Ibrahim menyoroti perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, terutama ketegangan yang melibatkan Iran dan Arab Saudi. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Arab Saudi, Turki, dan Pakistan telah mengadakan pembicaraan dengan pejabat Iran di Teheran pada Senin (26/10/2026). Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan diskusi guna memperkuat perdamaian dan keamanan kawasan, meskipun belum mencapai hasil yang diharapkan.
Namun, upaya diplomatik tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan. Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran menyatakan pada Selasa (27/10/2026) telah menyerang kilang minyak terbesar Arab Saudi menggunakan rudal. Pihak berwenang Arab Saudi belum segera mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas yang memiliki kapasitas pengolahan 550 ribu barel minyak per hari tersebut.
Pada awal pekan ini, kelompok tersebut juga mengklaim menyerang stasiun pemompaan di sepanjang jalur pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi. Jalur pipa itu memungkinkan minyak mentah dialirkan tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Selain itu, kelompok Houthi mengklaim menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Serangkaian klaim serangan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan jalur alternatif ekspor minyak Arab Saudi. Kekhawatiran itu muncul ketika pelayaran melalui Selat Hormuz, salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia, masih terganggu akibat konflik yang melibatkan Iran. Kondisi tersebut membuat keamanan pasokan energi global tetap menjadi perhatian pelaku pasar.
"Serangan-serangan tersebut memicu kekhawatiran mengenai keamanan rute ekspor alternatif, terutama di saat pengiriman melalui Selat Hormuz jalur vital bagi pasokan minyak global masih sangat terganggu akibat konflik yang lebih luas yang melibatkan Iran," kata Ibrahim.