MBG Dikritik Fitch Ratings: Airlangga: Investasi Ekonomi Jangka Panjang

- Airlangga Hartarto menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah investasi jangka panjang yang dapat memperkuat ekonomi dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
- Fitch Ratings menilai peningkatan belanja sosial, termasuk MBG, berpotensi menekan ruang fiskal dan menjadi alasan revisi outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.
- Fitch memproyeksikan rasio pendapatan terhadap PDB sekitar 13,3 persen pada 2026–2027, mencerminkan penerimaan pajak yang melemah dan keterbatasan ruang fiskal pemerintah.
Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan investasi jangka panjang yang dapat memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan Airlangga menanggapi sorotan lembaga pemeringkat global Fitch Ratings yang menilai peningkatan belanja sosial, termasuk program MBG, berpotensi menambah tekanan terhadap ruang fiskal pemerintah. Catatan tersebut menjadi salah satu alasan revisi outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.
"“Program MBG adalah investasi. Banyak negara melakukan hal yang sama, bahkan Amerika Serikat juga menjalankan program serupa,” ujar Airlangga dalam konferensi pers Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
1. Program MBG bisa beri manfaat ekonomi 7 dolar AS

Airlangga merujuk pada studi World Bank dan Rockefeller Foundation yang menunjukkan setiap 1 dolar AS investasi pada program makan bergizi gratis berpotensi menghasilkan manfaat ekonomi hingga 7 dolar AS.
Menurutnya, program tersebut telah diterapkan di berbagai negara, termasuk United States, sebagai bagian dari investasi pembangunan sumber daya manusia.
“Ini merupakan tantangan jangka menengah dan panjang. Kita tidak bisa mengorbankan tujuan jangka panjang hanya untuk kepentingan jangka pendek,” katanya.
2. Belanja untuk MBG bebani defisit APBN

Sebelumnya, Fitch menyampaikan defisit APBN pada 2026 mencapai 2,9 persen dari PDB, sama seperti proyeksi 2025 dan lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,7 persen.
Kenaikan defisit dipengaruhi oleh peningkatan belanja sosial, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan menelan biaya sekitar 1,3 persen dari PDB selama periode 2025–2029. Program ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko penyimpangan fiskal apabila tidak diimbangi penguatan penerimaan.
“Upaya untuk meningkatkan pertumbuhan PDB dan meredakan ketegangan sosial pascaprotes tahun lalu akan mendorong belanja sosial yang lebih tinggi, termasuk program makanan bergizi gratis,” tulis Fitch.
3. Rasio pendapatan terhadap PDB sentuh 13,3 persen pada 2026-2027

Di sisi lain, Fitch memproyeksikan rasio pendapatan pemerintah terhadap PDB rata-rata sebesar 13,3 persen pada 2026–2027. Proyeksi ini mencerminkan melemahnya penerimaan sepanjang 2025 akibat turunnya penerimaan pajak, pembatalan kenaikan PPN, serta pengalihan dividen BUMN ke Danantara.
"Upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kepatuhan pajak semestinya dapat mendorong penerimaan, namun kecil kemungkinan menghasilkan peningkatan signifikan dalam jangka pendek sehingga ruang fiskal tetap terbatas,” tulis Fitch.


















