Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi perusahaan minyak dan gas Shell, perusahaan energi, BBM, bensin, minyak bumi (unsplash.com/Click Jeth)
  • Raksasa energi seperti Shell, BP, Exxon, dan Chevron meraih keuntungan lebih besar dari margin pengolahan BBM saat pasokan produk olahan terbatas dan permintaan tetap tinggi.
  • Konflik Rusia-Ukraina, ketegangan Timur Tengah, serangan terhadap infrastruktur energi, serta berkurangnya kapasitas kilang memperketat pasokan bensin, solar, dan bahan bakar pesawat global.
  • Chevron membukukan laba bisnis hilir US$4,9 miliar pada kuartal III 2026, lebih dari empat kali lipat tahunan; sementara konsumen menghadapi biaya energi dan distribusi lebih tinggi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika harga bahan bakar minyak (BBM) mengalami kenaikan, konsumen biasanya menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya. Pengeluaran untuk transportasi bertambah, biaya logistik ikut meningkat, dan harga berbagai kebutuhan sehari-hari berpotensi ikut terkerek.

Namun, situasi berbeda justru dialami sejumlah perusahaan minyak dan gas raksasa dunia. Di tengah ketatnya pasokan bahan bakar dan konflik geopolitik, perusahaan seperti Shell, BP, Chevron, hingga Exxon justru menikmati lonjakan keuntungan. Kondisi ini bahkan membuat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat mengkritik perusahaan minyak besar karena dinilai meraup keuntungan terlalu tinggi.

Lantas, bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut bisa panen cuan ketika konsumen harus menghadapi tekanan harga energi?

1. Raksasa minyak menikmati lonjakan keuntungan dari pengolahan BBM

ilustrasi perusahaan minyak dan gas Exxon, energi, BBM, bensin, minyak bumi, SPBU (unsplash.com/Raymond Kotewicz)

Sejumlah perusahaan minyak besar dunia melaporkan peningkatan keuntungan dari bisnis pengolahan minyak mentah menjadi produk bahan bakar. Shell, BP, TotalEnergies, dan Exxon mencatat kenaikan tajam pada margin bisnis produk olahan mereka. Margin tersebut menggambarkan keuntungan yang diperoleh perusahaan dari proses mengolah minyak mentah menjadi bensin, solar, hingga bahan bakar pesawat. Ketika pasokan produk olahan semakin terbatas, margin keuntungan bisnis ini berpotensi meningkat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan minyak gak selalu memperoleh keuntungan terbesar dari kenaikan harga minyak mentah saja. Bisnis pengolahan atau penyulingan juga bisa menjadi mesin penghasil cuan ketika permintaan bahan bakar tetap tinggi, sementara pasokannya terbatas. Situasi inilah yang membuat sejumlah perusahaan energi menikmati peningkatan pendapatan di tengah ketidakpastian pasar global. Bahkan, keuntungan mereka kembali mendekati level yang terakhir terlihat ketika terjadi krisis energi pada 2022 setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.

2. Pasokan bahan bakar global semakin tertekan akibat konflik geopolitik

ilustrasi Ukraina dan Rusia (magnific.com/wirestock)

Salah satu faktor utama di balik lonjakan keuntungan tersebut adalah terganggunya pasokan bahan bakar dunia. Konflik antara Rusia dan Ukraina, perang yang melibatkan Iran, serta serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi ikut memperburuk kondisi pasar. Serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap kilang minyak Rusia mengganggu aktivitas pengolahan bahan bakar di negara tersebut. Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah membuat rantai pasokan energi global semakin rentan mengalami gangguan.

Masalahnya, gangguan tersebut terjadi ketika kapasitas pengolahan minyak di sejumlah wilayah juga mengalami penurunan. Komisaris Energi dan Perumahan Uni Eropa, Dan Jørgensen, mengungkapkan bahwa sekitar seperempat kilang minyak di Uni Eropa telah berhenti beroperasi selama dua dekade terakhir. Ia bahkan memperingatkan bahwa kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi keamanan energi kawasan. Akibatnya, meskipun sejumlah perusahaan minyak berusaha menjalankan kilang mereka mendekati kapasitas maksimal, pasokan produk olahan tetap sulit mengejar kebutuhan pasar.

Kondisi ini menciptakan tekanan tambahan terhadap harga bahan bakar. Ketika kilang minyak mengalami gangguan, jumlah bensin, solar, dan bahan bakar pesawat yang tersedia di pasar ikut terpengaruh. Negara-negara yang bergantung pada pasokan dari wilayah terdampak juga harus menghadapi ketidakpastian distribusi. Pada akhirnya, konsumen dan pelaku usaha berpotensi menanggung biaya energi yang lebih tinggi.

3. Chevron mencatat lonjakan keuntungan bisnis hilir hingga empat kali lipat

ilustrasi perusahaan minyak dan gas Chevron, energi, BBM, bensin, minyak bumi, SPBU (unsplash.com/Luis Ramirez)

Salah satu perusahaan yang menikmati peningkatan keuntungan signifikan adalah Chevron. Dalam laporan kinerja kuartal III 2026, perusahaan tersebut mencatat laba bisnis hilir atau downstream mencapai US$4,9 miliar. Jika dikonversikan dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp80,85 triliun. Angka tersebut meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bisnis hilir Chevron mencakup kegiatan pengolahan, pemasaran, dan penjualan produk minyak. Perusahaan mengaitkan peningkatan kinerjanya dengan margin yang lebih tinggi dari penjualan produk olahan. Artinya, ketika harga jual produk bahan bakar memberikan selisih keuntungan lebih besar dibandingkan biaya pengolahannya, perusahaan bisa menikmati pendapatan yang semakin tinggi. Situasi ini menjadi keuntungan tersendiri ketika pasokan BBM global sedang mengalami tekanan.

Meski begitu, Chevron gak melaporkan angka margin penyulingan secara terpisah seperti sejumlah perusahaan minyak lainnya. Namun, peningkatan laba bisnis hilir tersebut memberikan gambaran bahwa ketatnya pasokan bahan bakar turut memberikan keuntungan bagi perusahaan. Di sisi lain, konsumen justru menghadapi situasi yang berbeda karena harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan energi. Perbedaan kondisi ini memperlihatkan bagaimana gangguan pasar energi bisa memberikan dampak yang tidak sama bagi setiap pihak.

4. Harga minyak mentah yang tinggi ikut mendongkrak pendapatan perusahaan

ilustrasi kilang minyak, perusahaan energi (pexels.com/Jan-Rune Smenes Reite)

Selain margin pengolahan BBM, kenaikan harga minyak mentah juga memberikan keuntungan bagi perusahaan energi yang menjalankan bisnis terintegrasi. Perusahaan seperti Exxon dan Shell memiliki kegiatan usaha dari hulu hingga hilir. Bisnis hulu mencakup eksplorasi dan produksi minyak serta gas, sedangkan bisnis hilir meliputi pengolahan dan penjualan produk bahan bakar. Dengan model bisnis tersebut, perusahaan bisa memperoleh keuntungan dari beberapa tahapan industri energi sekaligus.

Ketika harga minyak mentah meningkat, perusahaan yang memproduksi minyak berpeluang mendapatkan pendapatan lebih tinggi dari penjualan hasil produksinya. Pada saat bersamaan, gangguan pasokan produk olahan dapat meningkatkan margin bisnis penyulingan. Kombinasi kedua kondisi tersebut membuat perusahaan minyak terintegrasi memiliki peluang menikmati keuntungan dari lebih dari satu sisi bisnis. Inilah salah satu alasan mengapa sejumlah perusahaan energi mampu mencatatkan kinerja positif ketika pasar global sedang mengalami tekanan.

Namun, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan situasi yang dihadapi konsumen. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang. Perusahaan yang bergantung pada bahan bakar untuk menjalankan operasionalnya juga berpotensi menaikkan harga jual demi menjaga keuntungan. Dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor ekonomi, termasuk makanan, manufaktur, hingga layanan transportasi.

5. Upaya menurunkan harga BBM belum tentu langsung berhasil

ilustrasi SPBU Shell, perusahaan energi, bensin, BBM (unsplash.com/Nils Limp)

Pemerintah di sejumlah negara sebenarnya sudah berupaya meredakan tekanan harga energi. Salah satunya melalui pelepasan cadangan solar darurat dan kesepakatan Amerika Serikat dengan Rusia untuk meningkatkan pasokan solar ke pasar global. Meski demikian, langkah-langkah tersebut belum tentu memberikan dampak besar apabila gak benar-benar menambah jumlah bahan bakar yang tersedia. Pasalnya, persoalan utama saat ini bukan hanya harga minyak mentah, melainkan juga terbatasnya pasokan produk olahan.

Raphael Portela, Direktur Strategi Korporat dan Analitik di konsultan energi Wood Mackenzie, menjelaskan bahwa minyak mentah masih bisa keluar dari kawasan Teluk meskipun perang berlangsung. Namun, pengirimannya harus menanggung biaya pengangkutan yang jauh lebih mahal. Ia juga menyoroti bahwa pasokan solar dan bahan bakar pesawat yang seharusnya dihasilkan dari minyak tersebut gak sepenuhnya tersedia di pasar. Menurutnya, gangguan kilang Rusia dan pembatasan ekspor turut mengurangi pasokan bahan bakar global.

Portela menilai pemulihan pasokan membutuhkan beberapa kondisi, termasuk beroperasinya kembali kilang di kawasan Teluk dan kembalinya ekspor produk olahan Rusia. Penyelesaian ketegangan di Selat Hormuz juga berpotensi menekan margin keuntungan penyulingan dalam waktu relatif cepat. Namun, ia memperingatkan bahwa persediaan bahan bakar yang sudah menipis membuat tekanan pasokan secara fisik berpotensi berlanjut hingga 2027. Artinya, konsumen masih harus bersiap menghadapi ketidakpastian harga energi dalam beberapa waktu ke depan.

Lonjakan keuntungan perusahaan minyak besar dunia memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik dan gangguan pasokan bisa menciptakan keuntungan bagi sebagian pelaku industri energi. Shell, BP, Exxon, hingga Chevron menikmati peningkatan kinerja bisnis ketika margin pengolahan BBM mengalami kenaikan.

Sebaliknya, konsumen harus menghadapi tekanan biaya energi yang berpotensi merembet ke berbagai kebutuhan sehari-hari. Selama pasokan bahan bakar global belum kembali stabil dan konflik geopolitik masih berlangsung, kesenjangan antara keuntungan perusahaan minyak dan beban konsumen berpeluang terus menjadi perhatian dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article