiatan ekonomi.
Suku bunga yang lebih rendah memang dapat membuat pinjaman menjadi lebih murah dan mendorong aktivitas ekonomi melalui konsumsi maupun investasi. Namun, manfaat tersebut perlu dilihat bersama kondisi inflasi karena permintaan yang terlalu kuat dapat meningkatkan tekanan harga. Karena itu, keinginan untuk menurunkan bunga tidak otomatis berarti kebijakan tersebut dapat langsung diterapkan ketika inflasi masih berada di atas target The Fed.
2. Trump ingin biaya pinjaman di AS lebih rendah

ilustrasi meminjam uang (magnific.com/rawpixel) Suku bunga acuan The Fed memengaruhi kondisi pembiayaan di berbagai bagian perekonomian AS. Ketika suku bunga berada pada tingkat yang lebih tinggi, biaya pinjaman bagi rumah tangga dan perusahaan dapat ikut meningkat sehingga keputusan membeli rumah, melakukan ekspansi bisnis, atau mengambil kredit dapat menjadi lebih mahal. Keinginan Trump untuk menurunkan suku bunga berkaitan dengan dorongan agar biaya pembiayaan tersebut menjadi lebih ringan bagi perekonomian.
Namun, suku bunga rendah juga memiliki konsekuensi jika diterapkan ketika tekanan harga masih kuat. The Fed menyatakan, inflasi masih meningkat dan kebijakan kenaikan bunga diperlukan untuk membantu mengembalikan inflasi menuju target 2 persen. Jadi, terdapat perbedaan pertimbangan antara keinginan mendorong biaya pinjaman lebih rendah dan kebutuhan menjaga inflasi agar tidak semakin tinggi.
3. Trump mengaitkan bunga dengan investasi dan defisit perdagangan

ilustrasi dolar Amerika (pexels.com/kaboompics) Trump juga menghubungkan kebijakan suku bunga dengan kondisi perdagangan AS. Setelah keputusan The Fed, ia kembali menyinggung defisit perdagangan dan mengatakan, AS dapat memperoleh keuntungan besar jika berhenti berdagang dengan negara yang mengalami surplus perdagangan terhadap AS. Trump kemudian menggunakan argumen tersebut sebagai bagian dari seruannya agar suku bunga segera diturunkan.
Namun, hubungan antara defisit perdagangan dan tingkat suku bunga tidak sesederhana pernyataan tersebut. Para ekonom umumnya memandang defisit perdagangan dan tingkat suku bunga sebagai dua persoalan yang berbeda, sehingga keduanya tidak dapat begitu saja dianggap memiliki hubungan sebab-akibat langsung. Karena itu, bagian ini hanya sebagai alasan atau pandangan yang disampaikan Trump, bukan sebagai kesimpulan ekonomi yang sudah terbukti.
4. Pandangan Trump berbeda dengan pertimbangan The Fed

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio) Perbedaan kebijakan antara Trump dan The Fed terlihat jelas setelah bank sentral menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023. The Fed menyatakan inflasi masih terlalu tinggi dan kenaikan suku bunga diperlukan untuk membantu membawa inflasi kembali menuju target 2 persen. Proyeksi terbaru juga menunjukkan sebagian besar pejabat The Fed masih memperkirakan adanya satu kenaikan suku bunga lagi pada 2026.
Trump justru menginginkan arah kebijakan yang berlawanan dengan meminta suku bunga berada di 1 persen atau lebih rendah. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan moneter tidak hanya berkaitan dengan keinginan membuat pinjaman lebih murah, tetapi juga harus mempertimbangkan inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kondisi pasar.
Dalam sistem Federal Reserve, keputusan suku bunga dibuat oleh Federal Open Market Committee berdasarkan penilaian terhadap kondisi ekonomi. Sementara Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan, independensi bank sentral berarti The Fed tetap berada dalam kewenangannya sendiri.
Keinginan Trump agar suku bunga turun berkaitan dengan pandangannya bahwa bunga yang lebih rendah dapat mendukung investasi dan membuat biaya pembiayaan lebih ringan. Sementara itu, The Fed memilih menaikkan suku bunga karena masih menghadapi tekanan inflasi dan menilai kebijakan yang lebih ketat diperlukan untuk mencapai target inflasi. Perbedaan pandangan tersebut membuat arah suku bunga AS tetap menjadi perhatian karena keputusannya dapat memengaruhi perekonomian Amerika Serikat dan pasar keuangan global.





















