ilustrasi SPBU Shell, perusahaan energi, bensin, BBM (unsplash.com/Nils Limp)
Pemerintah di sejumlah negara sebenarnya sudah berupaya meredakan tekanan harga energi. Salah satunya melalui pelepasan cadangan solar darurat dan kesepakatan Amerika Serikat dengan Rusia untuk meningkatkan pasokan solar ke pasar global. Meski demikian, langkah-langkah tersebut belum tentu memberikan dampak besar apabila gak benar-benar menambah jumlah bahan bakar yang tersedia. Pasalnya, persoalan utama saat ini bukan hanya harga minyak mentah, melainkan juga terbatasnya pasokan produk olahan.
Raphael Portela, Direktur Strategi Korporat dan Analitik di konsultan energi Wood Mackenzie, menjelaskan bahwa minyak mentah masih bisa keluar dari kawasan Teluk meskipun perang berlangsung. Namun, pengirimannya harus menanggung biaya pengangkutan yang jauh lebih mahal. Ia juga menyoroti bahwa pasokan solar dan bahan bakar pesawat yang seharusnya dihasilkan dari minyak tersebut gak sepenuhnya tersedia di pasar. Menurutnya, gangguan kilang Rusia dan pembatasan ekspor turut mengurangi pasokan bahan bakar global.
Portela menilai pemulihan pasokan membutuhkan beberapa kondisi, termasuk beroperasinya kembali kilang di kawasan Teluk dan kembalinya ekspor produk olahan Rusia. Penyelesaian ketegangan di Selat Hormuz juga berpotensi menekan margin keuntungan penyulingan dalam waktu relatif cepat. Namun, ia memperingatkan bahwa persediaan bahan bakar yang sudah menipis membuat tekanan pasokan secara fisik berpotensi berlanjut hingga 2027. Artinya, konsumen masih harus bersiap menghadapi ketidakpastian harga energi dalam beberapa waktu ke depan.
Lonjakan keuntungan perusahaan minyak besar dunia memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik dan gangguan pasokan bisa menciptakan keuntungan bagi sebagian pelaku industri energi. Shell, BP, Exxon, hingga Chevron menikmati peningkatan kinerja bisnis ketika margin pengolahan BBM mengalami kenaikan.
Sebaliknya, konsumen harus menghadapi tekanan biaya energi yang berpotensi merembet ke berbagai kebutuhan sehari-hari. Selama pasokan bahan bakar global belum kembali stabil dan konflik geopolitik masih berlangsung, kesenjangan antara keuntungan perusahaan minyak dan beban konsumen berpeluang terus menjadi perhatian dunia.