OJK Dorong Investor Muda Tak Hanya Berorientasi Trading Jangka Pendek

- Potensi pertumbuhan pasar modal masih besar
- Nilai rasio kapitalisasi pasar saham terhadap PDB naik jadi 72 persen sepanjang tahun lalu
- Kinerja pasar modal Indonesia cemerlang sepanjang tahun lalu
Jakarta, IDN Times - Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, mengingatkan pentingnya perubahan cara pandang investor ritel, terutama generasi muda, terhadap investasi di pasar saham. Namun, Mahendra menegaskan pasar saham seharusnya tidak hanya dipandang sebagai ajang untuk mencari keuntungan cepat melalui perdagangan harian.
"Investor ritel kita diharapkan tidak melihat pasar saham semata-mata sebagai transaksi harian jangka pendek. Pasar saham justru perlu dimaknai sebagai salah satu sumber pendanaan jangka menengah dan panjang yang dapat meningkatkan kesejahteraan keuangan," ujar Mahendra dalam sambutannya pada Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2026 di Main Hall BEI, Jakarta Selatan, Jumat (2/1/2026).
1. Potensi pertumbuhan pasar modal masih besar

Menurut Mahendra, perubahan perspektif tersebut penting untuk memastikan pertumbuhan pasar modal berlangsung lebih sehat. Apalagi, ruang dan potensi pengembangan pasar modal Indonesia dinilai masih sangat besar. Namun, realisasi potensi itu membutuhkan perbaikan berkelanjutan pada ekosistem pasar, termasuk penguatan integritas dan tata kelola.
"Hal-hal itu menunjukkan untuk merealisasikan ruang dan potensi pertumbuhan pasar modal masih sangat besar dan terus memerlukan perbaikan ekosistem termasuk aspek integritas pasar yang menjadi landasan utama terciptanya a well-functioning and efficient capital market," ujar Mahendra.
2. Nilai rasio kapitalisasi pasar saham terhadap PDB naik jadi 72 persen sepanjang tahun lalu

Mahendra menjelaskan, rasio kapitalisasi pasar saham terhadap produk domestik bruto (PDB) naik dari 56 persen pada akhir 2024 menjadi 72 persen pada akhir 2025.
"Sungguh kenaikan yang luar biasa. Namun, angka itu masih berada di bawah negara-negara di kawasan kita, seperti India 140 persen, Thailand 101 persen, dan Malaysia 97 persen" kata Mahendra.
Meski begitu, Mahendra menilai potensi pengembangan pasar modal Indonesia masih besar. Salah satu indikatornya, porsi transaksi investor ritel meningkat dari 38 persen pada akhir 2024 menjadi 50 persen di tahun lalu. Menurutnya, kenaikan tersebut perlu diikuti dengan penguatan perlindungan investor agar pertumbuhan pasar berjalan lebih sehat dan berkelanjutan.
"Proporsi investor ritel di Indonesia tergolong besar dibandingkan banyak negara lain yang lebih mengandalkan investor institusional, baik dari dalam maupun luar negeri," kata Mahendra.
3. Kinerja pasar modal Indonesia cemerlang sepanjang tahun lalu

Selain itu, kinerja pasar modal Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan perkembangan positif. Namun, sejumlah indikator masih mengisyaratkan perlunya pembenahan agar pasar lebih dalam dan efisien. Perkembangan tersebut sejalan dengan kondisi perekonomian nasional.
Mahendra menyebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan 30 Desember 2025 di level 8.646,94 atau menguat 22,13 persen sepanjang tahun. Namun, di tengah penguatan tersebut, masih terdapat ketimpangan pada kinerja indeks lain.
"Indeks LQ45, yang berisi saham-saham perusahaan terbesar dan menjadi rujukan bagi manajer investasi global maupun domestik, hanya tumbuh 2,41 persen, jauh di bawah kenaikan IHSG," kata Mahendra.

















